Satu Dekade Perkembangan Teknologi di Indonesia, Yay or Nay?

Dekade memang sering dijadikan acuan buat menilai sejauh mana sesuatu berkembang di dunia. Dalam satu dekade, nggak mungkin deh nggak banyak hal yang berubah. Pola pikir kita pun pasti juga berubah dalam kurun waktu tersebut. Iya kan?

Saya tinggal di Indonesia sejak lahir, sampai sudah segini. Nggak perlu lah saya sebut angka ya. Hehehe... Dalam jangka satu dekade, ada banyak hal yang terjadi dan berubah dalam hidup saya, nggak hanya dalam urusan pribadi dan hati. Ciee...

Coba saya telisik, apa saja sih yang berubah di lingkungan sekitar saya sepanjang 10 tahun tersebut?

Yang pertama, gimana style berkembang sejak 2006 lalu? Saya lagi stay di Jakarta masa itu, dan sedari dulu memang demen banget dandan casual. T-shirt, jeans, dan kemeja (yang beken disebut) flanel, jadi andalan banyak cewek di era itu.

Dandanan, sepanjang ingatan saya, nggak banyak tuh cewek, apalagi yang masih remaja, yang menor dengan make-up tebal macam topeng. Kecuali jika mereka lagi dapat undangan party kali ya, baru lah bibir merah merekah di mana-mana.

Saya hidup di lingkungan cewek-cewek yang juga punya gaya santai, jadi sepertinya saya nggak terlalu ngikutin perkembangan mode dan kecantikan di luar lingkungan terdekat saya itu. Tapi... Saya sering celometan komentarin dandanan orang sih.

Jadi, sejak 2006 hingga sekarang ini, untuk urusan mode kayanya semakin ke sini semakin irit. Kok bisa? Iya! Cewek-cewek semakin irit kain untuk bahan pakaian mereka. Terbukti, semakin banyak paha dan ketiak bertebaran di jalan-jalan. Hehehe...

No hard feeling, ini sih dari penilaian saya, apa yang saya lihat dengan mata kepala sendiri. Terkadang, saya pun pengen sesekali pakai baju-baju seperti itu. Dan di dalam 'terkadang' itu, saya juga merasa lebih pede dan gaya saat memakainya.

Untuk urusan make-up, saya memang bukan ahlinya. Bahkan untuk memakai bedak saja, tunggu nenek saya ngomel dulu. Tapi sepanjang 10 tahun belakangan ini, tampakanya cewek-cewek sudah makin mahir menghias alis, mata, dan bibir. Kamu juga?

Segala perubahan itu tentu saja nggak lepas dari pengaruh perkembangan lain, sebut saja dia 'teknologi'. Kembali ke 2006, saya cuma punya ponsel layar monochrome di awal tahun, sebelum akhirnya menggenggam PDA O2 beberapa bulan setelahnya.

Kalau ditanya, apa perkembangan teknologi sepanjang 10 tahun ini berpengaruh buruk atau baik, jawabannya tentu saja: itu relatif. Semua tergantung dari para pengguna teknologi itu sendiri, kembali pada masing-masing individu sih ya.

Hubungan perkembangan mode dan kecantikan tadi pun erat kaitannya dengan teknologi. Semakin banyak wadah untuk berbagi informasi dalam teknologi yang bernama internet sekarang ini. Gaya busana up to date dan tutorial make-up pun laris dicari.

Sebagian orang menyalahkan perkembangan teknologi, karena dianggap merusak moral anak bangsa. Tontonan saru beredar dengan bebas dan bisa diakses siapa saja dari segala usia. Salah siapa? Saya juga nggak tahu. Mungkin ada yang bisa kasih tau?

Segala hal, kalau nggak dipakai secara berlebihan, sesuai dengan porsinya, tentu nggak bakal bikin mabuk. Teknologi pun. Seharusnya orang terdekat mengarahkan supaya anak bangsa ini nggak terlalu addict sama teknologi, apapun itu bentuknya.

Bukan mengarahkan, mungkin lebih tepatnya orang tua seharusnya menutup akses ke arah hal-hal yang bakal berpengaruh negatif bagi anak di bawah umur itu sejak awal. Jika mereka dapat aksesnya dari luar rumah, datangi sumbernya, habisi! Widih...

Sebenarnya, ada banyak hal positif yang bisa kita dapat dari berkembangnya teknologi ini. Ilmu pengetahuan yang semakin mudah didapat, juga tersalurkannya talenta dalam bidang apapun, lewat media-media yang kini makin banyak tersedia.

Seperti saya nulis blog buat ikut tantangannya Raditya Dika yang lagi nyari blogger dream team, kamu juga bisa ikutan. Kadang kalau lagi khlaf, saya juga iseng bikin audio atau video saya lagi nyanyi berantakan sambil main ukulele atau gitar.

