Efek Salju dan Ending 'The Raid 2: Berandal', Terserah Kamu!

Setelah terakhir nonton bareng dan sempat kecewa karena sudah terlanjur berekspektasi lebih pada film '300: Rise of an Empire', kali ini saya nggak berani membayangkan seperti apa kira-kira eksekusi dari 'The Raid 2: Berandal'. Paling enggak, saya hanya membayangkan, akan ada adegan karate, dan pertumpahan darah seperti yang di-share di beberapa media, sebelum film ini tayang.

Apalagi waktu dengar ada yang bilang, "Ah, film Indonesia paling ya gitu itu," rasanya saya memang benar-benar nggak boleh berharap lebih kali ini. Datang ke bioskop, saya hanya mempersiapkan kesigapan menutup mata jika nantinya ada adegan-adegan yang disturbing. Dan benar adanya, saya lebih banyak menutup mata ketimbang memandang big screen di depan saya.

Saya nggak mau blablabla panjang lebar soal cerita dalam film garapan Gareth Evans ini. Yang jelas, kalau kamu belum nonton, saya sarankan kamu untuk nonton, tentu saja dengan kondisi tidak berekspektasi lebih, tapi juga tidak membayangkan film Indonesia macem Pocong Mandi Goyang Pinggul atau Nenek Gayung dan juga Kakek Cangkul. Buruan, sebelum habis masa tayangnya!

Sampai di sini, bagi mereka yang belum nonton, lebih baik klik x dan cari aja bacaan lain. Tapi kalau udah, silakan lanjut membaca.  ;)

Setelah nonton film ini, hal yang paling mengganjal dalam pikiran saya adalah salju. How comes? Film ini ambil setting di Jakarta, Indonesia yang notabene nggak pernah ada salju yang turun. Menurut saya, akan lebih bagus kalau natural aja, menggambarkan keadaan iklim kota metropolitan ini sebenar-benarnya. Tapi teman saya bilang, ini adalah salah satu sarkasme dari Evans.

Baiklah, nggak perlu terlalu keras dipikir kalau gitu. Lagipula, akun Twitter resmi @THERAIDMOVIE sudah mengungkapkan alasan dari efek salju dalam scene di mana Prakoso dihabisi malam itu. Jawaban ini dikatakan datang dari Gareth Evans sendiri. Dan meski salju itu masih nggak meaning buat saya, tapi saya nggak terlalu mempermasalahkannya. Takut dibedil Ucok. :D

Pict from Twitter

"Ini hanyalah Jakarta dalam khayalan Gareth Evans, yang suka disebut Merantau Universe, jadi bukan Jakarta yang sebenarnya," ungkap akun twitter tersebut. "Untuk kepentingan sinematografi dan artistik, Gareth Evans menyukai gambaran darah merah yang mengalir di salju putih sehingga adegannya terasa lebih dramatis," imbuh mereka kemudian.

Memang seperti itu rasanya saat menonton adegan Prakoso menghembuskan napas terakhirnya setelah Ucok memancingnya datang ke sebuah klab malam. Dia mati secara dramatis dan (kalau boleh saya bilang) elegan. Di atas tumpukan salju yang bikin suasanya jadi terasa dingin dan beku, mengalir darah merah, menggenangi bekas langkah kaki yang terbentuk di situ.

Tapi kalau ditanya, scene mana yang paling nggak bisa dilupakan, punya saya mungkin nggak sama dengan punya kamu. Yang paling bikin bengong dan 'hilang' sejenak adalah adegan koin yang berputar-putar di atas meja. Kenapa? Nggak tau. Yang jelas, tepat saat itu, rasanya seperti terbang. Saya bahkan nggak notice kalau itu momen pertama kali Hammer Girl muncul.

Dan untuk ending mengambang yang juga banyak dibahas di berbagai media sosial juga di sekitar saya, tentu tiap orang juga punya imajinasi yang berbeda-beda. Scene yang di-mute sebelum Rama bilang, "Cukup!" itu memang bikin penasaran. Saya sendiri menganggapnya sebagai penolakan karena Keiichi mengajaknya bergabung dengan pihak Goto. Mereka toh belum tau siapa Rama.

Pict from Twitter

Ya, gila aja kali kalo dia nggak nolak. Secara nih ya, dia belum pernah ketemu keluarganya selama hampir 3 tahun. Dalam beberapa scene, ditunjukkan bagaimana Rama sangat merindukan istri dan anaknya. Ia tentu juga tak mau keselamatan kedua orang yang dicintainya itu terancam. Tapi memang belum seru kalau belum nyentuh ranah pribadi ini sih ya. Jadi kurang greget aja.

Siapa tau di sequel selanjutnya, bagian terpenting dalam hidup Rama ini harus dipertaruhkan? Pasti bakal lebih dramatis, secara ia tentu harus berjuang lebih keras agar jangan sampai istri dan anaknya mati di tangan orang yang dendam padanya. Atau bisa juga Rama pada akhirnya mengundurkan diri, berhenti dari pekerjaannya, dan memilih untuk hidup tenang. Terlalu sederhana ya? :))

Menurutmu gimana? Nah kan! Jadi banyak berandai-andai deh... Pokoknya, intinya film ini bagus banget... Sudah ah... SINI HATINYA... eh SINI BOLANYA!

Pict from Twitter

Dewi Ratna

No comments:

Post a Comment