Dari Mantan Pacar Hingga Dea Anugrah, Lahirlah Tips Menulis Buat Blogger Pemula

©shutterstock
Mantan pacar saya, yang seorang a̶n̶t̶r̶o̶p̶o̶l̶o̶g̶ penulis, mungkin satu-satunya mantan pacar yang masih menjalin hubungan sangat baik dan tanpa tendensi apa-apa dengan saya. Kami kerap bertukar sapa lewat chat box, saling menanyakan kabar, dan biasanya berlanjut ke obrolan ringan saja seputar kondisi politik, sosial, dan budaya di Indonesia belakangan ini. Bicara panjang lebar dengannya tak pernah membosankan, seperti malam tadi, secara random kami membahas perkara tulisan.

Bermula dari topik seputar Freeport yang sedang jadi trending beberapa hari terakhir, kami berbagi pendapat dan link artikel. Saya, tentu saja masih menjagokan Tirto.id, pun dalam kasus pelik ini. Sebuah tulisan dengan bahasa yang mengalir indah dan elegan, namun ringan dan mudah dicerna, tentang bagaimana Soeharto menggelarkan karpet merah untuk mereka yang hendak mengeruk hasil bumi Papua itu, setengah abad yang lalu. Saya merekomendasikan artikel tersebut pada dia.

Sambil kami sama-sama membaca dari tempat masing-masing, sambil saya menyadari bahwa ternyata setiap artikel Tirto.id yang saya jagokan, selalu ditutup dengan nama Dea Anugrah. Siapa yang tak tahu Dea Anugrah? Ah, mungkin banyak. Namun setidaknya, jika kamu sering bergelut dengan dunia jurnalis, atau punya hobi baca buku, pernah lah sekali-dua kali mendengar namanya. Selama ini, dia banyak menuliskan puisi, esei, maupun cerpen dalam Bahasa Indonesia.

Masih ada hubungannya dengan tulis-menulis, Dea Anugrah juga pernah menjadi editor buku-buku fiksi di rumah penerbit Moka Media sekitar tahun 2014 hingga 2015. Satu almamater dengan mantan pacar saya, cowok ini kuliah di  Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Dia mengambil jurusan Ilmu Filsafat, dan merampungkan perjuangannya di 2016 dengan tugas akhir tentang pemikiran Arthur Schopenhauer, seperti dikutip dari Goodreads. Duh! Berat itu untuk orang awam sekelas saya.

Lahir di Pangkalpinang, 27 Juni 1991, sebenarnya tak perlu bikin saya takjub bagaimana di usia yang masih muda, dia sudah merilis bukunya, Misa Arwah dan Puisi-puisi Lainnya (2015), serta Bakat Menggonggong (2016) yang jadi buah bibir banyak pembaca karena kabarnya tulisan dia sangat bagus di situ. Saya belum tertarik pada Dea Anugrah, bahkan saat teman-teman sudah beberapa kali menyebutkan nama itu di selipan obrolan kami. Hingga malam ini, saya akhirnya menyerah. Iya, Dea bagus.

Setelah habis membahas Dea, sampailah kami pada poin tulisan yang dramatis dan 'menyatu' dengan pembaca. Mantan pacar saya ini termasuk salah satu dari tiga penulis yang mengisi kolom yang cukup eksklusif di sebuah website idealis nan sarat 'makanan berat' penuh 'nutrisi untuk otak'. Tidak. Saya tak rutin konsumsi artikel dari situ. Terlalu berat dan bikin pening kepala. Kami lalu membahas bagaimana rasa tulisan dia, dan apa saja yang kurang dari cara dia merangkai kata.

Secara isi, tak perlu lah kita meragukan pemikiran cemerlang yang sudah melekat di otaknya sejak saya mengenal dia tujuh tahun lalu. Namun secara teknis, ada poin-poin yang tak sesuai dengan aturan penulisan baku. Well, apalah arti sebuah aturan penulisan, jika itu justru bikin penulis tak nyaman. Iya kan? Tak ada yang salah juga dengan gaya bahasa dia, tapi bagi saya itu memang terasa aneh. Cara dia bertutur sangat kaku, -pinjam istilah dari dia sendiri- seperti plat nomor.

IMO, menulis itu sebenarnya tak perlu ribet. Asal pembaca bisa paham, maka kita sukses menyampaikan pesan. Bukan begitu? Namun ternyata tak sesederhana itu. Tiap website atau media cetak, pasti punya standart penulisan. Dari standart tersebut, masing-masing penulisnya bahkan punya gaya sendiri-sendiri, meski tak keluar dari pakem yang dibikin perusahaan. Di sini, saya sebagai penulis lepas, ingin berbagi beberapa poin menulis ala saya sendiri.

