Diantar Gardika Gigih Naik Kereta Senja, 905 Kilometer Mencari Barat

Bukan pelaku musik, bukan juga pengamat musik. Seperti yang sudah pernah saya tulis di unggahan terdahulu, saya hanyalah seorang awam penikmat musik. Jangan pernah bertanya, lagu ini judulnya apa, atau lagu itu dibawakan oleh siapa, karena seringnya saya tidak bakal bisa menjawab dengan benar. Beberapa musik memang saya dengar hampir setiap hari, beberapa lainnya hanya akan lewat sesekali di playlist smartphone saya.

Masih boleh ya, saya lagi-lagi menulis di ranah musik?

Ini sudah dua minggu sejak Gardika Gigih kasih kita hadiah valentine berupa 9 menit untuk larut dalam Kereta Senja. Saya sedang dalam usaha menjadi orang yang tidak 'nggumunan', atau mudah takjub belakangan ini. Ah, suara piano itu, sama saja kok seperti karya-karya dia yang lain. Entah itu saat dia berkolaborasi dengan Banda Neira, atau musisi-musisi lainnya. Entah itu di YouTube, atau di akun SoundCloud miliknya. Iya. Gigih ya seperti itu-itu saja.

Tiga baris liriknya tak juga bikin saya ingin menggali lebih dalam tentang apa yang mau disampaikan dalam lagu ini. Adalah Ananda Badudu, mantan partner duet Rara Sekar, yang merangkaikan kalimat-kalimat itu. Sederhana, dan satu kalimat pertamanya diulang melulu di tengah lagu, tapi tentu saja bukan seperti lagu Hancur Hatiku milik almarhum Olga Syahputra. Dua sisanya, dilepas liar di penghujung, sebelum Gigih menutup rangkaian itu dengan tiba-tiba.

Bukan. Bukan dengan tiba-tiba, tapi memang jadi terasa seperti itu. Menit-menit terakhir Kereta Senja dipacu lebih kencang, sehingga pemberhentian terakhir itu terasa seperti rem mendadak, atau justru dia menabrak sesuatu. Ah, baiklah, saya mulai 'nggumun' dan ingin memutarnya lagi di malam gerimis, di sebuah bukit di Kota Malang ini. Saya mematikan playlist smartphone yang sedari tadi secara repeat memutar lagu Sampai Jadi Debu milik Banda Neira.

Saya klik tautan yang dibagi seorang teman di timeline Twitter. Berbeda dengan yang beberapa kali saya dengar sepanjang dua minggu lalu, yang ini sudah bisa dinikmati dengan mata. Ya, Kereta Senja sudah dirupakan visual lewat video klip yang masih diunggah di channel YouTube Sorge. Tentu saja saya tak ingin menikmatinya sambil pejam mata seperti biasa. Namun, jujur, pada akhirnya saya lebih suka lagu ini tanpa visual. Lebih nikmat hanya didengar.

Saya putar ulang Kereta Senja, kali ini ingin saya nikmati dengan mata tertutup. Saya rasakan kunci rem dilepas, dan kereta bergerak pelan. Beberapa meter ke depan, dia pun dipacu lebih kencang, kencang, dan kencang. Pada akhirnya ada imajinasi sendiri yang meliar di kepala, tentang perjalanan menuju barat, yang jingga senjanya ada di sisi kanan. Tentang stasiun demi stasiun yang dilewati tanpa berhenti. Dan tentang tiba di 905 kilometer dari sini.

Tak apa kan memanggil kenangan untuk dinikmati sejenak di dalam benak?

Dewi Ratna

No comments:

Post a Comment