Tentang Packaging CD dan Timbal Balik Band Idola Untuk Fans Militan

Mungkin bagi orang lain ini tak penting, tapi saya, dari kacamata penikmat musik, termasuk salah satu yang menganggap kemasan rilisan fisik dan kelengkapannya adalah sebuah nilai lebih. Jika memang tak bisa bikin kemasan yang collectible, setidaknya sebuah band atau musisi yang bikin rilisan fisik itu melengkapi kaset atau CD mereka dengan lirik lagu, setidaknya dengan artwork ciamik lah.

Masih ingat, hampir setahun yang lalu saya pernah menyoal packaging CD Barasuara dan timbal balik mereka sebagai band idola, untuk para fans militan mereka? Well, kalau ada di sini yang termasuk penggemar Coldplay, dan punya album mereka dalam bentuk fisik sejak rilisan pertama, Parachutes (2000) hingga Ghost Stories (2014), pasti sangat tahu kan kalau juga tak pernah ada lirik lagu di dalam setiap rilisan fisik mereka itu?

Ya, band yang tahun depan menggelar tour Asia untuk album terbaru mereka A Head Full Of Dreams (2015) -dan alhamdulillah saya kehabisan tiket paling murah di negara paling dekat- ini sudah merilis tujuh album sepanjang 16 tahun kiprah mereka. Sebut enam di antaranya, Parachutes, A Rush of Blood to the Head (2002), X&Y (2005), Viva la Vida or Death and All His Friends -yang saya belum punya rilisan fisiknya- (2008), Mylo Xyloto (2011), dan Ghost Story, semua tak ada lirik lagu di dalamnya!

Artwork? Tentu Coldplay jagonya bikin desain keren, sama keren seperti tiap video klip mereka. Gimmick di dalam kemasan? Sama seperti Barasuara, tak pernah ada hal menarik di dalam CD band milik Chris Martin, Jonny Buckland, Guy Berryman, dan Will Champion arahan Phil Harvey ini selain gambar-gambarnya. Tapi di album terbaru mereka yang sudah berusia setahun, A Head Full Of Dreams, selain artwork yang makin berwarna, mereka juga menyisipkan lirik lagu.

Sebagai ibu-ibu cerewet dan penuh drama, saya tentu angkat jempol untuk gebrakan yang mungkin orang lain anggap receh ini. Lirik dari sembilan lagu, masing-masing diberi satu halaman, ditulis berupa hand lettering warna pelangi. Sementara dua lagu lainnya memang tak punya lirik. Sejak pegang CD album ini berbulan-bulan, saya memang baru membuka plastiknya sebulan belakangan, karena memang lebih sering dengar MP3 saja.

Makin ke sini, memang makin banyak bermunculan rilisan CD dengan kemasan unik yang bikin orang yang bukan fans pun tertarik untuk memilikinya juga. Latest, sebut saja Crimson Diary, salah satu band asal Malang yang baru saja merilis album self-titled mereka di awal Desember 2016 lalu. Sesuai nama band-nya yang juga berarti diary of Crimson, mereka pun mengusung konsep diary dalam kemasan album ini.

Sengaja dibikin menyerupai buku harian atau diary, selain CD berisi 10 track terbaru Crimson Diary, ada pula notebook yang bagian depannya sudah terisi dengan tulisan tangan berupa lirik lagu, langsung dari penulisnya. Sisa kertas yang sengaja dibiarkan kosong, bisa dipakai untuk memulai kembali kebiasan jadul anak muda yang suka meluapkan perasaan mereka dalam buku harian.

Bicara soal rilisan fisik yang collectible, packaging sebenarnya bukan masalah utama. Ada pula beberapa band yang memilih memberi gimmick lain dalam rilisan fisik mereka, seperti Sri Plecit, band SKA asal Yogyakarta yang menyelipkan sebuah file interaktif dalam CD album Boon Safari (2013). Meski dari segi kemasan mereka sudah sangat total, dengan menghadirkan nuansa karnaval berupa artwork dan pop up carousel, tapi Sri Plecit tetap ingin memberikan yang lebih untuk para penikmat musik mereka.


Tak hanya Sri Plecit, masih dari Yogyakarta dan masih juga dekat dengan sound Jamaika, pasti semua sudah kenal jika saya menyebut nama Dubyouth Soundsystem. Dalam album self-titled (2012), mereka menyelipkan file .exe dalam folder CD-nya. Kalau dibuka, kamu bakal menemukan permainan seru berupa mashdub, di mana kamu bisa berperan sebagai DJ untuk lagu-lagu Dubyouth yang ada di dalam album tersebut.

Hal-hal seperti ini mungkin bagi sebagain person terasa receh, tapi bagi seorang fans militan, rasanya sulit untuk tak takjub jika band idola mereka menyelipkan hal-hal menarik sebagai gimmick dalam rilisan fisik yang mereka beli. Rasanya pasti seperti dapat perhatian dalam surprise kecil dari pacarmu yang setiap hari biasanya super cuek. Well ya, semoga tulisan ini bisa membayar kekurangan dari tulisan soal packaging CD yang kurang bold, yang saya bikin setahun lalu.

Dewi Ratna

1 comment:

  1. mbak yu aku ora paham. tapi aku melu seneng laah ehehehhee.. ayok ke jogja doooong

    ReplyDelete