Malang Makin Berantakan, Saya Tetap Cinta!

Siapkan kopi, rokok, dan gorengan buat teman baca tulisan ini...

Baru kelar baca tulisan dua kolega di blog pribadi dan sebuah media nasional yang sedang naik daun karena terkenal kocak dan smart. Keduanya ngobrol soal kota kebanggaan saya, Malang, dengan sudut pandang mereka masing-masing. Saya pun jadi tergugah untuk ikut unjuk perasaan tentang kota dingin ini.


Lahir dan dibesarkan di Malang, terbiasa dibawa ke stadion untuk nonton Arema, dan jalan-jalan Minggu ke taman dan alun-alun kota bersama Mbah Kakung adalah nostalgia super berharga untuk saya. Sepengalaman saya, nggak ada yang bisa saya keluhkan tentang kota ini, mungkin juga karena saya masih kecil.

Kala itu liburan kenaikan kelas, Mbah Kakung sudah siap membawa saya berjalan-jalan sebagai hadiah karena berhasil masuk 10 besar. Perjalanan dimulai dari Rampal, rumah kami yang megah di Jalan Setia Budi. Kami naik angkot ke sebuah gerai donat paling bergengsi kala itu, di perempatan Rajabali. Selalu favorit!

Setelah puas makan donat dan minum cokelat, kami kemudian berjalan ke pusat keramaian kota. Tangan Mbah Kakung menggandeng saya erat, melewati toko-toko vintage yang ada di sepanjang Kayutangan. Tujuan kami kala itu, Dunia Fantasi. Hah? Di Malang? Iya, ada! Gajahmada plasa punya pusat bermain yang satu ini.

As always, saya memilih tembak hula-hula dan naik ayunan Colombus. Saya juga sama sekali nggak takut sama wahana rumah hantu yang ada di sana, pasalnya saya sudah hapal di mana letak sensor yang menggerakkan setiap 'hantu' yang ada di dalamnya. Dufan tentu saja jadi favorit anak-anak kala libur sekolah.

Puas bermain, Mbah Kakung lalu membawa saya ke sebuah 'surga kecil'. Toko Buku Siswa, letaknya di seberang plasa Mitra. Beliau melepas saya di dalam sana, mengawasi saya dari jauh, dan siap membuka dompet kala saya kembali dengan tumpukan buku atau alat tulis lucu yang sayang inginkan. Sungguh seru bukan?!

Seiring waktu berjalan dan semakin serakahnya manusia dalam mencari peluang untuk mendapatkan materi, kota saya pun hancur perlahan-lahan. Sudah nggak perlu saya jelaskan lagi seperti apa. Kalau kalian penasaran sama apa yang saya rasakan, bisa langsung saja mampir ke Sesikopipait. Kurang lebih sama seperti itu.

Apa yang bisa kita lakukan untuk Malang? Kita nggak punya kapasitas sebesar itu untuk menghambat pertumbuhan ruko dan hotel yang semakin menjamur di berbagai titik. Kita juga nggak bisa memaksa Walikota kita yang nggak sering nampak batang hidungnya itu, untuk menuruti mau kita yang mungkin berat.

Hujan di Malang yang dulu sungguh romantis, kini berubah jadi mimpi buruk yang bawa bayang-bayang banjir di banyak tempat. Salah siapa? Salah pemerintah? Kenapa? Karena terlalu banyak memberi izin pembangunan? Mungkin sebagian besarnya iya, tapi kita pun harus sadar diri. Segala perubahan dimulai dari sini. *nunjuk diri sendiri*

Hal paling sederhana, selalu buanglah sampah pada tempatnya. Aih, cuma bungkus permen aja loh... Sekecil apapun sampahmu, kalau ada 1000 orang di Malang yang punya pikiran sama sepertimu, sama saja dengan menimbun 1000 sampah bungkus permen yang termasuk salah satu sumber banjir. Nggak paham? Jangan lanjut baca!

Mudah ya untuk nggak buang sampah sembarangan? Setelah bisa melakukan hal paling kecil itu, kita bisa lanjut ke level yang lebih tinggi, misalnya meminimalisir atau menghindari penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari. Gimana? Tolak saja bungkus plastik dari mini market, bawa totebag khusus kalau belanja.

Mudah juga kan? Silakan dilanjutkan sendiri levelnya, karena saya pun masih belajar untuk lebih baik lagi memperlakukan kota kebanggaan saya ini. Ada banyak hal yang seharusnya saya lakukan tapi belum bisa, seperti berhenti merokok dan pergi naik angkot ke mana-mana untuk mengurangi polusi. Pelan-pelan, harusnya bisa.

Lalu yang mungkin jadi langkah paling berat, mari kita mulai mengajarkan anak-anak kita untuk menghargai tanah yang mereka pijak. Biasakan pada mereka untuk tidak membuang sampah sembarangan, mencintai lahan hijau, memberi pemahaman tentang pentingnya tanah telanjang tanpa cor-coran untuk jatuhnya air.

Cukup sampai di sini saja usaha warga kota untuk menghancurkan segalanya, saatnya kita yang bergerak mengembalikan lagi dinginnya Malang yang romantis. Bayangkan kamu menggandeng tangan anakmu dari tugu di balai kota sampai ke alun-alun kota, di bawah pohon-pohon rindang. Terlalu muluk ya? Iya! Ya sudah, tak apa.

Kalau bosan baca tulisan ini, kamu bisa langsung cari tahu banyak hal keren yang bisa kamu temui di kota keren ini. Kamu bisa datang ke acara Nandur Dulur yang mengembalikan lagi anak-anak kecil pada kodratnya, bernyanyi lagu bocah bersama mereka, membuat mereka lupa lirik-lirik lagu nggak senonoh dari televisi.



Kamu juga bisa mengunjungi berbagai tempat wisata yang dekat dengan alam, meski mereka jauh dari pusat kota dan kebanyakan justru ada di Kabupaten. Tinggal pilih saja, ada bukit, air terjun, sumber air, gunung, laut, yang bisa dijamin bakal bikin radiasi komputer di otak dan matamu terhapus habis.



Kamu juga bisa kongkow asyik sambil berkarya bersama Hangout Is Good atau Penahitam. Kamu bisa datang ke gigs-gigs lokal dari berbagai genre musik, mulai dari pop, metal, ska, reggae, grunge, suka-suka kamu lah! Kamu juga bisa nongkrong seru bareng teman-teman di warung-warung kopi yang juga jual gorengan. Kamu bisa apa saja lah.

Maaf kalau kepanjangan. Makasih sudah meluangkan waktu membaca sampai habis.

Dewi Ratna

2 comments:

  1. saya selalu menggertak kalo orang-orang di dekat saya buang sampah sembarangan, orang-orang dekat aja sih, belum ke level orang luar atau orang ga kenal, mungkin harus mulai melakukannya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya... Kudu mulai berani negur orang di sekitar kalo buang sampah sembarangan ya... Yuk, jaga lingkungan dari hal paling kecil ;)

      Delete