Well, nggak bakal ada habisnya sih kalau ngomongin perkembangan teknologi dan pengaruhnya bagi Indonesia. Yang paling utama dibutuhkan di sini adalah filter, baik itu dari orang-orang terdekat maupun pemerintah yang notabene pegang kuasa itu.

Ini kalau dilanjutkan, bisa sampai bahas KPI dan ketidakrelevanannya dalam memilih konten untuk dilarang atau nggak nih. Ya, yang penting nasib Netflix jangan sampai sama seperti Vimeo deh kalau di era sekarang ini ya. Hehehehe...

Nah, daripada puyeng mikirin pengaruh perkembangan teknologi, gimana kalau kita traveling saja. Kalau ditanya, soal tempat wisata paling oke di Indonesia sepanjang 10 tahun belakangan ini, saya tentu saja masih pegang pantai lah ya.

Indonesia, seperti yang ada di pelajaran SD, merupakan negara bahari. Sebagian besar wilayahnya laut. Lihat saja, tiap pulau yang berjajar dari Barat ke Timur itu punya banyak pantai indah yang nggak bakal habis dikunjungi dalam satu dekade.

Kalau kamu bukan 'anak pantai', juga masih ada gunung untuk didaki. Biasanya, mereka yang pembawaannya kalem tuh bakal lebih cocok sama gunung ketimbang pantai. Indonesia pun juga punya banyak sekali tujuan bagi mereka yang suka mendaki ini.

Sayangnya, seiring berjalannya waktu, dengan campur tangan pihak pemerintah setempat yang notabene pegang kuasa itu tadi, tempat wisata indah pun pelan-pelan berubah nggak lagi alami. Banyak dibangun apa-apa di sana-sini, mengurangi indahnya.

Belakangan, teknologi juga disalahkan karena punya andil bikin gambar tempat-tempat indah di Indonesia jadi tersebar di dunia maya. Katanya sih, gara-gara itu jadi banyak 'alay' yang ke sana cuma buat numpang selfie dan ngerusak.

Kembali lagi, itu dari individunya, dan tentu saja filter juga berpengaruh di sini. Sebelum tempat-tempat itu rusak, harus ada antisipasi. Bikin peraturan yang super ketat dan kasih penjaga super galak, yang bikin para 'alay' keder misalnya. :D

Huft... Setelah ocehan panjang kali lebar kali tinggi ini, saya jadi lapar. Sudah hampir malam di sini. Kalau 10 tahun yang lalu kita cuma punya sedikit pilihan tempat kongkow, 2016 sih nggak perlu khawatir, apalagi di kota Malang ini.

Sepanjang 10 tahun belakangan memang semakin banyak cafe dan resto dibuka di Malang. Ada yang bertahan lama, ada juga yang umurnya singkat. Kebanyakan dari mereka sih sama saja suguhannya. Paling-paling yang bikin beda dekorasi tempatnya.

Teknologi juga nih yang bikin menjamurnya cafe di berbagai kota ini masih tetap laku. Kalau pilihan menu dan rasa kurang berkenan, setidaknya masih ada dekorasi yang Instagram-able untuk dipamerin paralel ke Twitter, Facebook, dll.

Mereka yang kreatif dan inovatif, tentu saja yang bakal selalu laku dagangannya. Andai dekorasi sudah bikin orang-orang bosan, kini packaging yang 'dijual'. Minuman saja, ada yang dikemas dalam botol lucu, dot bayi, bahkan kantung darah.

Tapi ya... gitu deh... Semakin aneh-aneh makanan dan minuman yang djual di cafe dan resto yang menjamur di kotamu, semakin dekat pula tubuh kita dengan penyakit. Bahan makanan dan minuman yang mereka pakai, apa kita tahu aman atau nggak?

Meski begitu, saya termasuk orang yang suka nongkrong di cafe dan resto juga sih. Meski cuma pesan black tea lychee iced dan crispy tofu, yang penting kan gaya hidup masa kini banget, seperti nama menu-menu itu. Apa yang dicari? Wifi. Hehehe...

Yap! Gaya hidup kekinian, belajar kelompok nggak lagi di rumah teman, tapi bisa di cafe dan resto. Habiskan malam Minggu, nggak lagi nongkrong di depan gang, tapi pergi ke beer house sambil rasan-rasan guru paling jahat di sekolah.

Oh... Betapa, 10 tahun sudah berlalu, dan kabar baiknya: saya masih tetap cute seperti pada mulanya.

So, gimana ceritamu soal perkembangan teknologi di Indonesia sepanjang 10 tahun ini? Apa teknologi jadi anugerah atau justru kutukan buatmu?

Dewi Ratna

2 comments:

  1. Iya, kamu tetep cute kok sampai dekade berikutnya. Bener ini bukan modus --> dekade sebelumnya pake istilah gombal

    ReplyDelete
  2. Udah mbak, paling bener makan pangsit mek 2 ewu

    ReplyDelete