Bumbu Drama The Little Prince, di Luar Ekspektasi!

"Kau hanya bisa melihat jelas dengan hatimu. Hal yang penting, tak terlihat oleh mata," ujar sang rubah dalam buku The Little Prince.

Kalau kamu termasuk penggemar The Little Prince, bisa dipastikan, kamu hafal alur ceritanya di buku, dari awal hingga selesai. Bahkan kamu juga pasti punya tokoh-tokoh favorit dalam cerita tersebut kan? Setidaknya, itulah yang terjadi pada saya yang menjadi salah satu fans si rubah.

Saya termasuk orang yang super telat baca bukunya. Tahun 2009, di ruang tamu rumah saya, seorang teman menggambar sosok Prince dalam sebuah kertas karton. Dia membuatnya jadi semacam kartu ucapan, dan diberikannya pada saya. Saat saya bertanya, 'apa itu The Little Prince?', dia hanya tersenyum.

Google, penyelamat! Lalu, harus menunggu dua tahun, sampai akhirnya saya membeli sendiri buku itu, membacanya, dan membuat kesimpulan. Meski saat saya share dengan teman yang membuatkan saya gambar The Little Prince itu, dia ternyata punya versinya sendiri dalam menyimpulkan isi cerita.

Isi buku yang -bagi saya- merupakan versi perumpamaan dari berbagai sifat manusia pada umumnya ini, dibikin jadi drama oleh para penulis naskah dan Mark Osborne, sang sutradara animasi The Little Prince. Sungguh di luar ekspektasi, mereka menyisipkan tokoh selain yang saya kenal dalam buku.

Saya sempat berharap, obrolan Prince dengan tiap orang dan makhluk yang ditemuinya di tiap tempat berbeda itu jadi lebih panjang dan dalam. Saya sempat berharap, petualangan Prince dengan sang pilot di gurun pasir jadi lebih seru dan penuh tantangan. Tapi semua itu nggak terwujud adanya.

Tokoh gadis kecil yang justru jadi lakon dalam animasi ini. Gadis kecil dengan kehidupan sangat membosankan, dengan daftar kegiatan yang sudah ditentukan jam-jamnya, yang tertata rapi dalam papan besar. Gadis kecil yang setiap hari harus bergelut dengan buku pelajaran setebal KBBI.

Kalau kamu ingat, dalam bukunya, sang pilot juga mengalami hal serupa saat masih kecil. Ingat cerita saat dia menggambar ular yang berbentuk seperti topi? Yap! Saat itu dia berimajinasi bahwa si ular sedang memakan gajah. Tapi sayang, ditertawakan orang dewasa membuatnya berkecil hati.

Hubungan gadis kecil dengan Prince bermula dari perkenalannya dengan sang pilot, tetangga sebelah rumahnya. Tentu saja, sang pilot sudah sangat tua saat mereka berkenalan. Dari gambar-gambar dalam kertas yang dibuat sang pilot, gadis kecil akhirnya penasaran akan kisah sang pangeran kecil.

Karakter gambar dan tone warna berubah saat film mulai mengisahkan perjalanan sang pilot bertemu Prince di gurun pasir. Saya pribadi, lebih suka gaya animasi kisah prince ketimbang kisah gadis kecil. Ada mawar, raja, orang sombong, pengusaha penghitung bintang, rubah, dan juga ular.

Mereka tidak menghadirkan pemabuk, penyala lampu, dan pembuat peta dalam filmnya. Tapi mereka punya Prince versi dewasa, dan bekerja. Yap! Seperti orang dewasa pada umumnya, yang dalam cerita ini dikatakan 'membosankan', Prince bekerja dan jadi menyebalkan karena terlalu fokus.

Nggak ada drama memang dalam kisah Prince. Film yang diadaptasi dari novel kenamaan karya Antoine de Saint-Exupéry ini justru bikin berkaca-kaca saat si gadis kecil naik sepeda di bawah hujan deras, demi mengejar ambulans yang membawa sahabatnya, sang pilot tua yang sakit itu ke rumah sakit.

Di tengah kondisi kakek pilot yang sedang sakit itu, ia lalu berjuang menemukan Prince, untuk membawanya kembali pada sang mawar, yang di awal cerita ditinggalkannya untuk berkelana dari asteroid ke asteroid, hingga ke planet Bumi. Rupanya, gadis kecil ingin a happy ending dari kisah Prince.

Setelah berjuang melawan raja, orang sombong, pengusaha penghitung bintang di setting tempat yang lain, Prince dewasa yang ia temukan dengan naik pesawat milik pilot tua, akhirnya bertemu dengan sang mawar. Sang mawar sudah mati dan kering, tapi Prince kembali jadi anak-anak lagi.

Yap! Endingnya dari kisah Prince maupun si gadis kecil memang kurang greget. Kesimpulannya, bagaimanapun juga, The Little Prince versi buku masih jauh lebih memuaskan ketimbang filmnya. Apalagi di Indonesia, diperparah dengan beberapa subtitle yang nggak sinkron dengan obrolan aslinya.

Ada yang punya pendapat lain?

Dewi Ratna

1 comment:

  1. Ah, aku punya bukunya, tapi lupa ceritanya. Kubaca waktu SD. Jadi pengen nonton T___T

    ReplyDelete