Kabut dan Partikel, Dua Tetes Embun Dalam Supernova: IEP

Merayakan 15 tahun Supernova, salah satu dari buku keren yang dibaca anak-anak keren pada masanya. Rasanya sudah menjadi sebuah kewajiban bagi para penggemar tiap seri buku Supernova, untuk membeli edisi pamungkas yang terbit 26 Februari lalu. Jadi kewajiban juga bagi mereka yang ingin hits, untuk punya buku ini biar bisa posting di socmed bahwa mereka sudah baca, terlepas dari kenyataan apakah mereka paham atau tidak apa yang diceritakan Dee Lestari dalam buku tersebut.

Ada baiknya kamu baca buku ini sambil ditemani lima kakaknya, supaya bisa langsung buka-buka lagi kalau kamu nggak yakin siapa dan apa peran tokoh-tokoh lama yang bermunculan kembali dalam tubuh si bungsu ini. Kalau kamu sudah antisipasi dengan baca semua serinya sebelum IEP lahir, maka selamatlah. Ada banyak kenangan yang diurai dalam edisi terakhir ini. Tentu saja, seperti yang sudah digadang-gadang, buku ini jadi wadah bertemunya semua tokoh utama dalam tiap seri Supernova.


Saya sendiri baru menyentuh tubuh mungilnya dua hari setelah mereka yang lain sudah membeli dari toko buku terdekat. Edisi spesial, bertanda tangan Dee Lestari berhasil membuat saya sabar menunggu. Hanya menimangnya sejenak, IEP sudah jatuh ke tangan ayah saya yang selalu seperti orang kalap kalau lihat buku baru. Apalagi beliau juga sudah mengikuti cerita Supernova ini dari buku pertama, pasti menyenangkan baginya walau harus melanjutkannya dalam 724 halaman. Saya masih sibuk bekerja, jadi biarlah.

Baru dua hari di weekend ini saya bisa mulai membukanya, meresapi halaman demi halaman, dan ikut terlempar ke masa lalu. Saya dibawa mesin waktu untuk mengingat kembali siapa itu Kell, Liong, Simon, Sati, Mpret, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh jadul lainnya. Zarah Amala dan Alfa Sagala mungkin nggak terlalu menghabiskan energi saya untuk mengingat, karena mereka dan sekitarnya memang belum terlalu lama juga dilahirkan. Seru sekali, sampai-sampai saya lupa kalau belum tidur semalaman.

Dalam dua malam, buku bersampul putih ini sudah berhasil saya tandaskan. Kenapa IEP warna sampulnya berbeda, karena dalam kisahnya, turunlah dua tetes embun dari Asko yang dalam pandangan Bodhi simpulnya bukan lagi merah seperti dia dan kawan-kawan Peretas yang lain. Simpul Gio dan Zarah berubah sewarna mutiara, putih dengan pendar warna pelangi, selepas mereka masuk ke dalam portal. Mereka berdua ternyata ditakdirkan untuk bersatu.

Jangan harap kamu menemukan sosok Peretas keenam, alias Peretas Puncak dalam buku ini. Dia yang dinamakan Permata baru akan lahir dan masih harus melewati 17 tahun hidupnya sebelum dibangunkan dari amnesia seperti para Peretas yang lain. Permata itu rupa-rupanya bakal lahir dari rahim Zarah, hasil pembuahan dari Gio yang sudah dipercaya untuk memegang batu milik Permata. Well, ada rasa puas di tengah rasa nggak puas, kalau IEP memang jadi seri terakhir.

Dari buku ini, kita toh belum tahu apakah benar Gio berhasil menikahi Zarah. Atau jangan-jangan Permata malah lahir dari Elektra yang di ending cerita makin dengan dengan Mpret. Bisa jadi juga Permata ternyata adalah Diva yang bereinkarnasi. Masih banyak kemungkinan yang bisa terjadi setelah membaca ending dari Supernova: Inteligensi Embun Pagi ini. Entah kenapa, saya berharap akan ada lagi buku lanjutannya, walau tidak dengan judul Supernova.

Bisa jadi, tujuh belas tahun dari sekarang Dee Lestari bakal bikin buku lanjutannya. Who knows? Yang jelas buku terakhir ini pertama-tama saya senang karena diberi judul dengan keyword Embun Pagi, versi Indonesia dari nickname saya. Dan setelah tahu kalau Peretas terakhir adalah Permata, saya sempat berpikir jangan-jangan dia adalah saya, karena Ratna berarti Permata. Krik! Abaikan candaan saya yang nggak lucu, karena saya bukan Elektra yang menggemaskan.

Last, kalau someday buku ini akan diadaptasi jadi film, saya berharap produsernya total. Kisah semenarik ini seharusnya dieksekusi setara dengan film Da Vinci Code atau film-film superhero Hollywood yang animasinya nggak ala-ala rajawali terbang di sinetron silat Indonesia. Siapa tahu filmnya nanti bakal jadi film Indonesia pertama yang memenangkan salah satu kategori piala OSCAR. Nggak apa kan punya angan-angan seperti itu, Ibu Suri Dee Lestari? :D

Dewi Ratna

3 comments:

  1. Yuhu apa yang saya pikirkan semua ditorehkan disini, berharap ada kelanjutan & berharap bila di filmkan mampu mengeksekusinya dengan sangat baik karena agak trauma ya lihat film yg di adaptasi dari novel, terkadang jalurnya nggak sejalan

    ReplyDelete
  2. Tapi, sempat disenggol bukannya embunnya melebur dalam diri Gio dan Zarah, mirip judul ini, dan kalo tebak-tebakan sih Permata bakal lahir dari keduanya, kec. ada drama putus nyambung putus nyambung, haha sinetron banget laan.

    ReplyDelete
  3. waw very interesting bgt karena kebetulan2 yg ada, Embun Pagi dengan Morning Lover, Permata dengan Ratna heuheuheu.... Atau memang benar bahwa permata adalah dirimu :D *ikut menghayal gila

    Cant wait banget karena memang Dee akan menulis buku tentang peretas terakhir ini. Saya kangen sekali masuk ke dalam "romantisme" antara zarah dan gio hahahahhahha..

    Setuju bangetttt juga harus dibuat film dan *dieksekusi setara dengan film Da Vinci Code atau film-film superhero Hollywood* :D

    ReplyDelete