Cerita Hore, Dua Hari di Enclosure Beruang Madu KM 23 Balikpapan

Circa 2010. Tulisan ini dibikin sekitar enam tahun yang lalu, dan diunggah di blog lama yang sekarang sudah digembok karena nggak layak dikonsumsi khalayak ramai. Mungkin sekarang keadaan enclosure KM 23 sudah berubah, entahlah. Sudah lama juga tidak berbincang dengan Om Gege soal beruang-beruang di sana. Well, lewat tulisan ini, saya ingin orang-orang tahu, bahwa beruang seharusnya bukan bianatang lucu dan menggemaskan. Fitrahnya, mereka hidup di alam bebas dan liar, bukan di tanah sempit dalam kebun binatang.

Bahkan kalau saja mau belajar lebih banyak tentang beruang madu, mereka tak akan pernah lagi berkembang biak. Tahu kenapa? Karena beruang madu jantan harus punya daerah untuk 'ngider' dengan ukuran luas yang jauh lebih besar dari si betina. Betinanya pun juga punya ukuran luas tertentu untuk akhirnya mau kawin dengan si jantan. Di tanah paling luas yang kini mereka tinggali, KM 23, dijamin tak bisa mereka berkembang biak. Bukan begitu, Om Gege?

Namun sayangnya, foto-foto saat kami menjelajah enclosure dan pergola informasi sudah hilang ditelan kejamnya mereka yang membumihanguskan Multiply. Saya pernah berusaha menyelamatkannya saat terakhir mereka memberi notifikasi sebelum menutup media sosial favorit saya itu, tapi berkali-kali pun tak kunjung berhasil. Ya sudah, akhirnya saya hanya bisa berbagi sedikit cerita ini. Selamat membaca!

==========================

DAY 1

Nyikonde dan Adamsin datang di awal Semptember. Mulanya, semua terasa kaku, mungkin karena masing-masing dari kami sudah lama nggak bertemu. Suasana menjadi cair saat kami mulai ngobrol diselingi canda tawa. Ada Anaklangit, Beni, dan juga Nana yang saat itu sedang nggak enak badan. Hore pun semakin terasa saat datang Adam, Ebol, dan Paksi. Saya jadi merasakan suasana Pinky House Full of Love yang sebenar-benarnya.

Kami bicara banyak hal, dari yang serius sampai yang nggak laku-laku (baca: nggak penting). Dan begitu seterusnya, kami bertemu setiap malam di Pinky House (yang sekarang jadi greeny) dan melakukan hal yang sama. Meski hanya tinggal beberapa saja yang eksis, namun hore itu masih terasa.

Nyikonde dan Om Gege
Ide untuk berhore di KM 23 tercetus dari Nyikonde. Suasana hutan itu memang menjadi sangat favorit bagi kami. Dan di Sabtu sore, hujan turun dengan sangat deras. Kami yang sudah berkumpul di Pinky House memutuskan untuk tidur saja dulu. Setelah hujan reda, saya, Lilnes, Nyikonde, Adamsin, Beni, dan Nana segera meluncur ke sana. Di bawah langit yang begitu cerah dan bersahabat, sinar matahari sore juga cukup menghangatkan sehabis hujan. Kami sangat antusias, apalagi kami sudah sangat cukup istirahat selagi menunggu hujan reda tadi.

Entah jam berapa tepatnya kami sampai di sana, kami sudah tidak peduli pada waktu. Yang terbayang di benak saya hanyalah hore, hore, dan hore. Dan saya yakin, yang lainnya juga pasti membayangkan hal yang sama. Setelah taruh barang di Distro Sunbear, kami segera menyusuri Enclosure Beruang Madu, walau kami tahu persis bahwa saat itu bukanlah waktu yang tepat untuk dapat bertemu beruang-beruang penghuni Enclosure.

Kami masuk ke sana diiringi pemandu, bersama kami ada juga dua orang Polisi berseragam lengkap yang juga ingin melihat Beruang Madu. Sebenarnya kami nggak perlu pemandu, secara kami sudah lumayan terbiasa dengan Enclosure itu, kecuali Adamsin dan Lilnes yang baru pertama kali berkunjung ke sana.

