Menunaikan Tanggung Jawab, Mendengar Tuntas Album Baru Weezer: Pacific Daydream

Seperti sebelum-sebelumnya, setiap band yang satu ini rilis album baru, saya selalu kena colek kakak-kakak pengamat musik junjungan kaum muda di sana-sini. Musti saya ulang, meskipun Weezer memulai karirnya di tahun 1992, dan merilis album pertama mereka di usia saya yang ke-10, tapi saya baru kenal mereka di tahun 2002. Kalau dihitung dari awal mereka terbentuk, saya tergolong terlambat tahu. Lain lagi kalau dihitung dari jumlah album yang sudah mereka rilis di satu dasawarsa usia mereka, saya termasuk beruntung karena mereka baru merilis empat paket kala itu. Bagusnya, Weezer lumayan rajin bikin karya, dan hingga detik ini mereka sudah punya 11 album resmi, belum termasuk karya-karya iseng mereka.

Baiklah, menunaikan 'kewajiban' saya sebagai bocah poser yang ikut-ikutan suka band ini biar hits, maka beri saya waktu untuk mendengarkan dengan seksama album terbaru mereka di 2017, 'Pacific Daydream'. Terakhir kali saya bikin review tentang musik mereka, tepat di bulan November 2015. Been two years setalah saya mengulik lagu 'Do You Wanna Get High' yang saya anggap sebagai pelampiasan puber kedua band yang digerakkan oleh sekumpulan om-om, Rivers Cuomo, Patrick Wilson, Brian Bell, serta Scott Shriner ini. Sebelum benar-benar menikmati satu album penuh sebanyak tiga kali berturut-turut, saya sempatkan nguping ulang tiga album terakhir mereka. Kemudian, saya jadi bingung mau nulis apa.

Kalo boleh dibilang, Weezer ini tumbuh beriringan bersama kita, menjadi kids zaman now yang juga mengikuti perkembangan apapun, termasuk teknologi. Pun sama seperti kita, mereka juga sempat merindu masa liar dan bebas, masa kejayaan seperti yang selalu dibangga-banggakan mereka yang mengaku generasi 90-an. Bahkan dalam lagu 'Back To The Shack' 2014 lalu, IMO, Weezer secara lugas mengungkapkan perasaan mereka lewat lirik, "Take me back, back to the shack. Back to the strat with the lightning strap. Kick in the door, more hardcore. Rockin out like it's '94. Let's turn up the radio. Turn off those stupid singing shows. I know where we need to go. Back to the shack!"

Well, kejayaan masa lalu memang laku dijual di masa sekarang. Rupanya, mereka juga membaca pasar dengan baik. Haha! Alhasil, kalau kamu dengarkan, album 'Everything Will Be Alright In The End' kala itu, terasa sekali nuansa dua dekade ke belakang, saat mereka dengan bangga merilis 'Pinkerton', yang hingga detik ini, bagi saja pribadi, masih menjadi yang terbaik yang pernah diberikan Weezer pada para penggemarnya. So, seperti tiga album sebelumnya, 'Pacific Daydream' pun terasa biasa saja. Mungkin kalau kamu baru-baru saja jadi penggemar atau sekedar pendengar Weezer, lebih baik langsung saja mulai dari 'Green Album' yang rilis 2001. Tenang! Tak ada karya Weezer yang tak layak didengar kok.

'Pacific Daydream' mungkin bikin kecewa para penggemar mereka, tapi tidak demikian untuk saya secara pribadi. Sejak Weezer merilis single 'Feels Like Summer' pada 13 Maret 2017 lalu, saya sudah bersiap diri, terutama telinga dan hati, untuk musik-musik dengan sentuhan masa kini dalam kemasan yang saya pikir bakal bernama 'Black Album' nantinya. Yap! Kalau kamu masih ingat, setelah sukses merebut perhatian publik dan mendapat penghargaan Best Rock Album di Grammy 2017 lewat 'White Album', mereka sempat menyebut-nyebut soal 'Black Album', yang pada akhirnya kini kita tahu kalau mereka bukan merilis album dengan judul tersebut di 2017 ini. Mungkin tahun depan? Kita tunggu saja.

Benar saja, seperti kata Rivers Cuomo sendiri, album terbaru mereka ini: totally different but incredibly amazing. Weezer mengumumkan judul album 'Pasific Daydream' bersamaan dengan rilisnya single Mexican Fender pada Agustus 2017 lalu. Untuk single yang satu ini, kamu masih akan merasakan nuansa Weezer zaman old yang diberi sentuhan kekinian. Ngomong-ngomong soal sentuhan kekinian, harus kita akui, fans Weezer beregenerasi. Mereka tak hanya digemari bocah-bocah seumuran kita, saya dan kamu, atau kakak-kakak kita yang tumbuh dan beranjak remaja di era 90-an. Harus diakui, memberi sentuhan musik moderen dalam lagu-lagu baru mereka, di era Spotify ini, memang keputusan tepat.

