Konser Pandai Besi: Malang Sub Pop Kembalikan Kejayaan Bioskop Kelud

Suguhan unik dari kota Malang. Kala yang lain berlomba-lomba bikin gelaran konser di gedung-gedung kesenian atau cafe-cafe kenamaan, yang satu ini menyuguhkan nuansa berbeda.

Dalam tulisan ini, saya akan mengajak kalian untuk ikut menikmati serunya menonton konser band apik, yang dikemas secara unik dan out of the box. Mari kita mulai...


Bioskop Fenomenal di Malang, Kelud!


Tak ada yang bisa saya ingat dari bangunan ini. Sejak masih memiliki fungsi aslinya sebagai bioskop, hingga kini hanya tinggal kenangan, belum pernah saya masuk ke dalamnya. Ya, ke dalam Bioskop Kelud.

Menurut berbagai sumber yang saya baca, termasuk dari merdeka.com berdirinya Bioskop Kelud ini berawal dari dua anggota BRIMOB, Noersalam dan Marsam. Mereka membuka usaha pemutaran bioskop keliling di seputaran kota dingin, Malang.

Pada sekitaran Juli 1970, setelah uang terkumpul, keduanya pun membeli lahan yang dulunya merupakan gedung bulu tangkis. Bangunan tersebut dihancurkan, dan kemudian dibangun lagi menjadi Bioskop Kelud ini.

Letaknya, di Jalan Kelud 9, memang di daerah perkampungan penduduk. Namun bioskop yang dibangun di pinggir jalan besar ini masih dekat dengan Jalan Ijen, yang merupakan jantung dari kota Malang.

Tidak seperti bioskop yang biasa kita kunjungi di masa sekarang ini, Kelud merupakan bangunan yang unik. Tak ada atap di sana, pengunjung pun bisa menatap langit sambil menonton film. Jika hujan, mereka pun bubar.

Bangunan ini merupakan salah satu yang paling populer di kota Malang pada masanya. Menawarkan suguhan film yang sedang naik daun, di dalamnya pun ada orang berjualan makanan, seperti gorengan dan sate bekicot.

Yang paling fenomenal, bioskop yang lebih mirip pasar malam ini pernah dipadati sekitar 7000 penonton. Kala itu, Bioskop Kelud memutar film INEM PELAYAN SEKSI, yang dibintangi oleh Titiek Puspa dan Doris Callebaute.

Ide Brilian Malang Sub Pop

Setelah sukses dengan konser Sarasvati yang digelar di Taman Budaya Senaputra Malang beberapa waktu lalu, Sabtu (13/10) malam kemarin, Malang Sup Pop mengajak kita mengenang kembali kejayaan Bioskop Kelud.

Mengenang kejayaan bioskop dengan konser musik? Tentu saja bukan sesederhana itu. Si empunya acara, Malang Sub Pop menyuguhkan sebuah film lawas yang diputar di awal acara, pukul 19.00.

Sebelumnya, penonton harus mengantri karcis dulu di loket yang memang sudah fungsi awalnya sebagai loket karcis. Klasik! Di sini pastinya orang-orang zaman lawas mengantri karcis untuk menonton film WARKOP DKI.

Di atas loket terdapat poster besar digambar tangan, layaknya poster film di bioskop era 80an. Dari sini, ke samping pintu masuk, ada papan pengumuman yang memberi info acara yang sedang berlangsung dan yang masih coming soon.

Pintu masuk sengaja dibuka satu jalur, mungkin untuk memudahkan penjaga memeriksa karcis. Saya sendiri masuk tanpa karcis, hadir di sana sebagai reporter KapanLagi.com®.

Masuk ke dalam, bangunan yang lebih mirip lapangan ini sudah riuh persiapan acara malam itu. Film diputar dan ditembakkan dengan proyektor ke tembok besar yang ada di dalam sana. Seperti itu pula dulu bioskop ini menyajikan film.

ARIE HANGGARA, Film Jadul 'Sakit Jiwa'!


Didukung setting venue yang dikembalikan pada fungsinya, sebagai bioskop, menyaksikan film Arie Hanggara tentu akan sangat terasa lawasnya. Pengunjung bisa menonton sambil makan popcorn yang dijual di sana.

Arie Hanggara merupakan film garapan Frank Rorimpandey, sekitar 29 tahun lalu. Film yang dibintangi oleh Deddy Mizwar, Joice Erna, dan Cok Simbara ini memenangkan Piala Citra pada tahun 1985.

