Pantai Ngudel dan Keindahan Langit Jingganya di Kala Sunset

Saya bakal kasih kalian bocoran satu lagi pantai indah di Kabupaten Malang, tapi harus janji kalau ke sana bawa trashbag dan jangan meninggalkan apapun kecuali jejak kakimu di pasirnya yang lembut. Kalau kalian ngerasa nggak sanggup, then don't read this shit. Deal?

Sebulan yang lalu, segerombol pemuda yang menamakan diri mereka 'geng kurang piknik' mengajukan tawaran menggiurkan pada saya. Of course, mana pernah saya bisa menolak ajakan berkunujung ke istana dewa ubur-ubur, alias pantai? Kondang Buntung, ke sana mereka menyeret saya.

Dan kali ini, saya lagi-lagi dibuat berdecak kagum akan keindahan semesta dan printilannya yang bernama bumi. di mana Indonesia, Jawa Timur, Malang, dan pantai Ngudel melekat di permukaannya. Kali ini saya bersama geng #natgeongudel memilih berangkat selepas subuh menggunakan mobil.

Kami beranjak dari meeting point di bilangan Sengkaling, dan menghabiskan waktu sekitar dua jam untuk sampai lokasi. Aksesnya nggak susah, hanya ada sedikit makadam (jalan berbatu). Pemandangan menuju ke sana pun sangat ramah untuk mata yang sudah penat sebulan ngadep layar melulu.

Pantai Ngudel ini cukup sepi. Kami ke sana hari Minggu, yang notabene merupakan hari sibuknya tempat wisata. Tapi di sana hanya ada beberapa pengunjung lain yang hanya sepintas lalu balik. Hanya kami yang bertahan dari pagi hingga matahari senja beranjak menjemput malam. Aaaelah...

Landscape di sana sangat indah. Sayangnya saya nggak sempat ikut mendaki bukit di sebelah kiri yang katanya view-nya lebih indah. Di kunjungan berikutnya, saya kudu menyempatkan diri untuk naik ke sana! Sementara ini, kudu puas berenang di sudut pantai dan memandang langitnya saja.

Di sekitar pantai Ngudel ini, tidak banyak pepohonan untuk berteduh. Tapi di sana sedang ditanam cemara udang yang kalau kata Limbang bakal tumbuh tinggi. Untuk saat ini, kalian mungkin bakal ngerasa gersang di sana. Tapi tahun depan, pengelola sudah mempersiapkan Ngudel untuk ramah pengunjung.





Kami berenang sampai puas mulai jam tiga sore, saat air laut sedang surut-surutnya, hingga menjelang senja. Ada sedikit spot di ujung kiri yang posible buat berenang, sementara sebagian besar pinggiran pantainya susah ditaklukkan karena ombak yang nggak bersahabat dan karang yang tajam di dalamnya.

Belum ada listrik di sana. Mereka yang punya bilik-bilik toilet, menyalakan pompa air dengan genset. Hanya ada beberapa bangunan yang letaknya terpisah-pisah. Mungkin tahun depan mereka sudah punya warung-warung ikan bakar di sana. Lucky me, main ke sana saat kondisinya masih alami.

Ada mas-mas berseragam SAR yang berbekal motor trail, beberapa kali memantau keadaan. Nggak banyak bicara, dia cuma ngelihat ke kiri dan ke kanan sejenak, lalu beranjak lagi. Seekor anjing -mungkin milik warga setempat- berkeliaran di dekat kami, berharap diberi sisa makanan yang kami makan.

Setelah bilas badan dan makan, pantai sudah benar-benar hanya milik kami bertujuh. Kami duduk berjajar menghadap arah jatuhnya sunset, dan beginilah keindahannya...



Kalau ada di antara kalian yang mau ke sana, jangan lupa pesan saya tadi: BAWA TRASHBAG DAN JANGAN TINGGALKAN APAPUN KECUALI JEJAK KAKIMU DI PASIRNYA YANG LEMBUT!

Dewi Ratna

1 comment: