Menyoal Pageview Media Pewarta Online dan Perwujudan Mimpi Perubahan

Sedari pagi, tumben beberapa grup di aplikasi Whatsapp saya lebih riuh dari biasanya. Ada kelompok yang kirim meme dan jokes yang bikin segar karena harus tertawa pagi-pagi, ada juga yang kirim foto kiper sebuah klub bola lagi dalam keadaan kritis karena (katanya) miras oplosan, dan lainnya lagi kirim link berita dari sebuah news media tentang pasangan selebriti yang terjaring pemeriksaan BNN.

Yang sudah bertahun-tahun bergelut dengan kerasnya mengolah media pewarta online pasti tahu persis, pageview adalah pemicu utama datangnya penghasilan. Banyak cara yang coba diterapkan untuk mendongkrak angka ini, termasuk dengan bermain judul tulisan. Layaknya pakaian yang kita kenakan atau juga cover buku dan kaset, judul tulisan adalah faktor utama agar seseorang mau mencari tahu lebih jauh, dalam konteks ini: membaca.

Mirisnya, ini justru jadi semacam pemicu panasnya media sosial, jika sebuah media pewarta membuat paksa judul tulisan demi menarik minat orang untuk membaca. Pasalnya, semakin ke sini orang bukannya memandang judul tulisan dengan rasa penasaran, tapi justru lebih sering menelannya mentah-mentah, dan dengan segera naik darah, penuh nafsu untuk kemudian menyebarkannya di media sosial, dengan imbuhan caption yang provokatif.

Kalau sudah begini, salah siapa? Tentu saja apa yang sudah terjadi, tak bisa lagi dibatalkan. Tiap orang toh punya watak yang berbeda-beda. Mereka yang 'pentol korek', akan mudah terpicu untuk marah-marah, bahkan hanya dengan melihat foto Jokowi diberkati seorang pastor, tanpa mencari tahu dulu kebenaran atau cerita di balik itu. Sebaliknya, mereka yang skeptis bakal lebih jeli menggali sampai titik mentok untuk tahu kebenarannya.

Jadi, memang tak ada yang bisa disalahkan. Seperti nasihat pacar saya, setiap akibat selalu didahului dengan sebab. Jika dirunut balik ke belakang, bisa-bisa yang salah adalah diri kita sendiri. Gimana, gimana? Begini gambarannya: jika karena pageview semua itu harus terjadi, mari cari tahu kenapa pageview harus ada. Tentu saja karena sumber penghasilan ada di situ. Orang memilih untuk bekerja, dan jika itu terpaksa harus di media online, karena apa? Butuh penghasilan. Kenapa butuh penghasilan? Buat hidup keluarga. Ya sudah, tarik terus saja ke belakang, sampai Indonesia memutuskan untuk memblokir Facebook dan mengembalikan kejayaan Vimeo.

Tertawa saja dulu kalau ingin tertawa. Poin terakhir itu cuma bercanda kok...

Oke, ini bukan sedangkal dan senaif itu. Jadi begini: keserakahan manusia memang kebanyakan dipicu oleh materi. Kenapa para pengusaha getol menggusur tanah petani demi untuk membangun pabrik? Karena akan ada lebih banyak nominal yang bisa didapat dari sana. Kenapa ingin pageview yang makin naik jumlahnya? Karena akan ada lebih banyak nominal yang bisa didapat dari sana. Setiap orang pun dituntut untuk realistis jika sudah berhadapan dengan tuntutan materi.

Idealisme tak akan laku di era sekarang ini. Mau tak mau, harus diakui, realitanya adalah kita butuh uang untuk makan. Namun, secara pribadi saya ingin mengungkapkan, serealistis apapun kita, sepatutnya kita pun harus punya rasa tanggung jawab. Sebagai seorang yang juga bergelut di ranah media online, saya ingin mengajak teman-teman yang seprofesi dengan saya untuk lebih bijak memilih kata dalam judul tulisan. Siapa tahu, perubahan bisa dimulai dari sehatnya media-media online.

Belakangan memang saya sedang intens membaca salah satu media online yang cukup informatif dan mendidik, Tirto.id. Ada juga beberapa media baru yang mulai naik daun dan sering muncul di timeline media sosial saya, meski rasa tulisannya agak idealis. Namun apa yang ada di timeline media sosial orang lain tentu tak sama dengan milik kita. Teman kita tak selalu sama dengan teman mereka. Bisa jadi, masih ada orang yang tak kenal Tirto.id atau media bagus lainnya, dan masih suka baca tulisan dari media yang suka bikin judul semacam: Pasangan Seleb Pendukung Ahok Terjaring Razia BNN, yang jelas-jelas tak ada hubungannya antara razia BNN dan Ahok sendiri.

Kembali pada masing-masing kita, lakukan apa yang baik yang kita bisa. Sebarkan hanya kabar-kabar yang membawa kebaikan saja. Tak perlu share berita yang terasa sangat provokatif. Jika perlu, silakan langsung saja report as spam dan block akunnya. Sesungguhnya, hidup bakal terasa damai jika kita sendiri yang menghindarkan diri dari hal-hal yang sudah pasti bikin kita emosi. Ehm, stalking akun mantan dan pacar barunya misal. Atau kepoin postingan jadul pacar yang isinya melulu bareng mantannya.

Dewi Ratna

No comments:

Post a Comment