Super Drama! Nangis di Depan Weezer, #KonserTerbaikGue

Waktu masih kecil dulu, tidak pernah terbayangkan, dan bahkan juga tak punya keinginan sama sekali kalau suatu saat bakal bisa nonton penyanyi atau band idola secara langsung. Sukses merayu eyang kakung supaya membelikan kaset rilisan mereka saja rasanya sudah senang bukan kepalang. Meski beliau selalu komentar, "Opo toh nduk sing mbok dengerin itu? (Apa sih yang kamu dengarkan itu?)"

Waktu masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, saya memang lagi rajin-rajinnya mengikuti perkembangan musik, dalam negeri maupun mancanegara. Seperti yang pernah saya tulis di blog, di masa itu saya adalah salah satu fans dari Base Jam, dan tentu saja Spice Girls, Hanson dan The Moffatts. Namun karena pengaruh dari sepupu yang lebih gaul, saya akhirnya kenal No Doubt, Sublime, dan semacamnya.

Time flies, seiring bergantinya teman main, selera musik pun juga berubah. Kalau di akhir era 90-an saya sempat menggilai musik ska, mengawali era milenium saya mulai kenal band-band keren pada masanya, seperti Weezer, Radiohead, Silverchair, yang saya langsung jatuh cinta. Cerita di balik jatuh cintanya saya pada band-band itu, mungkin lebih baik tak usah ditulis di sini, daripada bikin baper. Aha!

2002 berlalu di belakang sana, dan betapa saya takjub saat pada akhirnya bisa melihat Rivers Cuomo dan kawan-kawan di depan mata saya secera langsung pada tahun 2013 lalu. Bagi saya, ini adalah konser terbaik yang pernah ada dalam hidup saya sejauh ini. Demi bisa datang di konser mereka yang digelar di awal tahun kala itu, saya pun rela menyisihkan sebagian penghasilan untuk beli tiket Premuim Festival.

A photo posted by Dewi Ratna (@dewinthemorning) on


Bisa bayangkan, saya sampai menitikkan air mata saat Cuomo berteriak, "Kami Weezer!" Lalu lampu dinyalakan dan lagu I want You To pun dikumandangkan. Rasanya tak percaya, itu Rivers Cuomo bersama Patrick Wilson, Brian Bell, dan Scott Shriner yang ada di hadapan saya. Saking bahagianya, saya sampai tidak kepikiran untuk mengabadikan mereka dalam kamera, baik itu foto maupun video. Saya sudah lupa diri. Hanya ada satu gambar ini saja...

A photo posted by Dewi Ratna (@dewinthemorning) on


Lanjut ke lagu kedua, Cuomo menyodorkan microphone pada Brian, bergantian dengan Scott, dan lalu Patrick untuk ikut menyanyikan potongan-potongan lagu Pork and Beans. Pastinya suasana jadi makin meriah. Jelas sekali, yang ada di kanan dan kiri saya ini semuanya fans Weezer. Terbukti, tak ada di antara mereka yang cuma berdiri diam saat band idola ini beraksi. Semuanya ikut bernyanyi dan bergoyang.

Troublemaker tentu saja jadi lagu yang seru untuk sing along, meski lagu-lagu lainnya pun juga tak kalah meriah. Mereka juga membawakan Perfect Situation, Beverly Hills yang pada masanya juga sempat jadi lagu hits di beberapa club malam di kota Malang, Dope Nose, dan yang istimewa ada Island In The Sun. Kenapa istimewa? Semua yang ada di sana pasti juga tak menyangka kalau Cuomo bakal membuka lagu itu dengan membawakan Heavy Rotation milik AKB48 terlebih dulu.

Judul-judul lain tentunya juga sudah dihafal para penggemar Weezer di luar kepala. Band asal Los Angeles yang mulai eksis di tahun 1992 ini juga membawakan lagu Hash Pipe, Across The Sea yang jadi lagu soundtrack sepanjang saya berada di Balikpapan selama lima tahun, El Scorcho yang di-medley dengan Tired Of Sex, My Name Is Jonas, No One Else, The World Has Turned and Left Me Here, lagu fenomenal Buddy Holly, Undone, The Sweater Song, Surf Wax America, Say It Ain't So, In The Garage, dan Holiday.

Hujan bahkan tak menyurutkan semangat kami untuk tetap berdiri di depan panggung, ikut bernyanyi bersama Cuomo dengan iringan musik Brian, Scott, dan Patrick. Sungguh malam yang luar biasa, terutama untuk saya. Only In Dreams jadi pamungkas. "Selamat tinggal," ujar Cuomo. Serentak seluruh yang hadir berteriak, "We want more." Namun sepertinya ending menggantung itu memang harus kami terima dengan lapang dada. Saya berdiri mematung menikmati alunan sayup lagu Time Flies yang berkumandang (mungkin) dari MP3, saat yang lain sudah sibuk keluar venue.

Sebelumnya saya juga pernah menitikkan air mata saat mendapati diri saya berdiri tanpa kenal siapapun yang ada di tribun kiri Tennis Indoor Senayan pada 10 Mei 2012. Rasanya gemetar saat akhirnya saya bisa menyanyikan lagu First Of the Gang To Die bersama sang opa, Morrissey secara langsung. Namun perasaan itu akhirnya terkalahkan oleh gemerlapnya konser Weezer di tahun berikutnya. God is great!

Setahun setelahnya, saya juga dapat kesempatan untuk bisa nonton konser Bruno Mars, yang juga termasuk salah satu penyanyi favorit saya. Berdiri hampir di pinggir panggung dan bisa melihatnya dari dekat tentu saja bikin semangat membara. Setiap lagu yang dibawakan, saya ikut menyanyikannya keras-keras. Namun tetap, belum ada yang bisa mengalahkan rasa bahagianya saat berhadapan dengan Weezer. Well yes, Weezer adalah #KonserTerbaikGue lah pokoknya!

Dewi Ratna

No comments:

Post a Comment