Saya sedikit tau soal Beruang Madu di situ. Mereka berjumlah lima. Kalian bisa bertemu mereka secara lebih dekat pada jam-jam tertentu saat mereka diberi makanan ekstra. Tiap 9 pagi dan 3 sore WITA, petugas memasang berbagai jenis buah-buahan seperti nanas, semangka, dan pisang di pohon-pohon sepanjang pinggiran enclosure. Dengan begitu, mereka akan cenderung ke pinggir untuk mencari buah-buahan itu, sehingga kita bisa melihat mereka lebih dekat. Setelah beres memasang buah, pintu rumah tempat beruang beristirahat dibuka. Satu per satu mereka keluar dari dalamnya. Namun sore ini, sepertinya kami harus menunggu esok pagi untuk bisa melihat mereka.

Dari Enclosure, yang lainnya berkeliling menikmati pemandangan taman yang memang aduhai, sementara saya lebih memilih duduk sendiri di atas ayunan dekat lamin (rumah, dalam bahasa Dayak) sambil memandangi langit senja yang juga aduhai. Sesekali saya melirik mereka bercanda sambil terus berjalan menyusuri taman. Dan sampailah mereka di lokasi outbond, yang lebih tepat disebut taman bermain, karena memang arenanya kecil dan kurang menantang. Tertarik dengan tertawa seru mereka, saya pun akhirnya menyusul. Melihat mereka gembira, saya pun ikut gembira, walau sebenarnya hati saya masih terasa sepi (sipiriliuuww...).

Buka puasa mewah di KM 23
Hari beranjak petang, dan langit mulai abu-abu. Kami memutuskan untuk masuk ke lamin utama yang dikondisikan seperti kantor. Sepertinya di situ tempat para pengurus berkumpul dan juga bekerja. Sambil menunggu Adzan Maghrib, kami ngobrol-ngobrol. Sementara Om Gege sibuk mengeluarkan suguhan yang semuanya ber-merk terkenal. Banyak sekali camilan dan minuman sore itu. Saya, Lilnes, dan Nana berbuka puasa dengan gaya cihuy hari itu. Sembari ngemil, kami terus bercerita, tentang kucing, ular, juga majalah National Geographic. Pokoknya, apa saja yang tertangkap oleh mata kami, akhirnya jadi bahan obrolan kami.

Saatnya tiba Nana harus pulang. Beni mengantarnya sekalian menjemput Anaklangit untuk kembali ke KM 23. Sembari menunggu, saya dan Adamsin didaulat untuk membeli makanan, secara kami belum makan nasi malam itu. Kami pergi naik motor ke warung di ujung jalan. Di bawah langit hitam penuh bintang itu, dinginnya begitu menusuk. Kami melewati pasar malam yang begitu riuh, sampai-sampai agak susah untuk dilalui kendaraan dari dua arah.

Ya, mendekati lebaran, tentu saja pakaian, sepatu, dan segala macam yang dijual di sana menjadi lebih laku. Sulit sepertinya menghilangkan budaya konsumtif kala lebaran, mengingat secara turun-temurun mereka selalu melakukan ritual beli-membeli barang baru untuk lebaran setiap tahunnya. Banyak pemuda nongkrong di tengah jalan bersama motor mereka, seperti sedang demo kata Adamsin. Ada pula dua sejoli sedang marahan di pinggir jalan dekat pasar situ. Sungguh pemandangan yang lucu.

Sekembalinya dari warung, kami mendapati lamin kosong dalam keadaan pintu terbuka. Mungkin yang lainnya sedang keluar nggak jauh dari situ. Benar saja, ternyata mereka duduk-duduk di salah satu taman sambil menikmati alunan musik alam dan melihat burung hantu yang sedang bertengger di atas pohon. Tentu saja itu semua tidak akan bisa kami temui di kota kami yang mulai dipenuhi mall.

Tak lama, mereka lalu menyusul saya dan Adamsin untuk kemudian pergi ke pantry yang harus ditempuh dengan berjalan kaki beberapa meter dari lamin. Kami makan di sana sambil, tentu saja, tetap ngobrol dan bercanda. Di bawah meja makan kami pun turut makan induk kucing beserta tiga anaknya, sungguh lucu mereka.