1. Tahu Pasar
Pertama yang harus kita tahu, siapa saja target pembaca kita. Jika menulis untuk website entertainment, biasanya usia pembaca ada di kisaran 18 hingga 35 tahun. Usia di atas itu, cenderung lebih suka baca kabar politik dan sosial. Jika acuannya blog saya ini, maka target pembacanya sama seperti website entertainment. Kenapa? Karena topik yang saya suguhkan di sini tak jauh-jauh dari lifestyle, seperti fashion, traveling, musik, film, buku, dan juga curhatan random.

2. Tentukan Gaya Bahasa
Dari poin pertama tadi, akhirnya kita bisa menentukan gaya bahasa seperti apa yang bakal dipakai. Teenager biasanya lebih suka cara penyampaian yang komunikatif, ringan, dan terasa dekat. Agar tak canggung, bisa pakai sapaan 'kamu' untuk orang kedua. Namun jika tulisan itu ditujukan untuk usia di atas 35, alangkah lebih baik jika memakai sapaan 'Anda', dengan gaya bahasa yang lebih serius dan cenderung baku. Di blog ini, saya lebih suka pakai bahasa setengah baku dan sapaan 'kamu', biar lebih akrab. Kalau sudah akrab, siapa tahu kamu jadi pengin main ke rumah.

3. Hindari Kebanyakan Kosakata Ilmiah
Tak mengapa jika memang harus pakai bahasa yang ilmiah, tapi alangkah baiknya jika itu tak terlalu banyak. Tujuan kita menulis, untuk bisa dipahami. Pesan-pesan yang dibawa dalam tulisan, harus tersampaikan dengan baik. Jadi gagal edukatif jika akhirnya pembaca tak paham dengan apa yang kita tulis. Kecuali, jika memang tulisan yang kita bikin itu ditujukan untuk kaum intelek dengan pendidikan tinggi. Namun tak usah khawatir juga, kalau kamu baca artikel dengan bahasa yang susah, siapkan saja KBBI daring di tab sebelah.

4. Tidak Pendek, Boleh Panjang
Jika di beberapa media online memberlakukan minimal paragraf dalam penulisan, maka biasanya angka itu yang bakal dipilih para penulisnya. Ada baiknya kita memberikan informasi yang bukan berupa penggalan, meski itu adalah berita turunan. Empat paragraf pendek akan terasa -pinjam istilah mantan boss saya- seperti tertelan permen yang masih besar. Sedangkan jika memilih untuk menulis panjang, pastikan saja isinya tidak bertele-tele dan mengulang dari paragraf-paragraf sebelumnya.

5. Selipi Candaan Ringan
Ini hanya berlaku kalau tulisan yang dibikin bukan berupa news atau artikel formal. Biasanya jika tulisan itu berupa opini, alangkah baiknya jika kita menyelipkan sedikit candaan agar pembaca tidak tegang. Tentu saja ini juga harus dalam konteks yang tepat. Jangan lantas kasih selipan candaan dalam tulisan soal tempat pengungsian yang layak untuk korban gempa bumi, atau fenomena kecelakaan beruntun di titik-titik jalan yang sama. Bercanda juga ada waktu dan tempatnya, friends.

Nah, untuk sementara sih itu dulu yang bisa saya share di sini. Poin-poin di atas mungkin tak bisa mencerahkan kegelisahan hati mantan pacar saya soal gaya penulisannya. Kenapa? Karena dia memilih untuk tak mau kompromi -kalau tidak boleh dibilang egois- dalam menulis. Apalagi website tempat dia berkarya itu memang cukup idealis dan berkelas. Ah, berkelas bukan melulu soal derajat kekayaan materi ya, dalam konteks ini kekayaannya adalah soal intelektual. Nah, kalau buat kamu yang baru mulai bikin blog, bisa banget tips dari saya ini dipakai.

Oke. Selamat menulis. Salam super!

Dewi Ratna

2 comments:

  1. Huwah... perlu dicatet inih...
    Nice info :D

    ReplyDelete
  2. akuuuuu masih galau dengan alur dan gaya menulis. kadang penuh dg bahasa informal, kadang pengen ada bakunya biar lebih serius dan gak alay. Alur menulis juga gitu, yang ternyata membaca ulang tulisan sebelum di publish itu pwenting. heuftth

    ReplyDelete