Malang Sub Pop Did It Well! Gerimis Berbau Mistis, Konser Sarasvati di Malang

Tak seperti gigs pada umumnya, tidak ada parkiran berjubel di depan Taman Budaya Senaputra, Sabtu, 8 Juni malam itu. Tak ada yang tahu ada apa di dalam sana, jika mereka tidak benar-benar bertujuan untuk hadir di konser Sarasvati.

Sempat saya berpikir, mungkin memang tak begitu banyak pemuda-pemudi Malang yang antusias pada band dengan Risa sebagai frontwoman. Hanya beberapa yang mengantri di depan pagar gerbang masuk venue, saat saya sampai di depan situ.

Karena saya titip tiket pada Fajar, maka saya pun harus menghubungi kawan saya yang mungkin tengah sibuk memotret di dalam kala itu. Teman sekantor saya itu lantas keluar dan memberikan tiket saya. Tiketnya keren! It will be a nice gigs!


Hujan deras seharian baru saja reda saat saya dan Adhib sampai di sana. Gerimis yang tersisa pun bikin udara malam itu terasa sangat dingin. Saya pakai jaket sahabat saya itu, karena memang saya cuma pakai t-shirt dan kemeja flannel.

Fajar masuk duluan. Dia memang sedang tugas liputan malam itu. Saya dan Adhib masih di luar, menunggu dua kawan lainnya yang bawa tiket satu lagi. Setelah semua siap, baru kami masuk sama-sama ke dalam tempat yang tak asing bagi saya itu.

Masa kecil saya di sana. Segala kepandaian saya mulai diasah di tempat itu. Ya, bukan sekedar taman budaya, Senaputra juga merupakan Taman Kanak-Kanak tempat saya belajar. Dulu malah ada stasiun radio dan sanggar tari di sana.

Kembali ke konser Sarasvati. Setelah masuk gerbang, baru kelihatan di sana ratusan motor berjajar. Alfan di depan, pegang stempel bertuliskan 'SAYA BELI TIKET' dan logo Malang Sub pop. Rapi sekali proses di pintu masuk. Nice gigs!

Belum selesai batin ini memuji permulaan yang baik di gerbang tadi, saya kembali dibuat melongo dengan akses menuju venue utama. Dari gerbang, motor dijajar lurus ke dalam, jadi jalan utama malam itu ada di sebelah kiri.

Jalan di sebelah kiri berupa tangga lebar-lebar. Mereka menata lampu minyak dengan jarak yang rapi di sepanjang perjalanan menuruni tangga, hingga ke panggung. Bisa banyangkan, malam yang diterangi kuning temaram. Nice gigs!

Semerbak bau kembang dan dupa bikin saya agak merinding. Sesuai dengan tema lagu-lagu Sarasvati yang berbau mistis, saya rasa panitia gigs berhasil memberikan ucapan selamat datang yang sangat apik. Ya, Malang Sub Pop did it!

Sampailah kami di kanan panggung. Tak hanya leher, pundak saya pun ikut merinding saat melihat stage dengan dekorasi super spooky itu. Saya lempar pandangan menelusuri seputaran venue. Hanya satu yang kurang oke, tenda mie instant!

Saya memilih untuk tidak menghiraukan tenda yang paling terang itu. Saya langsung memilih tempat berdiri sebelum akhirnya disapa teman-teman, dan ikut gabung duduk di sana, tetap di bagian kanan panggung.

Malang Sub Pop melengkapi ketakjuban saya. Setting panggung dibuat spooky. Dominasi merah marun dan hitam, dilengkapi dengan dua lampu meja vintage, memberi kesan rumah peninggalan masa lalu yang dihuni kawan-kawan Peter. Nice gigs!

Sudah waktunya You Know You're Right yang naik panggung. Sayang sekali, saya melewatkan duo favorit, Knee and Toes. Tapi saya cukup terbius dengan penampilan YKYR yang baru pertama kali saya lihat itu. Postrock yang cukup oke saya rasa.

Musik dan aksi panggung apik dibawakan YKYR tanpa cela. Meski satu lagu mereka makan waktu lumayan panjang, dan mungkin membosankan bagi beberapa yang hadir, namun tak ada alasan untuk saya tidak memuji band ini. Love at the first sight!

Beruntung saya duduk di sebelah kanan, sekitar 10 meter dari panggung. Kenapa? Saya jadi bisa menikmati lighting oke yang beberapa kali menyorot ke arah pohon beringin besar di depan stage. Warna-warni bikin pohon itu cantik.

Karena bagi saya musik postrock itu lebih asyik dinikmati sambil memejamkan mata, atau lihat visual effect warna-warni, jadi saya lebih memilih fokus mendongak ke arah pohon beringin ketimbang liat aksi panggung YKYR yang oke itu.

Saya tersenyum sendiri memperhatikan warna yang berganti-ganti menyoroti pohon itu. Tiba-tiba saya merasa sedang berada di dalam laut dengan banyak ubur-ubur warna-warni yang menari mengikuti arah gerak air. Ah! Nice gigs!

Setelah terhipnotis oleh alunan musik YKYR dengan lighting yang sempurna, sadar-sadar, sudah ada Ardi di atas panggung. Entah kenapa, malam itu rasanya saya nggak bisa memahami dia yang memang didaulat untuk bicara terus, mengisi waktu.

