Mendaki 3 Kilometer Demi Jazz Ijen Banyuwangi 2015

Sudah lewat senja saat kami sampai di Desa Jambu, Kecamatan Licin, Banyuwangi. Di luar perkiraan, macet panjang bikin puluhan mobil tidak bisa naik lokasi acara Jazz Ijen 2015. Jalanan akhirnya ditutup agar tak semakin banyak yang ngotot naik ke kaki kawah Gunung Ijen itu.
Sambil mencari cara untuk nekat naik, kami menunggu di parkiran bersama beberapa pengunjung lainnya. Memperhatikan polisi yang mengatur lalu lintas malam itu, kami tersadar, Jazz Ijen tahun kedua ini tampaknya lebih menarik animo masyarakat, ketimbang sebelumnya.
Jam hampir menunjukkan pukul delapan. Tiga jam penantian, akhirnya kami pilih naik ojek meski tetap dihadang polisi. Tukang ojek paruh baya itu mengaku penduduk setempat. Benar saja, melewati hutan, kebun cengkeh, kebun kopi, pinggiran jurang di jalan sempit pun beliau lihai.
Makin ke atas makin dingin. Di luar ekspektasi, ternyata jauh juga jalan menuju lokasi dari tempat pak polisi menyuruh kami jalan kaki tadi. Kata bapak tukang ojeknya sih masih sekitar tiga sampai empat kilometer. Bisa dibayangkan andai kami benar-benar jalan kaki!
Namun jarak tiga kilometer dari bawah tadi ternyata tak menyurutkan semangat beberapa gerombol orang yang ingin menonton Jazz Ijen Banyuwangi 2015 itu. Kami bertemu dengan mereka yang gigih berjalan kaki, dalam perjalanan naik ojek ke atas malam itu.
Di tengah jalan, segerombolan polisi meminta kami balik turun. Mereka bilang, sudah tidak ada tempat untuk kendaraan di atas sana. Lighting panggung memang sudah terlihat, dengar-dengar sudah tinggal 500 meter jalan kaki. Namun pak ojek masih gigih menerobos masuk.
Bohong kalau perjalanan kami tadi tinggal 500 meter. Di pemberhentian terakhir, tempat motor sudah benar-benar nggak mungkin naik lagi, akhirnya kami mulai jalan kaki. Tanjakan itu hampir pasti jauhnya 500 meter. Sayup-sayup suara Andre Hehanussa sudah terdengar.
Seperti apa kelanjutan ceritanya? Yuk, intip di sini...

Dewi Ratna

No comments:

Post a Comment