Mereka bahkan mendaulat Butch Walker jadi produser album Pacific Daydream. Kalau kamu belum tahu, Butch Walker merupakan recording artist, songwriter, dan produser rekaman yang pernah bikin cover lagu Taylor Swift, 'You Belong With Me', yang kemudian menggiringnya ke panggung Gramy Awards. Dia juga berkolaborasi dengan Pink dalam lagu 'Here Comed The...'. Tentu saja dia mempelajari pasar zaman now, sehingga tahu harus memberi polesan seperti apa dalam karyanya. Bersama Weezer, pria yang bertetangga dengan Rivers Cuomo ini juga pernah jadi co-producer album 'Raditude', serta punya andil dalam penulisan lagu '(If You're Wondering If I Want You To) I Want You To' dan 'The Girl Got Hot'.

Dalam album yang dirilis 27 Oktober 2017 lalu ini, 'Mexican Fender' jadi lagu pembuka. Judul yang catchy bukan? Para gitaris biasa memakai frasa ini untuk menyebut gitar Fender dengan rentang harga menengah -yang lebih bagus daripada Squier tapi tidak sebaik bikinan Amerika-, yang jadi nyawa dalam lagu-lagu semacam 'In The Garage'. Disebut oleh Spin dalam review mereka, 'Mexican Fender' lebih terdengar seperti Def Leppard ketimbang sebuah band yang dimotori oleh sekelompok kutu buku yang suka mengobrol. Apa kamu juga setuju?

Track kedua, 'Beach Boys'. Apa kamu juga bisa merasakan sedikit sentuhan hip hop dalam lagu ini, hanya sedikit saja? Dari sepenggal liriknya, mungkin kamu juga bakal langsung membayangkan sosok anak pantai dan segala seluk beluknya, "Turn it up, it's the Beach Boys. Singing out in a sweet voice, on a roll like a twist toy. Keep cranking them Beach Boys." Lagu inilah yang rumornya menjadi pemicu keputusan Weezer untuk mengganti judul album mereka yang tadinya 'Black Album', menjadi 'Pacific Daydream'.

Lagu berikutnya pun bikin kita mengaminkan kalau judul album yang dipilih kali ini memang tepat, 'Feels Like Summer'. Mereka memadukan nuansa stadium rock dengan unsur electronic dance dalam musiknya. Weezer membangun lagu ini dalam balutan riff keyboard yang ceria namun anggun, serta sebuah part mini-drop yang mengantarkan pendengar menuju chorus, yang terasa sedikit beraroma trap music. Hi-hats bergerak cepat di mana-mana, dan suara-suara backing vocal yang juga terdengar sangat elektronik.

Selanjutnya, kamu bakal dibawa semakin menuju zaman now lewat lagu 'Happy Hour'. Malahan, saya secara pribadi merasakan seperti ada Atlesta menyusup ke bagian depan dari lagu ini. Jangan protes! Ini murni opini pribadi. Capek mau menjabarkan panjang lebar, langsung saja lanjut ke track berikutnya, 'Weekend Woman'. Sedikit nuansa reggae dalam riff gitar yang mereka rangkai di bagian intro. Weezer juga mengemas lagu yang satu ini dengan sentuhan-sentuhan musik moderen. Fixed, kalau kamu termasuk orang-orang susah move on, lebih baik jauhi album ini untuk menghindari rasa kecewa dan ingin menggerutu.

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak! 'QB Blitz' terdengar 'sangat Weezer', tapi tetap saja terselip suara-suara yang tak biasa ada dalam musik mereka. Kali ini kamu bisa mendengar glockenspiel di banyak part dalam lagu tersebut. 'Sweet Mary' menyusul di track ketujuh. Masih dengan nada-nada khas Weezer, lagu ini langsung bikin saya jatuh cinta pada pendengaran pertama. Beberapa melodi gitar yang ear catchy, bikin lagu ini terdengar manis. Next, setelah calm down di beberapa lagu, 'Get Right' kembali mengajak sedikit bergoyang dengan sentuhan disko tipis-tipis.

'La Mancha Screwjob' diawali dengan intro yang adem, suara jangkrik. Overall, cukup ramah di telinga. Dan selanjutnya, yang jadi penghujung, 'Any Friend of Diane’s' yang juga diberi sedikit, sangat sedikit, nuansa hip hop. Tak terlalu banyak sentuhan instrumen kekinian, part melodi gitarnya justru terdengar seperti musik akustik. Suara glockenspiel yang manis, jadi penutup yang sempurna untuk album 'Pacific Daydream' ini secara keseluruhan. Tunai sudah tanggung jawab saya untuk menyimak album yang memang berbeda dari karya Weezer sebelum-sebelumnya. Tak ada yang terlalu istimewa di dalam sini, so saya beri 7 saja dari 10.

Dewi Ratna

No comments:

Post a Comment