Kembali ke lamin dengan perut kenyang dan siap untuk lebih hore lagi. Tak lama kemudian Beni datang bersama Anaklangit. Dan kami pun langsung meluncur ke pinggiran hutan utnuk kembali menikmati musik alam. Dan... ah... sungguh nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hore kami malam itu. Tebak jam berapa kami baru bisa pejam mata! Jam lima pagi, ketika kami sudah benar-benar kelelahan dan kehabisan energi untuk bercanda dan tertawa lebih panjang lagi.

DAY 2

Kami terbangun sekitan jam 9 pagi, dan saya mendapati Adamsin sudah duduk manis di kursi tamu sambil membaca buku. Sementara yang lainnya masih melamun mengumpulkan nyawa. Setelah semua benar-benar tersadar, bersama-sama kami berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh muka, kecuali Nyikonde yang lebih memilih pindah tempat untuk melanjutkan mimpinya.

Petugas sedang memasang buah-buahan saat kami menuju Enclosure. Kami menunggu beberapa saat sambil ngobrol-ngobrol di tempat kami berhore semalam. Saat itu hujan rintik-rintik membasahi jalan dan daunan. Dingin sekali, meskipun itu sudah jam 9. Setelah Enclosure siap disusuri, kami pun bergegas masuk ke jembatan itu.

Jembatan itu adalah jembatan kayu yang mengelilingi 1 hektar hutan yang dijadikan Enclosure. Antara hutan dan jembatan dibatasi pagar kawat bertegangan listrik. Mengapa demikian? Hal ini untuk menghindari beruang lepas dari pagar dan membahayakan pengunjung.

Di sepanjang jembatan terdapat banyak papan peringatan. Pengunjung nggak boleh memberi makanan pada Beruang, supaya Beruang nggak jadi manja, tergantung, dan suka minta-minta. Selain itu, ada juga peringatan supaya pengunjung nggak membuat gaduh dan berisik, karena beruang madu adalah binatang pemalu. Nggak hanya peringatan, di sana ada juga papan yang berisi pengetahuan tentang spesies apa saja yang terdapat di dalam Enclosure. Bukan saja hewan, tapi banyak pula tumbuhan di dalam sana.

Bersama kami ada pula keluarga, bapak, ibu, dengan dua orang anak laki-laki mereka. Pagi itu, beruang keluar dari pintu masing-masing dan memilih jalan yang berbeda-beda untuk menuju pohon di mana buah-buah dipasang. Sungguh lucu mereka. Padahal, kalau saja kita berani mengganggu mereka, bukan tidak mungkin mereka akan mengamuk dan mencelakai kita. Namun sayang, Beruang Madu di Enclosure itu rata-rata cacat. Ada yang nggak punya taring, nggak punya kuku, dan ada juga yang bentuk badannya aneh karena dulu oleh pemiliknya dipasang besi di lehernya, dan besi itu meninggalkan bekas di sana. Kasihan!

Setelah puas mengikuti beruang-beruang itu menyusuri pinggiran enclosure, kami melanjutkan perjalanan ke Pergola Informasi. Di mana di sana terdapat banyak sekali pengetahuan tentang berbagai jenis beruang. Dari beruang kutub, panda, dan lain-lain, sampai beruang madu yang terkecil di antara semua beruang. Pergola ini khususnya memuat banyak pengetahuan tentang beruang madu. Tentang kehidupan sosialnya, bagaimana mereka bertahan hidup, bagaimana mereka bisa berkembang biak, apa saja makanannya, bagaimana kotorannya bisa membantu penyebaran biji, dan masih banyak lagi. Dan kalau kalian ingin tahu apa ANCAMAN TERBESAR bagi Beruang Madu, kalian boleh main-main ke mari.

"Biar ada foto sama beruangnya," kata teman saya ini.
Sesudah puas berkeliling, kami lalu mengistirahatkan diri di lamin terbuka, di dekat Distro Sunbear yang menjual berbagai merchandise Beruang Madu. Kami duduk di kursi mengelilingi meja dan mulai ngobrol santai. Nggak lama kemudian, Nyikonde yang sudah puas tidur, menyusul kami ke lamin dan ikut nimbrung. Hari beranjak siang dan kami harus segera kembali ke kota. Rasanya nggak rela meninggalkan keindahan alam di KM 23 begitu saja. Jujur saya masih ingin berada di sana, kalau bisa selamanya (hah?!).

Hari itu hari Minggu, 5 September 2010.

Dewi Ratna

No comments:

Post a Comment