Saat itu saya berpikir, kenapa Ardi nggak mengisinya dengan cerita tentang siapa itu Risa dan Sarasvati-nya. Atau mungkin dia bisa membahas lirik-lirik lagu Sarasvati yang masing-masing punya cerita seru. Pokoknya bukan melawak lah!

Forget it! Sekarang giliran Ajer naik panggung. Musik folk mengalir ringan. Mas Doni bernyanyi penuh penghayatan, as always. Mas Alo menabuh drum dengan tenang. Mas Tulik dan Mbak Nova bermusik apik, menyempurnakan penampilan mereka.

Saya makin merasa lapar karena aroma bumbu mie instant, yang tampaknya nikmat itu, sampai ke hidung. Saya tak mau makan mie instant, itu yang bikin saya berjuang keras menahan lapar. Saya berharap bau dupa mengalahkan aroma dari tenda itu.

Mbak Nova mengalami sedikit gangguan dengan suaranya malam itu. Ia sempat izin minum air mineral dulu sebelum bernyanyi. Waktu turun panggung, saya tanya kenapa dia tadi. Ternyata udara dingin bikin dia ngga bisa maksimal. But that's okay!

Ardi lagi. Kali ini saya mulai mencoba memahami posisinya sebagai tukang isi waktu selagi Sarasvati bersiap diri. Saya coba bayangkan kalau saya yang berdiri di sana, pasti susah. Tapi tetap saya ingin supaya dia jangan melawak.

Forget it lagi lah! Saya dan Adhib pindah ke tempat di mana kami bisa melihat panggung dari depan, sembari menunggu Sarasvati naik panggung. Paling belakang, di samping tenda mixer. Posisi rekomendasi Irul memang tepat.

Para personel Sarasvati sudah naik panggung. Masing-masing berdiri di balik alat musik mereka. Musik spooky jadi pembuka malam itu. Rasanya cukup mencekam. Risa naik ke atas panggung sambil bernyanyi. Penonton kompak bertepuk tangan.

Lagu demi lagu digelontorkan. Album pertama selang seling dengan album kedua. Ivanna dan Elizabeth adalah dua nama yang menginsprasi beberapa lagunya. Risa menceritakannya pada mereka yang hadir di bawah hujan rintik malam itu.

Risa selalu bercerita sebelum ia melanjutkan lagu berikutnya. Ia sangat komunikatif, sehingga yang ada di venue pun terbawa suasana gloomy san spooky. Ia bilang, pesta ini bukan hanya untuk kami, tapi juga untuk 'mereka'.

Pohon beringin besar memang mengelilingi stage malam itu. Beberapa kali Risa tampak menengadah dan tersenyu sambil menundukkan kepala dengan sopan. Mungkin ia memberi salam pada 'mereka' yang dilihatnya di sana.

Sebelum konsernya, setelah checksound, melalui akun twitternya, Risa sempat bilang bahwa Senaputra venue paling seram yang pernah ia kunjungi. Tentu saja! Pohon besar, tempat atraksi kuda lumping, dekat kamar mayat rumah sakit!

You guys, can imagine how spooky those night was?! Suara wanita menangis, anak kecil tertawa, dan musik sendu di beberapa lagu yang cukup menyeramkan pun menjadi pemicu berdirinya bulu kuduk saya dari kaki hingga kepala. Nyata!

Berlebihan? Anggap saja demikian, me do not fucking care! Itu yang saya rasakan. Apalagi saat lagu Canting didendangkan, tiba-tiba saya merasa terbang dan merasa seperti ada yang menari di samping Risa, wanita dengan dodhotan dan selendang.

Ya, itu memang hanya imajinasi saya saja. Suasana begitu kelam, sehingga saya pun terbawa suram. Lagu Perjalanan seperti mengajak saya untuk membayangkan kereta api yang melaju di malam hari, dengan semua penumpang berwajah pucat.

Ah ya, saya hampir lupa. Ada dua drummer dalam formasi Sarasvati, salah satunya wanita. Kata Adhib, ekspresi dia seperti datar. Kata Fendi, lagu jadi lebih hidup saat dia yang pegang stick drum. Benar! Dia tampak misterius malam itu.

Banyak lagu yang dibawakan malam itu, termasuk favorit saya, I Never Know. sayang sekali, saya tak bisa sebutkan satu per satu judul semua lagi yang dinyanyikan Risa. Jujur, saya lupa. Malam itu juga seperti terhipnotis.

Yang jelas, Story Of Peter jadi klimaks yang dahsyat. Saya ikut bernyanyi sekeras mungkin. Fendi berhalusinasi saat lagu itu dikumandangkan. Ia mendengar ada suara anak kecil sedang tertawa di sekitar kami. Saya tak peduli, dan tetap nyanyi.


Ending yang ringan. Sangat ringan. Sarasvati turun panggung diringi tepuk tangan, tanpa meninggalkan rasa penasaran para penonton. Semua yang ada di sana seperti belum tersadar dari hipnotis. Saya dan Adhib memutuskan segera pulang.

Jenius! Malang Sub Pop did the gigs well! Ini adalah gigs terbaik yang pernah saya datangi sepanjang 14 tahun sejak saya diizinkan mengenal 'dunia' oleh nenek dan ayah saya, termasuk pergi ke gigs yang dulu juga sering digelar.

Thankies so muchos Malang Sub Pop! Once again: NICE GIGS!

Dewi Ratna

No comments:

Post a Comment