Anniverscary - Jurassic Punx: Collectible Packaging dan Berpesta Sampai Masuk Angin

Hari gini masih pakai model amplop atau kotak mika untuk kemasan rilisan fisik? Jangan pernah berharap band kamu dilirik lebih banyak orang, kecuali memang band itu sudah punya nama besar. Karena packaging CD yang eye catchy dan collectible-lah yang sekarang layak untuk dibayar.

Kenapa begitu? Tentu saja, karena kalau sebuah band melempar rilisan fisik dalam kemasan yang unik, tentu akan lebih menarik. Jika tidak, sepertinya akan lebih praktis untuk meng-copy saja mp3 album tersebut dari teman yang sudah punya. Jujur saja, masih banyak kan yang seperti itu?

Kali ini saya bakal kasih tahu kamu salah satu CD rilisan baru yang layak untuk dikoleksi. Album dari Anniverscary yang bertajuk Jurassic Punx memang cukup unik. Pertama saya lihat, sudah langsung tertarik ingin membeli. Padahal saya sendiri belum pernah tahu seperti apa band itu.

Nah! Itu dia salah satu keuntungan bikin packaging CD yang unik. Bahkan orang yang tak tahu band kamu pun bakal tertarik untuk melihat kemasannya, membaca apa yang tertera di sampul luarnya, dan bahkan membelinya. Ya, seperti saya yang jatuh cinta sama CD yang muncul di tengah kemasan ini.

Adalah Mad Matt yang mendesain kemasan dan menggambar artwork keren untuk sampul album ini. dinosaurus dengan mohawk, spiky jacket, serta kalung rantai dengan gembok macam Sid Vicious. Digambarkan di situ, dinosaurus menghancurkan kota, dan bikin polisi panik serta lari tunggang langgang.

Di bagian depan bertuliskan Anniverscary dan Jurassic Punx. Di bagian belakangnya hanya ada daftar 13 judul lagu yang ada dalam CD tersebut. Ukurannya pun tak sama dengan CD pada umumnya. Album ini lebih mirip notebook yang dilengkapi pengunci agar tak mudah terbuka. Nice idea!

Buka pelan-pelan kemasan ini, supaya CD di dalamnya tak loncat keluar. Karena memang CD itu hanya diletakkan di tengah-tengah, di dalam lubang yang sengaja dibuat untuk menyangganya. Jadi, saat dibuka, CD itu seolah keluar perlahan dari tempat persembunyiannya. Itu yang bikin saya tertarik!


Setelah puas mengagumi kemasan album ini, saya pun penasaran seperti apa sih musiknya. Band asal Malang yang digawangi oleh Dion (vokal), Riyant (bass), Bujel (gitar), Maboot (gitar), serta Rindra (drum) ini baru saja menggelar gigs untuk launching album ini pada Januari 2014 lalu.

Pertama kali saya mendengarkan 13 lagu itu saat perjalanan menuju Yogyakarta menjelang akhir Januari. Ada rasa 311 lawas dalam intro album Jurassic Punx yang diberi judul 21 Hours Sleeping. Instrumen ini hanya berdurasi 58 detik sebelum kemudian disambung track kedua, Popstar.

Lagu ketiga dibuka dengan kocokan gitar. Seperti lagu sebelumnya, The Drowned City juga berdurasi dua menit lebih. Menceritakan tentang kemuakan mereka akan pemerintah yang tak berbuat apa-apa saat jalanan jadi macet dan tentu saja penuh polusi saat pembangunan pusat perbelanjaan makin merajalela.

Ya! Mereka menggambarkan bagaimana mereka benci melihat semakin meningkatnya konsumsi dan gaya hidup hedon di berbagai pusat perbelanjaan itu. Pajak tinggi masuk ke kantong pemerintah, tapi perekonomian orang-orang jadi terpuruk karena tergoda oleh banyak hal yang disuguhkan di sana.

Lagu keempat cukup singkat. Sama dengan judul album ini, Jurassic Punx, lagu ini berdurasi satu menit lebih. Mereka menggambarkan bagaimana Jurassic Punx ini adalah si bengal yang memakai jalanan tanpa SIM, tak peduli dengan aturan Polisi, serta suka melanggar lampu rambu lalu lintas.

Disusul kemudian dengan Never Understand (Fuck Their Argument) yang bicara tentang bagaimana orang kerap memandang anak punk dari luarnya saja. Namun, dalam lagu yang dipermanis dengan kocokan gitar ala ska di tengahnya ini, mereka memilih untuk tak peduli dengan apa yang dikatkan orang-orang itu.

Track kelima, Religion Sells, membuka mata kita bagaimana kedudukan agama perlahan tergeser oleh materi. There is no God except money, begitu yang mereka katakan dalam penggalan liriknya. Karena uang juga, orang bisa menguasai radio untuk pegang kendali, dan juga televisi untuk mencuci otak penontonnya.

Empat track berikutnya masih berbahasa Inggris. Teenage Sex Bombs, Criminalization Of Human Rught, Out Of Anger, dan Stuck In The Middle East (Reprise), tentu masih membakar semangat seperti track-track sebelumnya. Kalau kamu mau tahu apa isinya, kamu harus beli CD-nya supaya bisa dengar sambil baca teks-nya.

Di lagu ke-12, Anniverscary mengajak kita untuk calm down. Lagu yang satu ini diberi judul cukup unik, Kusam Ninga. Dalam bahasa Malang yang memang khas dengan kebalikan, kata tersebut berarti 'masuk angin'. Isinya? Ya tentu saja menceritakan tentang bagaimana seseorang lagi masuk angin dan akhirnya harus dikerok.

Lumayan bikin ringan, setelah kita dibakar 11 track dengan beat kencang sebelumnya. Lagu Kusam Ninga bisa bikin sedikit tertawa, meregangkan otot rahang yang kaku sepanjang kurang lebih setengah jam tadi. Sungguh tepat ide mereka meletakkan lagu itu di bagian akhir dari album ini.

Sebelum benar-benar mengakhiri petualangan seru bersama Jurassic Punx, mereka menyampaikan salam perpisahan lewat lagu Last Song. Mereka memastikan bahwa kita bakal bertemu lagi di kesempatan selanjutnya. Dentingan gelas dan muntahan peserta 'pesta' pun menutup track ini dengan sempurna.

Well, kamu harus menikmati sendiri serunya mendengarkan album ini!

Dewi Ratna

No comments:

Post a Comment