Siapkan Tissue! Darah Biru Arema 2, Mainkan Perasaan Penonton Tanpa Ampun

​Film panjang lokal Malang pertama yang (cita-citanya) bakal masuk seluruh bioskop di Indonesia! Pertama-tama, saya ingin mengucapkan selamat buat semua kru dan siapapun yang mendukung terwujudnya Darah Biru Arema 2 dengan tajuk Satu Jiwa Untuk Indonesia ini. Hanya nol koma nol nol sekian persen saja saya sempat bergabung dengan kalian, dan tahu betul bagaimana perjuangan sepanjang hanya 14 hari itu. Bergelut dengan panas matahari yang menyengat, tapi tak ada yang patah semangat.

Menonton filmnya di bioskop, Kamis (21/6) malam kemarin emosi saya seolah dikuras, perasaan pun dipermainkan. Baru mengalir air mata di pipi, sudah dipaksa untuk tertawa oleh scene-scene kocak dengan banyolan khas arek Malang. Beberapa kali dibikin merinding, karena tiga cerita di dalamnya sungguh terasa sangat nyata, dekat dengan kehidupan sehari-hari sebagai supporter bola. Kisah anak-anak fanatik pendukung klub kota mereka, hingga problematika kehidupan orang-orang dewasa di rantau.

Kisah Pacho Rubio, bocah SMP yang jadi tokoh utama dalam film Darah Biru Arema pertama, menjadi pengantar, menggiring para penontonnya ingat kembali cerita haru dan lucu dari film yang rilis 2014 itu. Scene-scene serupa yang memicu tawa keras di dalam studio malam kemarin, bisa dipastikan mereka sudah menonton film lahirnya Pacho, hingga bagaimana akhirnya dia untuk pertama kalinya menonton pertandingan langsung di stadion. Dalam DBA 2, kisah Pacho dan teman-teman serta pujaan hatinya mungkin memang sengaja dibuat tidak sesentimental film sebelumnya.

Bisa dibilang, cerita Pacho di DBA 2 ini hanya benang merah, agar masih terkait dengan film pertamanya, meski ada pula pesan moral dan semangat yang bisa didapat dari kisah ini. Well, bagi saya pribadi, fokus penting DBA 2 ini justru ada di dua kisah lainnya. Sari dengan konflik batin dan keinginannya mewujudkan cita-cita sang kakak, serta pasangan Rohman dan Anna di perantauan. Bukan, ini bukan omnibus. Meski naskah ditulis oleh sosok-sosok hebat yang berbeda-beda, namun semuanya disutradarai oleh Mas Taufan Agustiyan Prakoso.

Overall, saya pribadi cukup puas dengan tiga cerita yang diusung. Penyajiannya pun patut diacungi jempol. Bagaimana detail gambar-gambar diambil, insert yang tampaknya sederhana tapi sangat ngena, serta lokasi-lokasi yang bikin makin dramatis. Untuk sekelas film lokal yang digarap muda-mudi lokal juga, semuanya sangat patut diacungi jempol. Salah satu alasan kenapa saya menitikkan air mata di akhir cerita, selain karena kisahnya memang mengharukan, juga karena saya kembali ingat perjuangan para kru sepanjang setahun kemarin.

Hal-hal yang mengganjal mungkin berupa kejanggalan-kejanggalan di beberapa scene, yang akhirnya pun bisa dimaklumi, setidaknya oleh saya sendiri. Tone warna yang nggak konsisten, juga akhirnya bisa diterima, (lagi-lagi) setidaknya oleh saya sendiri. Audio latar yang berlebihan di beberapa scene juga bukan jadi masalah, setidaknya bagi saya sendiri. Hanya typo dan terjemahan subtitles yang kurang tepat yang paling mengganjal buat saya sendiri. Well, jika memang cita-cita DBA 2 ini go national dan international (rencananya ke beberapa negara dekat), semua poin mengganjal tersebut tentu harus diusahakan diselesaikan terlebih dahulu.

Sekali lagi selamat buat para kru dan semua yang mendukung terwujudnya Darah Biru Arema 2 ini. Sementara itu, pesan buat teman-teman, terutama para Aremania yang pernah atau masih mendukung Arema, kalian wajib banget nonton film ini. Niscaya, kalian akan merasakan bulu kuduk yang berdiri ketika menuju scene terakhir. Last, salam satu jiwa!

Dewi Ratna

No comments:

Post a Comment