Bohemian Rhapsody the Movie dari Kacamata Saya yang Bukan Penggemar Queen

Photo Credit: Nick Delaney - © 2017 Twentieth Century Fox Film Corporation
Entah bagi para penggemar Queen garis keras, tapi untuk orang awam seperti saya, Bohemian Rhapsody sungguh megah dan sukses sebagai sebuah biopic. Seperti yang kita semua tahu, biopic atau film biografi bukanlah sebuah dokumenter kehidupan tokoh yang detailnya sama persis seperti aslinya. Biopic identik dengan dramatisir, dan kita harus menerima itu dengan lapang dada, Queen memang penuh drama dalam film ini.

Aulia Adam dalam tulisannya, Bohemian Rhapsody: Film Tentang Rami Malek, Bukan Freddie Mercury, untuk Tirto.id sudah mengupas hampir tuntas hoax apa saja yang ada dalam film yang mengisahkan kehidupan Freddie Mercury berasama band legendarisnya, Queen. Tulisannya jelas berbobot, terasa sangat menjiwai, dan pasti telah melewati berbagai riset, layaknya sebagian besar karya tulis di portal media yang satu ini.

"Maka, jika generasi ini—terutama mereka yang Milenial ujung atau Generasi Z—ingin lebih mengenal Freddie sebagai ikon dan legenda musik, film Bohemian Rhapsody bukan tempatnya. Kita tak akan kenal Freddie yang sebenarnya dari film itu," pesannya untuk para pembaca, dan saya memilih untuk setuju, karena saya bukan penggemar Queen, apalagi sampai mempelajari sejarah band yang hits di era bapak saya tumbuh remaja ini.

Maka di sini, saya akan mencoba mengupas walau tidak tuntas, Bohemian Rhapsody dari sisi perannya sebagai sebuah film biopic. Dimulai dari di mana film ini dibuka. Backstage sebuah konser megah pada masanya, Live Aid yang digelar pertengahan tahun 1985. Sekilas info, usia saya masih baru hampir setahun saat itu. Bob Geldof dan Midge Ure mengorganisir event ini untuk menggalang dana bagi korban kelaparan di Ethiopia.

Tak ada wajah Rami Malek sebagai Freddie Mercury, ataupun pemeran tokoh personil Queen lainnya dalam pembukaan film ini. Penonton hanya dibikin merinding merasakan aura konser legendaris tersebut. Kamera mengikuti Freddie dari belakang, berjalan menuju panggung, lalu penonton dilempar 15 tahun ke belakang, masa di mana pria yang terlahir dengan nama Farrokh Bulsara ini masih bekerja di Bandara Heathrow,

Hangatnya hubungan dengan sang ibu, disambung kemudian dengan scene bagaimana dia dan sang ayah saling bertentangan, menjadi awal perkenalan penonton dengan keluarga Bulsara. Adik Freddie, Kashmira juga ada dalam scene ini. Mereka sudah tinggal di London kala itu, di mana Freddie memulai usia 18-nya. Suasana canggung dalam scene ini menggiring penonton berasumsi bahwa Freddie tak akur dengan ayahnya. Wait till the end of movie!

© www.imdb.com

Saya tak akan menceritakan detail film ini, hanya yang pasti, dalam hal teknis, semua sangat memuaskan untuk saya pribadi. Warna yang hangat dan sangat 70-an, segala perabot, kendaraan, perlengkapan, hingga fashion style, juga setting tempat, semuanya membawa kita ke masa itu. Tak ada kejanggalan di sepanjang film, yang biasanya saya cukup jeli melihat itu. Entah kalau kali ini saya dibutakan kemegahan atau dialihkan perhatian pada dramatisir dalam tiap scene-nya.

Mungkin para penggemar Queen garis keras bakal bilang kalau film ini memang cocok buat ditonton cewek memye macam saya. Bukan seperti itu. Kamu hanya perlu menanggalkan ekspektasi, dan punya niat datang ke bioskop untuk menonton film, bukan video dokumentasi. Terlepas dari cerita-cerita hoax yang ada di dalamnya, semangat Freddie yang dikisahkan dalam film ini sungguh mengharukan dan bisa saja jadi motivasi buat mereka yang sudah tahu kalau hidupnya tak akan lama lagi.

© www.imdb.com
Kembali ke scene pembuka, film berdurasi 2 jam 14 menit ini ditutup dengan rangkaian penampilan Queen dalam event Live Aid. Konser 22 menit tersebut diduplikasi hampir sama persis, bahkan posisi gelas-gelas di atas piano yang dimainkan Freddie. Berkostum singlet dan spike bracelet yang diikatkan di lengan kanan, Rami Malek memerankan penampilan Freddie di atas panggung itu dengan amat sangat baik sekali.

Akhir kata, salut untuk Bryan Singer, sang sutradara yang lekat dengan berseri-seri X-Men sejak 2000-an. Juga terima kasih buat Anthony McCarten dan Peter Morgan sebagai penulis kisah dramatis yang menguras emosi ini. Saya sebagai awam yang bukan penggemar Queen, tapi penggemar film drama, angkat topi dan dengan senang hati memberi 4 dari 5 lima bintang untuk Bohemian Rhapsody.

Buat yang belum memutuskan untuk menonton, segerakan, karena sound film ini layak dibayar dengan tiket bioskop yang punya Dolby 7.0. Jangan lupa bawa tisu, siapa tahu matanya tak bisa menahan genangan air yang ingin tumpah. Hehehehe...

Dewi Ratna

No comments:

Post a Comment