Serunya WMM Expo 2018 di Kota Malang, Tandingkan 67 Wirausahawan Muda Mandiri

Melewati satu dasawarsa, di tahun ke-11 ini Wirausaha Muda Mandiri 2018 (WMM 2018) kembali menggelar expo yang mengusung berbagai bidang usaha dari 67 finalisnya. Setelah tahun lalu sukses di Bogor, dimulai dari Kamis (6/9) hingga Minggu (9/9) nanti, WMM Expo 2018 digelar di kota Malang, tepatnya di atrium dan lantai tiga dari Mal Olympic Garden. Kebetulan saya berkesempatan untuk hadir dan ngobrol langsung dengan para finalis di sana.

Ada 7 bidang usaha yang dikompetisikan kali ini, antara lain Wirausaha Industri, Perdagangan, dan Jasa dengan 10 finalis, Wirausaha Kreatif dengan 10 finalis, Wirausaha Teknologi Non Digital dengan 10 finalis, Wirausaha Teknologi Digital dengan 10 finalis, Wirausaha Digital Financial Technology dengan 8 finalis, Wirausaha Sosial dengan 10 finalis, dan Wirausaha Boga dengan 10 finalis.

Beberapa di antaranya, yang menarik perhatian saya, ada lapak di deretan Wirausaha Industri, Perdagangan, dan Jasa milik Golden Berry, finalis dari Bandung, yang membudidayakan tumbuhan Ciplukan, serta mengolahnya menjadi buah kering semacam kismis, dan juga  mengeringkandaunnya menjadi teh. Jika belum tahu apa itu Ciplukan, silakan googling, lihat bentuknya, dan baca manfaatnya yang memang baik untuk kesehatan.




Selain itu, ada pula Sepiak Belitong, finalis dari Palembang yang masuk dalam deretan Wirausaha Kreatif. Selain punya produk batik cap, yang bikin saya tertarik adalah teknik ecoprint, dengan bahan utama daun yang ditempel-tempel pada kain yang kemudian digulung. Setelah melalui proses pengukusan, motif dan warna daun pun akan menempel pada kain.




Masih dari deretan Wirausaha Kreatif, saya juga sempat berhenti lama dan ngobrol banyak di lapak Cilota Bali. Sesuai namanya, finalis yang satu ini berasal dari Bali. Mereka menawarkan produk kerajinan tangan dari daun lontar, dengan berbagai model unik dan sangat kreatif, cocok untuk hadiah. Hampir semua bahan yang dipakai merupakan limbah bersih, seperti cakram CD bekas, kardus, juga kain perca.


Bergeser ke deretan Wirausaha Teknologi Digital, saya tertarik pada lapak OTEBE Smart, penerbit yang merilis Digi Book. Istimewanya, Digi Book ini bisa dibaca dengan paduan aplikasi di smartphone. Jadi, gambar dalam buku bisa bergerak-gerak saat disorot kamera. Dengan Digi Book ini, belajar bakal jadi menarik dan seru bagi anak-anak.


Dari deretan Wirausaha Teknologi Non Digital memang tak ada yang bikin saya tertarik, tapi semua produk mereka super kece, inovatif, dan sangat bermanfaat. So, langsung geser ke Wirausaha Digital Financial Technology, saya berhenti di lapak Zendmoney, aplikasi smartphone yang memudahkan transfer mata uang asing, serta memprosesnya lebih cepat dan aman. Mereka punya misi untuk membantu kesejahteraan keluarga para TKI.


Setelah puas berkeliling di atrium, saya lalu lari ke lantai tiga. Masih ada 20 finalis di sana, 10 dari deretan Wirausaha Boga yang semuanya menarik, termasuk lapak kembang gula bentuk boneka-boneka lucu. Sedangkan 10 lainnya dari deretan Wirausaha Sosial yang bikin saya berhenti lebih lama di lapak Rumah UPPO penghasil pupuk organik, dan di lapak Beras Sere yang berhasil memantik rasa penasaran saya, hingga akhirnya membelinya.




Well, dari tujuh bidang usaha tersebut, masing-masing dibagi jadi dua kategori, mahasiswa dan non mahasiswa. Akan dipilih juara 1 dan 2 dari tiap bidang usaha, lewat penjurian secara tertutup pada Rabu (12/9) minggu depan. Sedangkan pengumuman dan penyerahan awards akan digelar pada Sabtu (15/9) di gedung Samantha Krida Universitas Brawijaya, Malang.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang pesertanya membeludak hingga 5000 unit usaha, WMM kali ini hanya menyeleksi 800 lebih peserta yang didaftarkan dengan referensi dari kampus, atau rekomendasi lainnya. Dari jumlah tersebut, dinilai dan dikerucutkan lagi jadi sekitar 240 peserta, hingga kini ada 68 finalis yang ikut dalam WMM Expo 2018 di kota Malang.

Total, lebih dari 36 ribu wirausaha muda dari 656 perguruan tinggi di seluruh Indonesia tercatat menjadi bagian dari komunitas Wirausaha Muda Mandiri yang telah digelar sejak 2007. Mereka termasuk para juara, finalis, maupun peserta dengan berbagai bidang usaha yang tentunya kreatif dan inovatif, serta bernuansa milenial.

WMM sendiri pertama kali digelar oleh Bank Mandiri pada 2007. Hingga kini sudah ditelurkan banyak pemenang yang usahanya pun semakin maju. Dari kota Malang sendiri, ada Kebab Turki Baba Rafi yang jadi pemenang WMM 2007, ada juga Cokelat Klasik yang jadi pemenang WMM 2015, bahkan hingga tahun 2017 lalu ada Gedhang Ganteng yang juga menyabet kursi pemenang. Sayangnya, tahun ini tak ada finalis dari kota tuan rumah.

Hadiah uang tunai menanti di depan mata. Proyek-proyek besar pun bisa saja jatuh ke tangan mereka. Siapa kira-kira yang bakal jadi pemenang kompetisi dan finalis favorit pilihan masyarakat untuk tahun ini? Tunggu kabar selanjutnya!

Dewi Ratna

1 comment:

  1. Aku kok penasaran ya sama teh ciplukan. Pas ke sana stand ini terlewat dari pandanganku��

    ReplyDelete