Yang Terus Berulang Suatu Saat Henti, Banda Neira Selesai di Sini

Beberapa hari lalu, saya sedang entahlah hatinya. Berencana ingin kota-kota sambil menghabiskan air mata, tapi malah nyangkut di sebuah tempat yang sangat hangat. Sepiring kecil berisi tiga potong pisang goreng panas disodorkan seorang nenek, yang seolah tahu bahwa saya sedang kalut dalam kemelut.

Air mata sudah kering sebelum sempat menetes, setelah obrolan panjang dan seru dengan nenek 77 tahun itu. Dan lalu sepenggal lagu dari perangkat komputer dan speaker di dalam ruangan menghipnotis saya hingga membatu. Denting gitar Ananda Badudu yang mendayu, berpadu manis dengan suara merdu Rara Sekar.

Saya menatap luar jendela sambil menggigit ujung pisang goreng pertama. Angin sangat kencang, mengembus pohon-pohon di luar sana. Daun-daun mangga berjatuhan, dan tanaman berbatang tipis pun condong mengikuti arah bertiupnya. Lagu selanjutnya, saya masih membatu, tak ingin tersadar.

"Yang patah tumbuh, yang hilang berganti. Yang hancur lebur akan terobati. Yang sia-sia akan jadi makna. Yang terus berulang, suatu saat henti. Yang pernah jatuh akan berdiri lagi."

Banda Neira, nama yang tentu tak asing bagi para penggemar musik folk. Duo yang lebih suka disebut band ini memulai keisengan mereka di medio 2012 dengan merekam empat lagu ala kadarnya untuk diunggah di Soundcloud sebelum Rara Sekar meninggalkan Jakarta menuju Pulau Dewata.

Tanpa ekspektasi, hasil karya mereka ternyata jadi sorotan banyak orang. Demi mempertanggungjawabkan apa yang sudah mereka tabur, dibikinlah rekaman lain dengan proses yang lebih serius. Musik yang apik, dan lirik dengan rangkaian kata nan manis dijahit rapi dan dikemas dalam satu album.

Tak perlu lah meragukan kemampuan menulis Ananda Badudu yang memang seorang kuli tinta. Nikmati saja lafal tiap kata yang dirangkai dalam nada-nada itu sambil pejam mata. Ada banyak hal bisa dipetik dari lirik-lirik lagu Banda Neira yang tak melulu tentang cinta menye-menye. Sudah ada dua album, habiskan!

"Beri tanda pada gambar yang kau suka. Rubah dalam gua, atau mawar dalam kaca. Beri tanda pada lembar yang kau suka. Pangeran kecil kabur terbang bersama kita." Yang sama gilanya pada Pangeran Kecil, seperti saya, pasti tahu apa maksud lagu ini.

Sungguh indah sore itu, meski angin terus mengguncang apa saja yang berdiri di luar jendela. Pisang goreng kedua, dan hati saya makin tenang. Tak lagi butuh kota-kota untuk menghabiskan air mata, seorang nenek dengan sepiring pisang goreng duduk menemani berbincang sambil dengar Banda Neira, sudah cukup mengobati sendu.

***

Malam ini, tenaga saya masih tersisa untuk sekedar scrolling timeline tiga akun media sosial. Sambil berbaring, berselimut tebal, mata saya awas menekuri kotak yang berpendar di genggaman. Apa yang lewat di sana sungguh mengejutkan. Rara Sekar dan Ananda Badudu bikin surat perpisahan!

Bagaimana itu bisa terjadi? Katanya akan selamanya, sampai tua, sampai jadi debu? Padahal sore tadi saya masih mention nama Banda Neira di sela obrolan dengan teman-teman yang tiap bertemu hampir melulu bicara soal musik. Itu beberapa jam saja sebelum saya menemukan surat perpisahan mereka.

Tapi semesta memang tak bisa diduga, dan segala jadi semudah membalikkan telapak tangan. Ya sudah, relakan saja. Yang terus berulang, suatu saat henti. Jika berjodoh, akan bertemu di simpangan depan sana, lalu bergandeng tangan lagi selamanya, sampai tua, sampai jadi debu.

Dewi Ratna

No comments:

Post a Comment