Kejanggalan Gelas Ben di Kedai Filosofi Kopi

Seperti yang sudah digembar-gemborkan sebelumnya, film adaptasi novel Dewi Lestari yang satu ini memang beda dari apa yang tersirat di bukunya. Film Filosofi Kopi bukan lagi bercerita soal sosok Ben yang ditantang orang kaya aneh yang minta diseduhkan secangkir kopi yang punya makna bahwa 'sukses adalah wujud kesempurnaan hidup'.


Seperti dilansir dari KapanLagi.com, meski berbeda dari bukunya, Dee yang juga terlibat dalam penggarapan naskah film ini, menuturkan jika adaptasi film Filosofi Kopi adalah yang paling pas. "Dari tema udah beda, pencarian jari diri. Tapi, adaptasi ketika filmnya jadi,  ini yang paling pas. Proporsional," ungkap ibu dua orang anak ini.

Oke... Mari kita tilik apa saja yang berbeda dalam jalan ceritanya! Drama jelas adalah bagian yang paling menjual dalam sebuah film. Sedikit nuansa romantis atau sedih, dengan bumbu air mata, tentu bikin para penonton ikut larut dalam tiap scene yang disuguhkan. Kisah Ben (Chico Jericho) dan Jodi (Rio Dewanto) ini jadi dramatis dengan adanya konflik keluarga masing-masing.

Belum lagi perjumpaan mereka dengan sesosok wanita cantik, penikmat kopi yang juga penulis buku, El (Julie Estelle). Sosok fooblogger dari Prancis ini adalah pengganti bapak-bapak yang ada dalam novel Filosofi Kopi. Dia yang nantinya menuntun Ben dan Jodi ke kedai kopi milik Pak Seno (Slamet Rahardjo) di pedesaan. Jika di buku, mereka berdua pergi sendiri, di film El ikut mengantar.

Dikemas secara kekinian, Filosofi Kopi pun menyuguhkan cerita kedai kopi masa kini yang bisa mendapatkan hasil berkali lipat hanya dengan memasang wi-fi saja. Idealisme sorang Ben pun harus kalah karena Jodi mengambil alih kedai selama ia sedang mempelajari rumus ramuan Ben's Perfecto yang diminta oleh seorang pengusaha kaya.

Baiklah... Untuk kelas film Indonesia dan adaptasi novel, saya beri nilai 7/10, sama seperti nilai yang diberikan Mas Meru dan Mas Boni. Angga Dwi Sasongko, sang sutradara kenamaan itu, rupanya kurang jeli dalam eksekusinya. Over all, film ini digarap dengan sangat bagus, dan bisa sempurna jika saja scene kejanggalan gelas kopi Ben itu nggak ada.

Yap! Saat pertama kali minum Ben's Perfecto bareng keluarga kedai Filosofi Kopi, Ben membagi rata kopi dalam lima gelas. Gelas terakhir yang akhirnya diambil oleh Ben, tidak terisi setara dengan empat lainnya. Namun saat mereka selesai bersulang karena rasa kopi racikan terbaru Ben itu memang sempurna, tiba-tiba gelas itu terisi lebih banyak dari sebelumnya.

Scene itu mencuri perhatian saya, sama seperti scene uang logam seratus rupiah yang berputar di atas meja bar saat Hammer Girl diperkenalkan dalam film The Raid 2: Berandal. Atau jika ditilik dari kejanggalannya, mengingatkan saya pada scene puisi Rangga yang ditempel di mading dalam film AADC. Coba pause DVD playermu di situ, dan baca puisinya sampai habis.

Ehhhmmm... Sepertinya belum ada lagi yang mau saya sampaikan soal film Filosofi Kopi yang dipenuhi iklan kopi ini. Yang pasti, nonton film adaptasi novel Dee kali ini nggak bikin kecewa seperti yang sebelum-sebelumnya. Dan saya pun masih berharap, semoga mereka nggak berniat bikin film adaptasi dari novel Supernova: Akar. Hahah!

Dewi Ratna

3 comments:

  1. coba buat postingan: kejanggalan raibnya mug di kantor #eh :))

    ReplyDelete
  2. Wah artikel yang penuh makna ! Sukses selalu ya dan salam kenal mbak :)

    ReplyDelete