Tiga Jam Jalan Kaki Demi Keindahan Ranu Kumbolo, Worth It!

Dalam bahasa Jawa kuno, seperti yang tertulis di site sastra.org, arti kata 'ranu' adalah banyu. Dalam bahasa Indonesia, banyu berarti air. 'Ranu' sendiri juga sering diartikan sebagai danau atau kolam. Begitulah, kenapa nama tempat-tempat yang berair atau berupa danau di sekitaran kaki Gunung Semeru selalu mengandung kata 'ranu'.

Bulan Mei lalu, saya dapat kesempatan jalan-jalan ke kaki Gunung Semeru bareng teman-teman. Sejujurnya, saya bukan anak gunung, tidak begitu tertarik menghabiskan banyak tenaga untuk naik gunung, dan tidak pernah ingin untuk mencoba naik gunung sampai akhirnya teman-teman 'memaksa' saya ikut ke Panderman awal tahun 2016 lalu.

Sebelum memutuskan untuk ikut mendaki Panderman, saya memang sudah punya keinginan pergi ke Ranu Kumbolo, salah satu danau yang berada di sekitaran kaki Gunung Semeru. Tergiur gambar-gambar indah yang dibidik teman-teman, tapi sayang tersendat nyali yang minim karena isu bahwa untuk bisa sampai ke sana butuh waktu 6-7 jam jalan kaki.

Misi mendaki Panderman dan berhasil sampai di Puncak Basundara sebenarnya termasuk cara saya tes kemampuan, sekalian pemanasan untuk pergi ke Ranu Kumbolo. Iya, saya akhirnya memutuskan untuk ikut setelah berhasil naik Panderman dalam keadaan hujan badai, dan tanjakan licin yang penuh cacing tanah super gendut di mana-mana.

Sayangnya, kami pergi ke Ranu Kumbolo saat Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) baru saja dibuka untuk pendakian. Sebelumnya, kawasan itu memang ditutup karena terlalu berbahaya di musim hujan. Parkiran motor di sekitar Ranu Pani sangat penuh. Mood langsung turun saat melihat banyak para pendaki masih terlantar di pos masuk.

Apa yang akhirnya kami lakukan? Berhenti sehari di Ranu Regulo sampai banjir para pendaki sedikit mereda. Baru keesokan paginya kami berangkat menuju Ranu Kumbolo yang ternyata bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama tiga jam saja dari pos masuk. Senang rasanya, bisa sampai di sana dan akhirnya melihat sendiri danau itu.

Cerita seru kami ini, bisa dilihat dalam dua video berikut...



Well, sejak berhasil mendaki Panderman, saya baru tahu kalau naik gunung ternyata menyenangkan. Kalau kamu sedang ingin suasanya yang tenang, memang gunung tempatnya. Meski begitu, saya masih tetap anak pantai, yang memang lebih suka party ketimbang mojok berdiam diri merenungi hidup, meratapi nasib.

Ah, bercanda. Jangan dimasukkan hati ya... ^^

Dewi Ratna

No comments:

Post a Comment