17 Tahun Begundal Lowokwaru, Party Reuni Para Peminum

Sore itu cuaca cerah dan bersahabat, setelah sedari pagi kota Malang diguyur hujan yang dibarengi angin kencang. Sudah hampir gelap saat saya dan dua teman se-geng berangkat dari bilangan Araya menuju 'cafe-nya para musisi', God Bless yang kini buka cabang persis di samping Telkom Blimbing.

Sampai venue, parkiran masih lengang. Kami pergi mengisi perut, supaya bisa konsentrasi dan tidak getar saat pegang monopod kamera nanti. Di seberang ada warung sambel favorit, yang terkenal murah dan enak. Kami pun buru-buru menuju TKP demi segera menyelamatkan si Patrick, penunggu perut saya.

Bukan sulap, bukan sihir. Parkiran sudah padat saat kami kembali dari warung seberang. Kami memutuskan untuk memulai dari pintu depan. Saya berdiri santai di balik pintu kaca, sambil memegang monopod yang di ujungnya sudah tertancap kamera Xiaomi Yi hasil pinjam dari seorang teman yang baik hati.

Masih juga dengan santai, kami membiarkan kamera merekam siapa saja yang masuk ke dalam gedung melalui pintu kaca itu. Sampai dirasa cukup, baru akhirnya kami masuk ke dalam, dan melewati pintu pengecekan tiket dengan mulus. Tentu saja, kami tengah mengemban tugas mulia hari Rabu (27/1) malam itu.

Semulia apa tugas itu? Nanti akan kami ceritakan di seri berikutnya dari tulisan semacam ini. Yang jelas, malam itu God Bless Cafe penuh tua-muda, kawan ataupun penggemar Begundal Lowokwaru, yang ingin ikut merayakan ulang tahunnya yang ke-17. Seperti biasa, mereka berpesta seolah esok bukan hari kerja.

Ngomong-ngomong soal Begundal Lowokwaru, band ini memang dibentuk tahun 1999. Kalau saya putar waktu, di era itu awal saya kenal sama yang namanya musik ska dan punk dari kawan-kawan baru. Pertama kali saya berkunjung ke tongkrongan mereka di Mitra 2, saya masih gadis lugu berseragam SMA yang licin.

Beberapa dari mereka yang nongkrong di sana juga ada yang cewek. Dan dari beberapa cewek itu, tampaknya memang tidak ada yang suka sama saya. Belakangan, saya akhirnya tahu kenapa mereka sengak sekali waktu itu. Salah seorang dari mereka bilang kalau saya terlalu sombong, sampai-sampai tak mau ikut mereka duduk lantai.

Sebelum dia cerita, lambat laun sejak saya sudah tak pernah lagi nongkrong di sana, saya sadar sendiri sih kalau sikap saya waktu itu memang kelewat sombong. Tapi semua itu sudah tidak perlu dibahas lagi. Pada akhirnya, toh kami berkawan sampai saat ini, meski masing-masing sudah jarang bertemu atau kontakan.

Kembali ke Begundal Lowokwaru. Di malam yang gaduh itu, kawan-kawan lama berkumpul membawa banyak cerita untuk saling dibagi. Di sebuah sudut, di meja-meja yang disusun memanjang, mereka semua seperti reuni dadakan, dan minum bareng lagi. Masih Sapu yang jadi pengendali botol. Jangan khawatir tak kebagian.

Tawa membahana dari mereka yang bergabung di meja panjang itu. Sementara di sudut-sudut lain pun tampak bergerombol tua-muda yang tidak ikut gabung di meja panjang, tapi sama-sama minum. Seolah sebuah aturan tidak tertulis, kalau datang ke gigs dari skena apapun itu, alkohol adalah harga mati. Ada amin?


Saya memilih bergerombol saja bersama geng saya yang tak menyentuh alkohol malam itu. Kami harus fokus, jangan sampai melewatkan detil pesta. Dan syukurlah, semua berjalan dengan baik. Selain kamera yang keburu habis baterainya, saya punya memori otak untuk menyimpan kenangan yang buru-buru saya tulis ini.

Ada Tropical Forest sebagai pembuka pesta malam itu, tepat di jam delapan. Suguhan musik regae bikin mereka yang ada di depan panggung sedikit bergoyang, dan terkadang pun ikut menyanyi. Disusul kemudian dengan penampilan dari Crimson Diary, yang seperti biasa, spektakuler dengan suguhan musik mereka yang berdesing-desing.

Suasana mulai panas saat Nganchuk Crew naik panggung. Meja panjang di depan cafe pun seketika kosong. Semua yang tadinya haha-hihi di sana ikut masuk ke ruang kotak tempat panggung ditancapkan itu. Musik hiphop mereka, tak bisa dipungkiri, memang selalu sukses bikin orang put their hands in the air sambil goyang.

Dan tibalah di puncak acara. Setelah pintu tiket dibereskan, semua merchandise yang dijual pun dimasukkan ke dalam mobil, dan area pintu masuk dibebaskan dari tarikan duit, para kawan dan fans Begundal Lowokwaru pun menyerbu ruangan kecil itu untuk bersama-sama merayakan 17 tahun band street drunk rock kota Malang itu.

Neding pegang kendali. Sebagai MC papan atas dan berbakat di kota, dia sukses bikin acara malam itu makin meriah. Sebelum Begundal Lowokwaru mulai memainkan lagu mereka, Neding meminta Cipeng untuk menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun untuk band-nya sendiri. Lilin pun dinyalakan, lalu ditiup bersama-sama.

Kepulan asap rokok, aroma alkohol, dan teriakan ngotot bercampur baur dengan gebukan drum Gundhul, betotan bass Agek, kocokan gitar Kadek dan Celeng, juga suara khas Cipeng. Mereka yang menonton pun sing along. Kamu tak perlu lah meragukan seberapa kenal mereka yang ada di sana dengan Begundal Lowokwaru.


Ada 17 lagu yang mereka masukkan dalam setlist malam itu. Sayangnya malam semakin larut, dan saya keburu pulang duluan tanpa sempat mencuri kertas tersebut. Tapi dari beberapa lagu di awal yang sempat saya nikmati dari belakang panggung, semua bikin saya merinding dan tanpa sadar pun berkaca-kaca.

Tidak bisa saya ungkapkan alasannya, karena saya sendiri juga tak tahu kenapa begitu. Yang jelas, saya seperti ikut merasakan bagaimana mereka tumbuh, dari band antar kota-kota kecil, sampai akhirnya bisa keliling Indonesia. Saya seperti ikut menjadi bagian dari mereka sejak lahirnya, 17 tahun yang lalu.


Well, selamat ulang tahun Begundal Lowokwaru. Teruslah berkarya, jangan berhenti bikin lagu, tiap tahun rilis album, dan tetaplah liar serta jumawa dari panggung ke panggung!

Dewi Ratna

No comments:

Post a Comment