Nikah Itu Bukan Sulap atau Sihir, Perhatikan 5 Hal Ini!

Menghabiskan hari pertama di bulan Mei dengan memanjakan diri, bersantai di rumah, tak buru-buru turun gunung untuk cari wifi, dan punya kesempatan panjang buat ngobrol sama mbah uti. Terjadilah pembahasan random yang tiba-tiba saja jadi serius, tentang pernikahan. Karenanya, pagi tadi saya sempat singgung juga di akun Instagram dan Twitter.

In that moment, saat saya menjawab pertanyaan dari Lila, sama sekali belum terlintas pikiran bahwa saya bakal dapat kerja tahun ini. Beberapa tawaran yang masuk, atau kalaupun saya yang memasukkan curriculum vitae, semua berstatus freelance. Ya, sejak resign dari KLN, keinginan saya untuk membebaskan diri, hati, dan pikiran memang cukup besar. Tapi mungkin dua tahun ini waktu yang sudah cukup untuk saya mendaki gunung dan turun ke laut. Karenanya, saya siap jika memang dapat kerja full time setelah ini.

Saya pacaran, dan saat yang lain pada bilang 'selamat, akhirnya Banana mau pacaran' dan 'semoga langgeng ya', cewe yang satu ini paling beda sendiri. Dia malah kasih saya peringatan: Ojok mlayu maneh lho engkuk nek dijak rabi, mbak! Sesingkat itu, tapi bikin saya sempat mikir panjang di awal hubungan saya dan si mas. Iya, diajak nikah, bagi saya emang jadi lebih serem ketimbang ketemu begal di bilangan Buring kala itu. Dalam hati, saya berharap semoga jika suatu saat terjadi lagi (diajak nikah), saya nggak lari lagi. Tentu saja hidup nggak semulus pantat bayi, pun nggak melulu seindah belahan dada Ariel Tatum. Lika dan liku, tawa dan air mata, marah dan bahagia, semua pernah menyusup dalam perjalanan saya dan si mas. Banyak hal yang sudah terjadi, dan jadi pertimbangan buat melangkah maju. Singkat cerita, beberapa waktu lalu saya menghabiskan malam, membunuh jenuh, dengan bercanda dan berghibah di rumah cewe ini. Kami berbagi banyak cerita, ringan dan berat, pun tentang pekerjaan dan kehidupan asmara. Dan dengan entengnya, sebuah kalimat tanya terlontar dari mulutnya: Jadi, kapan mbak siap diajak nikah? Dan secara impulsif, dengan enteng pula saya menjawab: Kalau tahun ini dapat kerja. Harah! 😐 Well, selamat hari buruh bagi mereka yang merayakannya. Sampai jumpa esok di meja kerja.
A post shared by Dewi Ratna (@dewinthemorning) on
Kembali ke soal pernikahan. Karena saya sudah dengan impulsif dan sangat lantang bilang bahwa saya akan siap kalau ada yang mengajak nikah setelah saya dapat kerjaan, jadi saya mulai kepikiran. Kali ini pikiran tentu saja jernih, dan analisa tentu dilakukan lebih mendalam. Mengingat mbah uti juga semakin sering bilang 'apa uti masih bisa lihat kamu nikah ya?', maka saya merasa perlu menyampaikan alasan yang tepat mengapa menikah itu tak semudah membalikkan telapak tangan.
Well, mungkin ada di antara kamu yang baca ini, yang sudah punya pengalaman menikah. Ada juga pasti yang sedang merancang pernikahan. Atau mungkin bahkan ada yang masih memperlajari dari lingkungan sekitar, seperti apa sih pernikahan itu. Di sini, saya mau coba kasih beberapa gambaran bahwa benar adanya bahwa menikah itu bukan sulap, bukan sihir.

1. Dua menjadi satu
Akan lebih banyak hal yang harus diputuskan dan dilakukan bersama. Terkadang, akan ada dua gagasan yang bisa jadi bakal bertolak belakang. Itulah kenapa kamu harus lebih dalam dulu mengenal pasanganmu. Bukan, bukan untuk melihat apa kalian cocok atau tidak dan lalu bubar setelah merasa tak lagi nyaman, tapi untuk mempelajari bagaimana cara mengatasi perbedaan yang bakal sering ada. Atau jika sanggup, sepanjang hubungan sebelum pernikahan itu bisa jadi momenmu untuk mengasah kesabaran dan belajar lebih mengalah.

2. Milik bersama
Akan ada beberapa hal yang pada akhirnya jadi milik bersama. Bukan soal materi, tapi ini adalah tentang menyatukan dua keluarga yang tadinya tak saling kenal. Mungkin memang setelah menikah kamu bisa saja tidak tinggal bareng orang tua, tapi tetap saja kamu harus berkenalan lebih dekat dengan keluarga dia, begitu pula sebaliknya. Alangkah lebih baik jika pada akhirnya antara keluarga masing-masing itu juga jadi kenal lebih dekat.

3. Tak ada marahan yang berujung putus
Saat masih masa pacaran, kamu mungkin bisa dengan mudahnya ngambek dan minta putus hanya karena dia terlambat menjemputmu di kantor selama satu jam. Setelah menikah, akan sangat rugi jika kamu berlarut-larut marah karena hal-hal seperti itu. Selain bikin lelah hati dan pikiran, tak akan ada yang bisa diulang pun jika kamu marah-marah. Dalam pernikahan, kamu akan dituntut lebih sabar, karena keputusan tak bisa lagi diambil seenak jidat dalam hitungan detik. So, seperti yang saya bilang tadi, pakailan momen sebelum menikah untuk belajar lebih sabar dan mengalah.

4. Kebiasaan yang tak lagi hidden
Meski setiap hari kamu ada bersama dia, belum tentu kamu sudah tahu detil apa saja kebiasaan pasanganmu, kecuali jika kamu memang sudah tinggal bareng. Tapi saya yakin, di Indonesia ini sebagian besar orang masih merasa tabu tinggal bareng jika belum ada status. Nah, di waktu-waktu yang kamu tak pernah bersamanya, tentu kamu tak tahu seperti apa kebiasaannya. Kamu tak bisa memastikan apa dia tidur mendengkur dan bikin kamu tak bisa memejamkan mata sampai pagi atau tidak. Kamu juga tak tahu hal apa yang selalu dia lakukan begitu membuka mata. Nah, saat memutuskan untuk menikah, pastikan kamu bakal lapang dada, bisa menerima kebiasaan-kebiasaannya yang selama ini masih hidden.

5. Bereskan dulu masalah di luaran
Ini jadi hal yang paling penting (bagi saya sendiri terutama), bahwa kamu tak boleh membawa beban dan tanggungan pribadi ke dalam pernikahan. Bisa saja menerima pinangannya, tapi untuk menuju pernikahan, pastikan kamu sudah tak punya dendam lama pada mantan. Pastikan pula hutang-hutangmu sudah lunas, kalaupun belum berjanjilah pada diri sendiri untuk tak melibatkan dia dalam melunasinya. Pastikan janji-janjimu pada orang lain, yang sudah diungkapkan sebelum kamu menerima pinangannya, sudah terpenuhi. Mempersiapkan pernikahan memang harus dengan hati dan pikiran yang ringan.

Jadi, apa benar kamu sudah #maudiajaknikah sama dia?

Dewi Ratna

2 comments: