7 Pesan Moral dari Dunia Setengah Sihir Chilling Adventures of Sabrina

CREDIT: COURTESY OF NETFLIX
Serial Netflix belum pernah bikin kecewa. Apa kamu juga punya pendapat sama? Baru-baru ini khalayak 'pemuja' Netflix diajak merayakan Halloween dengan suguhan serial horor Chilling Adventures of Sabrina. Saya termasuk salah satu yang ikut masuk dalam 'pesta' ini. Apa kamu juga? Kalau tidak, ada baiknya berhenti dulu membaca tulisan ini, dan selesaikan 10 episode dari season pertamanya. Baru setelah itu kembali ke sini lagi.

Nah, buat kamu yang sudah larut dalam 'pesta' Halloween bareng Netflix dengan Chilling Adventures of Sabrina yang mereka rilis 26 Oktober lalu, silakan lanjut membaca. Sebagai sedikit pengantar, in case kamu belum tahu, serial televisi ini terinspirasi dari komik dengan judul sama, yang terinspirasi dari karakter dan setting dari serial televisi lawas, Sabrina the Teenage Witch. Sounds familiar? Mungkin kita seumuran.

Done for the bla bla bla, langsung saja di sini saya akan ajak kamu untuk mengingat-ingat, pesan moral apa saja yang bisa kita petik dari serial Chilling Adventures of Sabrina yang dibintangi oleh aktris muda Kiernan Shipka sebagai Sabrina Spellman ini. Episode pertama tak berpengaruh terlalu jauh dalam pikiran saya, entah kalau kamu. Episode kedua dan seterusnya, pesan-pesan kecil dimulai. Diawali dari scene Susie di-bully.

Bangkit Melawan atau Tunduk Ditindas

www.foxnews.com

Meminjam quote perlawanan dari Ir. Soekarno (please jangan bully saya kalau kamu aktivis kiri garis keras, karena saya hanya meminjam kalimat penyemangat ini), ada baiknya kita tak boleh menerima dan diam saja saat hal jahat dilakukan pada kita. Jika tak bisa melawan, setidaknya kita bisa mengadukannya pada orang yang sekiranya berpotensi untuk bisa mengatasi hal ini. Seperti Sabrina yang akhirnya menghukum geng bully di sekolahnya, agar tak lagi mengganggu para perempuan.

Kebebasan Layak Diperjuangkan


Lagi-lagi terdengar seperti geng perlawanan, tapi kebebasan memang selayaknya diperjuangkan. Jika kita merasa benar, jangan sampai kita tunduk dan patuh pada hal-hal yang sudah jelas salah. Seperti Sabrina yang memilih untuk menolak membubuhkan namanya dalam Book of the Beast, yang akan mengikat dia dalam pengabdian abadi pada Dark Lord. Namun kita musti ingat, apa yang salah di mata kita, belum tentu adalah kesalahan di mata orang lain.

Konsekuensi Sebuah Ambisi

geektyrant.com

Episode empat dan lima mengajak kita untuk belajar menekan ambisi. Jangan terlalu serakah ingin menguasai banyak hal, harta benda, termasuk ilmu. Seperti halnya Sabrina yang tak puas dengan pelajaran dasar di The Academy of Unseen Arts, dan ingin segera belajar mantra sihir yang lebih besar. Dia harus menanggung akibat dari ambisinya. Untung saja dia masih punya orang-orang yang sayang dan bisa dipercaya, yang membantunya keluar dari masalah dengan Batibat si setan tidur.

Waspada! Sosok Insecure Bisa Hancurkan Kita


Bukan hanya ambisi yang bisa bikin kita hancur, tapi orang di sekitar kita, yang merasa insecure, iri hati, atau cemburu, bisa saja jadi sosok yang menggiring kita pada kehancuran. Itulah yang dilakukan Lady Blackwood yang cemburu pada Prudence, anak haram dari Father Blackwood yang dianggap mengancam posisi bayi yang dikandungnya di hati sang ayah. Sementara Prudence terlena dengan kejayaannya terpilih sebagai Queen of the Feast, dia tak tahu kalau itu semua adalah rencana jahat Lady.

Bahaya Cinta Buta

Photo: Diyah Pera/Netflix

Sabrina yang setengah penyihir, rela melakukan apa saja demi membuat Harvey, kekasihnya yang manusia itu senang dan bahagia. Cintanya yang terlampau besar akhirnya membutakan, dan membuatnya melakukan segala cara supaya kekasihnya tak sedih atau sakit. Sayangnya, Sabrina justru kehilangan kekasihnya itu karena keputusan dan apa yang dilakukannya untuk menolong cowok itu ternyata berbuah petaka. Mereka pun tak bisa mengelak dari perpisahan yang membuat Sabrina sakit itu.

Keluarga Sebagai Tempat Pulang

Photo: Netflix

Seperti apapun buruknya hal-hal yang telah kamu lakukan, seberapa jauh kamu telah melangkah meninggalkan rumah, keluarga tetaplah tempat pulang. Pelukan paling hangat saat kamu kedingingan, sementara tak lagi ada teman-temanmu yang bisa memberikan itu. Seperti Sabrina setelah melewati hari-harinya yang berat. Teman-temannya yang mulai curiga bahwa dia adalah penyihir, mantan kekasihnya yang tak lagi mau diajak bicara, semua berat. Namun Bibi Zelda, yang selalu dia tentang, memberikan pelukannya yang paling tulus saat dia menangis patah hati.

Takdir Akan Tetap Menjadi Takdir


Ketika kamu sudah digariskan untuk berjalan ke satu titik, suka atau tak suka, mau atau tak mau, kamu akan tetap sampai pada titik itu. Seberapa keras usahamu untuk mengubah takdir, membelokkannya ke jalan yang menurutmu tidak menuju ke sana, tapi pada akhirnya itu semua hanya akan menjadi penunda, tak akan pernah bisa menggagalkan. Seperti Sabrina yang memang sudah ditakdirkan untuk membubuhkan namanya dalam Book of the Beast. Sekuat dia melawan, sekuat itu pula semesta menggiringnya menuju titik itu.

Well, tulisan ini murni opini dari saya secara pribadi. Jika kamu merasa atau memikirkan hal yang sama, itu hal yang biasa. Jika kamu tak setuju, tak jadi masalah. Seperti yang sudah saya tulis di atas, apa yang salah di mata kita, belum tentu adalah kesalahan di mata orang lain. Sebaliknya, apa yang menurut kita benar, belum tentu jadi kebenaran bagi orang lain. Kalau kamu punya pendapat lain, atau mungkin menemukan pesan moral yang lebih berfaedah dari sesuatu yang hanya sekedar film ini, yuk bagi di kolom komentar.

Dewi Ratna

No comments:

Post a Comment