Kreatif dan Inovatif, Repoeblik Telo Naikkan Derajat Bahan Pangan Ini

Ngapain kalian malam Minggu gini? Jalan sama pacar? Hangout bareng teman-teman? Atau cuma diam di rumah karena LDR atau memang jomblo? Kalau saya, ada tugas negara yang harus diselesaikan di sebuah hotel yang lagi naik daun di Kota Malang, MaxOne. Yap! Pekerjaan saya yang sekarang lumayan seru, dan kadang ngebantu lupa kalau ternyata saya lagi single. Ingat! Single ya, bukan jomblo.

Setelah topik utama kelar dibahas, seperti biasa, obrolan dengan pak manager S&M dan pak GM pun berlanjut ke hal-hal yang bikin saya dapat banyak pengetahuan baru. Selama kenal mereka, belum pernah kami ngobrol secara nggak bermutu kalau lagi melingkar di meja seperti malam ini. Pak manager dengan segelas draft beer, pak GM dengan sebotol kecil bir, dan saya cukup dengan smoothies leci.

Kami membahas banyak hal, mulai dari rasa penasaran sama hotel yang baru saja berdiri di Pasuruan, bagaimana iklan-iklan yang mereka pasang membawa dampak bagi pemasukan hotel, bagaimana entertain memang butuh lebih banyak duit ketimbang pasang iklan, hingga rasan-rasan soal mengapa bisnis kuliner seringkali cepat surut animo masayarakatnya. Namun ada satu yang kami amini kehebatannya.

Pak GM ngajakin tebak-tebakan, bisnis kuliner apa di Kota Malang yang menurut saya dan pak manager S&M paling sukses dari awal dibangun hingga kini semakin besar. Saya pun dengan penuh percaya diri menjawab, "Absolutely bakpao telo."

Tebakan saya tepat. Pak GM mengamini bahwa usaha kuliner di bilangan Lawang itu memang sukses besar mengubah banyak hal. Yang pertama, mereka berhasil mengubah mindset orang pada umumnya soal telo. Dulu, setiap menyebut kata 'telo', orang pasti langsung mengawinkannya dengan 'Gunung Kawi'. Namun kini, jika mendengar kata 'telo', yang terbayang pertama kali adalah gerai raksasa bakpao telo.

Kedua, mereka berhasil menaikkan derajat telo, yang dalam bahasa Indonesia disebut ubi itu dari bahan pangan super sederhana menjadi jajanan lezat dan berkelas dalam balutan kemasan elegan bernuansa ungu. Yap! Telo ternyata nggak cuma bisa direbus atau digoreng di rumah dan dinikmati bareng teh hangat, tapi telo juga bisa jadi ikon Kota Malang yang banyak diburu wisatawan untuk oleh-oleh.

Kemudian yang ketiga, mereka berhasil membesarkan bisnis kuliner telo ini karena ide kreatif dan super inovatif. Kenapa mereka nggak termasuk dalam jajaran pejuang bisnis kuliner yang enam-bulan-sudah-keok seperti pada umumnya? Ya karena mereka nggak hanya berhenti di bakpao saja. Gimana orang bisa bosan, kalau hampir selalu ada inovasi baru di gerai yang kini berjuluk Repoeblik Telo itu?

Jangan cuma baca cerita saya deh. Mendingan kamu datang sendiri ke gerai mereka untuk membuktikan bahwa telo nggak cuma bisa jadi camilan sore di piring kecil milik ibu. Telo bisa jadi bakpao, es krim, burger, bakpia, dan masih banyak lagi. Kamu juga boleh menjadikan Repoeblik Telo sebagai inspirasi. Segala usaha akan semakin maju jika ada sosok kreatif dan inovatif di dalamnya. Benar?

Dewi Ratna

No comments:

Post a Comment