5 Lagu Patah Hati dan Penyembuh Terbaik, Pastikan Kamu Selesai dengan Segala Sakitmu!

Saat patah hati, kita cenderung mencari pembenaran, merasa tidak bersalah atas apa yang terjadi, dan menunjuk orang lain sebagai pemicu utama terjadinya semua itu. Kita tidak menyadari, bahwa ternyata kita sendiri justru yang bikin segalanya jadi keruh. Mengaku saja, jangan malu-malu. Manusiawi kok.

Larut dalam patah hati dengan segala kesedihannya adalah hal biasa, dan bahkan sudah seharusnya terjadi. Kalau sedang patah hati, coba dengarkan lagu buat menghayati patah hati itu. Supaya sakitnya makin parah, sampai ke titik nol. Selepas itu, semua akan kembali baik-baik saja.

Ada beberapa lagu yang berlama-lama saya dengarkan saat patah hati, sejak pertama kali merasakannya, di 2001 saat masih SMA, masih bau kencur. Hingga sekarang ini, sudah setidaknya enam kali saya patah hati. Tak semuanya berjalan dengan mudah hingga akhirnya bisa move on. Sebagian harus dihayati berbulan-bulan, sebagian lagi terlupakan begitu saja.

Shiver - Coldplay



"So I look in your direction, but you pay me no attention..."

Tahun itu adalah tahun di mana nama Coldplay mulai bergaung di Indonesia. Saya masih pakai seragam putih-abu, baru pertama kali tahu rasanya pacaran, dan shock saat harus patah hati. Merasa tidak dianggap walau sudah mati-matian mencari perhatian. Lucu, ya. Namanya juga bocah.

Unwell - Matchbox Twenty



"Stay awhile and maybe then you'll see a different side of me."

Patah hati kedua lumayan lama dan lebih pedih. Hampir lima tahun bersama, dan harus berakhir dengan tidak baik-baik saja. Kalut dan berpikiran pendek dalam mengambil segala keputusan, itu yang terjadi di tengah 2005. Lagu ini yang paling sering didengarkan untuk nenangin hati, sambil duduk jaga warnet.

Thinking About You - Radiohead



"Should I still love you, still see you in bed? But I'm playing with myself, and what do you care when I'm not there?"

Ini patah hati paling aneh yang pernah terjadi dalam hidup saya, bahkan sampai detik ini. Tak pernah ada ungkapan cinta, tapi rasanya nyaman tiap bersama. Tak pernah ada kata komitmen yang diikatkan, tapi pedih saat dia menggandeng tangan perempuan lain. Semuanya buram di circa 2005.

Pesan moral: Jangan pernah jatuh cinta pada sahabatmu!

Thank You - Alanis Morissette



"How 'bout me not blaming you for everything. How 'bout me enjoying the moment for once. How 'bout how good it feels to finally forgive you. How 'bout grieving it all one at a time."

Patah selanjutnya ada di sekitaran tahun 2010. Patah hati di mana untuk pertama kalinya saya belajar berdamai dengan diri sendiri. Tak ingin egois hanya menyalahkan dia, tapi saya mulai belajar berkaca, mencari kesalahan yang juga pasti ada dalam diri sendiri. Patah hati selanjutnya setelah titik ini, saya makin kuat.

Lisztomania - Phoenix



Tak ada lirik yang bisa digarisbawahi dalam lagu ini. Patah hati kali ini menyisakan rasa-rasa tanpa duka. Kami berpisah dengan sangat baik-baik saja. Kami masih saling bertukat kabar, sampai akhirnya saya menikah, dan dia pun memilih menghilang, untuk menghormati status baru saya. Dari dia pula saya belajar menyikapi banyak hal dengan positif.

Setelah masa Lisztomania, dan sebelum saya menikah, ada patah hati paling pedih dalam hidup saya. Bukan, bukan karena hubungan kami harus kandas setelah semua harapan mulai dirancang jadi kenyataan. Pedih kali ini lebih karena kecewa, sedikit penyesalan kenapa saya harus kenal dia, dan tak ingin lagi dengar apapun tentang dia. Tak ada lagu patah hati untuk dia.

Lagi-lagi: Jangan pernah jatuh cinta pada sahabatmu!!

TAMAT.



Note: Lagu patah hati dan penyembuh buat saya ini tentunya bakal beda kalau ditafsirkan oleh orang lain. Mohon jangan dimarahin wahai para music justice warior.

Dewi Ratna

No comments:

Post a Comment