Belajar Ikhlas Dari The Little Prince 1974, Tonton Videonya!

copyright nnm.me
Usia saya masih terlalu muda saat kami pertama kali bertemu. Kalau ada istilah telat nakal, ya, saya adalah salah satu bagian di dalamnya. Masih ingin bersenang-senang, saya nggak terlalu notice pada buku-buku dan film yang dia rekomendasikan di tahun-tahun itu. Terlalu berat, pikir saya.

Kalaupun ada rekomendasi dia, film yang saya tonton atau buku yang saya baca, itu lebih karena momen di baliknya. Seperti buku Sepetak Rumah Untuk Tuan Biswas yang dia berikan bersama sebungkus nasi Padang, tepat di hari ulang tahun saya ke-21, sambil bertanya, "Will you marry me?"

Saya sama sekali belum mengenalnya, dan nggak tahu dia siapa. Tapi kebodohan saya sebagai remaja yang akhirnya menuntun saya menerima tantangannya. Sampai kini, saya sangat bersyukur pernah mengenalnya. Jika bukan karena dia, nggak akan ada saya yang setangguh ini bediri di sini.

Well, kembali pada buku dan film rekomendasi dia, dan kali ini kita akan berfokus pada film saja. Banyak sekali film yang kami tonton bersama sambil bergelung di dalam selimut, di atas kasur, saat Jakarta musim hujan. Kebanyakan di antaranya terlalu berat, bahkan sangat berat buat saya.

Saya nggak ingat pernah nonton film The Little Prince. Bahkan jauh sebelum saya dapat kartu bergambar Prince, dan tentu saja lebih jauh lagi sebelum saya beli bukunya. Seorang teman merekomendasikan saya menontonnya semalam, dan ternyata film ini salah satu yang pernah kami cumbui bersama.

Akhirnya saya menonton ulang, dan berusaha fokus sejak awal. Tentu saja sangat mudah, karena saya sudah entah berapa puluh kali membaca bukunya, baik yang versi jadul maupun yang terakhir saya beli. Saya heran sempat melewatkan film sekeren ini, dan lebih memilih fokus pada bau ketiaknya.

As I said, usia saya masih terlalu muda saat kami pertama kali bertemu. Berpelukan saat hujan turun masih lebih menyenangkan ketimbang harus fokus menonton film dan memutar otak untuk memahami maksudnya. Well, sekarang saya jadi tahu kenapa dia mengajak saya menonton film keren ini.

Kalau di tulisan sebelumnya saya sempat kecewa karena mendapati cerita dalam animasi The Little Prince nggak sesuai ekspektasi saya, malam tadi saya sangat terpuaskan. Lalu saya jadi lebih memahami dan mencintai kisah romantis yang diadaptasi dari novel karya Antoine de Saint Exupéry ini.

Film musikal ini punya daya tarik super unik. Aksen para pemainnya pun sungguh menyenangkan di telinga. Apalagi mendengar tawa sang pangeran yang sangat renyah, bikin kamu bakal ingin menontonnya lagi besoknya. Setidaknya, itulah yang saya lakukan sebelum berangkat ke kantor pagi tadi.

Saya nggak lagi melihat kisah ini hanya berisi tentang perumpamaan sifat-sifat manusia pada umumnya. Saya nggak lagi hanya terfokus pada kalimat penting si rubah yang jadi favorit saya. Yang jauh lebih penting dari itu semua, saya jadi tahu satu hal: seseorang atau sesuatu akan jadi istimewa dalam hidup kita, karena kita sendiri yang membuatnya jadi istimewa.

Sang pangeran harus menepis kecewa karena ternyata mawarnya bukan satu-satunya yang ada di semesta ini. Bukan karena itu, sang pangeran harus bisa mencintai sang mawar sebab dia memang ingin menjadikannya istimewa di antara mawar-mawar lain yang pada kenyataannya super banyak jumlahnya itu.

Rubah akan jadi rubah pada umumnya, jika sang pangeran tidak menjadikannya istimewa dengan menemaninya sepanjang hari, dan akhirnya berhasil menjinakkannya. Dan meski menyakitkan, dalam setiap perjumpaan bisa dipastikan ada perpisahan. Perpisahan lalu akan menjadi awal dari perjumpaan selanjutnya.

Misi bunuh diri sang pangeran adalah jalan yang telah dipilihnya dengan ikhlas, demi bisa kembali ke rumahnya dan bertemu dengan sang mawar yang sangat ia cintai. Terlepas dari kebohongan yang dikatakan sang ular, yang jelas sang pangeran bisa mati dengan tenang, karena yakin bahwa ia ada dalam perjalanan menuju sang kekasih.

Ikhlaslah, jangan pernah takut pada apa yang akan terjadi setelahnya.


Dewi Ratna

No comments:

Post a Comment