Dokumenter Black Metal Indonesia 'Where Do We Go', Episode Pertama 'Klimaks Onani' Hernandes Saranela

"Selaku vlogger & filmmaker yang baik, datengo ya." Begitu bunyi pesan teks yang saya terima dari Kak Samack, sehari sebelum digelarnya event pemutaran film 'Where Do We Go' karya Hernandes Saranela di AV Cafe Story, 30 November 2016. Dalam selebaran online yang dikirim, terdapat tulisan 'Indonesian black metal documentary. Story of unholy svbcvltvr.'

Ah, apa pula ini?! Pikir saya saat membaca kalimat tersebut. Bahkan black metal saja saya tidak pernah tahu, atau mau tahu tetek-bengeknya, apalagi untuk hadir di event yang berbau genre seram tersebut. Tapi sebagai kawan -bukan vlogger ataupun filmmaker- yang baik, saya memutuskan untuk datang saja, dengan tidak berekspektasi tentang film ini.

Video dokumenter scene black metal? Mungkin tentang bagaimana komunitas itu muncul di Indonesia pada awalnya, bagaimana band-band beraliran ini terbentuk, apa alasan mereka sampai akhirnya terjun ke dunia musik 'grauk-grauk' ini. Gambar yang diambil, tentu saja band-band dengan dandanan seram itu. Begitu yang ada dalam pikiran saya.

Well, ternyata saya terlalu jumawa untuk meremehkan film yang rencananya bakal menjadi sebuah trilogi ini. 'Where Do We Go' bukan melulu tentang band black metal dan pernak-pernik satanic yang biasa kita lihat di media atau gigs. Hernandes mengemas banyak pengetahuan baru yang tidak bisa dipungkiri, cukup bikin saya shock dan kagum.

Filmmaker lulusan ISI Yogyakarta ini sendiri sudah menceburkan diri ke dunia black metal sejak era 90an. Hal ini yang tentunya sangat membantu dia dalam pengerjaan film dengan durasi lebih dari 1,5 jam tersebut. Riset dia lakukan secara sadar dan tidak sadar. Apa yang dia amati dalam scene, itulah yang akhirnya dia muntahkan dalam filmnya.

Sebelumnya, saya mau kasih sedikit perkenalan singkat tentang sosok Hernandes Saranela ini. Pria kelahiran Bumiayu, Jawa Tengah ini menamatkan studi di jurusan Teater, Fakultas Seni Pertunjukan. Jadi sutradara film independen sudah pekerjaannya sejak tahun 2003. Setidaknya, ada 20 film pendek di bawah label Cinemarebel—kolektif yang sudah dia bikin.

Di waktu senggangnya, Hernandes mengisi workshop teater atau film, menulis lagu, menjadi juri, dan sebagai vokalis band punk Demster, glamrock Cross Thunder, serta band metal Soulsick/Anathema Dismorpheus. See, dengan segala kelebihan dan kegiatannya, tak salah kalau dia begitu berani mengangkat genre black metal ini menjadi sebuah film.

Kembali pada isi dari film dokumenter yang dia bikin ini, tidak hanya soal bagaimana band black metal berpenampilan, tapi juga dibahas maksud dari ritual-ritual panggung -yang kebanyakan memang terasa horor-, oleh beberapa tokoh black metal Indonesia yang namanya mungkin sudah tak asing lagi bagi mereka yang sudah bergelut lama di secene ini.

Fokus pada black metal di tanah Jawa, beberapa narasumber bahkan bercerita tentang bagaimana Nusantara dulu begitu kaya akan budaya, yang kini hanya tinggal puing-puing peninggalannya saja. Tak ketinggalan juga tentang mengapa ada dupa dan apa makna yang terkandung dari kembang telon (bunga tiga macam) dalam aksi panggung beberapa band black metal di Indonesia.

Setiap scene musik tampaknya memang punya problem yang jadi polemik di dalam tubuh mereka sendiri. Begitu juga black metal, yang ternyata belum selesai membahas soal make-up dan kostum yang mereka pakai di atas panggung. Hal ini pun dibahas dalam film 'Where Do We Go', walau mungkin belum bisa membuat rasa penasaran banyak orang jadi tuntas.

Hernandes sendiri merasa bahwa film yang rencananya bakal dibikin trilogi ini merupakan klimaks dari 'onani'nya selama ini. Sudah lama dia memang ingin mengangkat scene black metal dengan segala hal unik di dalamnya ini menjadi film. Dalam waktu lima bulan, sejak awal Januari 2016 lalu, dia akhirnya berhasil menuntaskan episode pertamanya.

Sesi diskusi yang digelar selepas pemutaran film pun berjalan cukup seru. Mereka yang tertarik untuk datang menonton ternyata tidak hanya dari kalangan scene black metal saja. Pertanyaan demi pertanyaan pun digelontorkan. Sebagai narasumber, ada pula nama-nama besar seperti Doni dari Immortal Rites (Kediri), Tony (Malang), juga Guns Diabolical (Gresik)

Well, mungkin saya satu-satunya orang yang sempat berkaca-kaca saat menonton salah satu scene dari film ini. Kenapa? Saya tak akan cerita di sini. Harus nonton sendiri film 'Where Do We Go', supaya bisa merasakan sendiri sensasinya. Rencananya film ini masih akan diputar di beberapa kota di Indonesia, dan akan diikutkan pula dalam festival film.


Kalau di Malang banyak yang masih penasaran sama film ini, silakan komen di sini. Jika jumlahnya masuk akal, mungkin bisa dibikin lagi sesi pemutaran film 'Where Do We Go' ini.

Dewi Ratna

1 comment:

  1. Sangat menarik lur, ditunggu sesi pemutarannya di malang.

    ReplyDelete