Film ini mengisahkan tentang bocah 8 tahun yang meninggal karena ketagihan disiksa ibu tiri dan ayah kandungnya. Jangan berpikiran bahwa si ibu tiri kejam, tapi memang si bocah yang selalu sengaja ingin disiksa.

Pada awalnya, bocah bernama Arie ini dimarahi karena minta uang untuk membeli pensil. Sejak itu, ayahnya selalu keras padanya. Ibu tirinya yang lelah menghadapi si Arie pun ikut marah-marah jika bocah itu mulai berulah.

Sesekali Arie minta maaf pada ayahnya, namun semakin lama ia semakin ketagihan untuk disiksa. Pernah suatu ketika ia minta hukuman diikat kaki dan tangannya, sang ayah pun menuruti. Arie juga suka dihukum berdiri jongkok.

Karena seringnya Arie sengaja berbuat salah dan ingin dihukum oleh ayahnya, bocah itu lantas mengalami gangguan kesehatan. Orang tuanya pun akhirnya jadi bulan-bulanan media karena dianggap telah menyiksa anaknya sampai mati.

Film yang diadaptasi dari kisah nyata tentang gangguan kejiwaaan ini punya soundtrack yang super gloomy. Aransemen backsound dalam film ini pun sangat nyaman di telinga. Sayangnya, film ARIE HANGGARA ini masih kurang kualitas audionya.

Untuk pemutaran film selanjutnya, Malang Sub Pop berjanji akan menyuguhkan yang lebih baik dari malam kemarin, terutama dalam hal kualitas suara. Saya pribadi tentu saja selalu excited menanti kejutan dari mereka.

Oneding, Musisi Muda Berbakat!


Dalam proyek solonya, Oneding, kali ini Nedink membawa serta tiga orang rekannya di atas panggung yang didirikan tepat di depan tembok besar tempat film ditembakkan dari proyektor. Lagu-lagu dengan musik manis pun mengalun.

Ada vokalis wanita, pemain celo, dan terompet dalam penampilan Oneding kali ini. Penonton diajak Haru Biru hingga Menangis Riang dalam sesi 'film kedua' ini. MC acara menyebutnya begitu, Semua yang disuguhkan malam kemarin adalah film.

Selain membawakan lagu sendiri, Oneding juga mengcover lagu dari The Beatles, Across The Universe, serta tembang milik White Shoes And The Couple Company, Gelombang Nestapa Kuharap Sirna. Sungguh manis, sebelum ditutup dengan lagu andalannya, Jan**k.



DAUR BAUR Oleh Pandai Besi


Puncak acara pun tiba. Sesuai dengan rundown, tepat pukul 21.30 para personel Efek Rumah Kaca naik ke atas panggung. Mereka membawakan lima buah lagu yang tentu saja dihafal dengan baik oleh sebagian besar mereka yang hadir di sana.

Para penonton pun menikmati 'film terakhir' ini dengan ikut bernyanyi-nyanyi kecil. Masih pemanasan, band yang sarat muatan sosial dan politik ini membawakan lagu mereka dengan santai. Mereka yang jauh dari panggung pun merapat.

Setelah kelar lima lagu, visual effect di tembok belakang panggung pun menampilkan gambar cover album DAUR BAUR. Dan dimulailah suguhan musik psychedelic dari Pandai Besi. Mulai memejamkan mata, saya pun sangat menikmati suguhan mereka.

Dengan aransemen yang lebih berat dan megah dibanding Efek Rumah Kaca, para personil mereka ditambah beberapa additional talent. Dua penyanyi latar dan satu pemain terompet, membuat setiap lagu Pandai Besi terasa 'hidup' dan membawa kita terbang.

Diawali lagu Debu, Pandai Besi menggelontorkan delapan lagu mereka dengan apik. Kombinasi sound yang mantab, visual effect bertema hewan-hewan yang lumayan membius, dipadu pemandangan langit yang gelap dengan sedikit bintang.

Diikuti kemudian dengan lagu Jalang, Melankolia, Hujan Jangan Marah, Desember, Laki-Laki Pemalu, Di Udara, Jangan Bakar Buku, dan yang terakhir, yang paling rancak sampai-sampai bisa dipakai menari riang, Menjadi Indonesia.

Hajatan Malang Sub Pop kali ini sangat memuaskan. Tak ada yang mengecewakan dari awal hingga akhir. Hanya saja, seharusnya disediakan tempat sampah, dan lebih sering mengingatkan mereka yang hadir untuk tidak buang sampah sembarangan.

Then... Lagi-lagi saya harus mengacungkan jempol. Malang Sub Pop did it well!

Versi KapanLagi.com® di sini!

Dewi Ratna

1 comment: