Go Lions! Waktunya Bangkit?

Hari ini, sepupu saya menandai saya di sebuah gambar yang ia unggah dalam akun Facebooknya. Ada gambar singa dan tulisan 'Go Lions!' di sana. Dia juga menuliskan pesannya sendiri: Waktunya BANGKIT.

Jujur, saya memang nggak banyak ngerti tentang Arema. Tapi saya sudah diarahkan jadi Aremania sejak masih duduk di bangku SMP. Papa menghadiahkan kaos Arema pertama kali, saat saya masih kelas dua, tahun 1998.

Nonton pertandingan di Lapangan Gajayana bersama sepupu dan beberapa kawan dari korwil Patass, cuma itu yang saya lakukan. Tidak membuat saya menyandang predikat sebagai Aremania sejati bukan?

Intensitas nonton Arema juga tak menjadikan saya lantas hafal nama-nama para pemainnya, selain dua asing, Pacho dan Araya. Tapi saya tau, tujuan saya membeli tiket dan duduk di dalam stadion adalah untuk mendukung Arema, klub sepak bola kecintaan kami.

Kala itu, kami begitu bangga memakai kaos biru dan segala atribut Arema, seperti topi dan syal. Kami bangga berteriak lantang mendukung 11 pria di atas lapangan hijau itu. Kami bangga dengan apapun tentang Arema.

Sebelum saya pindah ke pulau seberang, saya pun sempat sekali nonton pertandingan mereka di stadion baru, Kanjuruhan. Di pulau seberang pun saya kerap hadir dalam acara-acara yang diadakan oleh Aremania di sana.

Sampai saat, entah ada apa di tubuh Arema, kawan-kawan jadi mulai enggan pergi ke stadion. Sejak kepulangan saya ke Malang, 2011 lalu, tak pernah juga saya menginjakkan kaki di Kanjuruhan.

Arema sedang sakit. Itu saja yang sepupu saya sering bilang. Mereka sedih, tentu saja. Mereka sangat mencintai Arema. Di tubuh mereka, gambar singa dirajahkan dengan gagah. Saya seharusnya juga punya, tapi saya belum ada nyali sejak kami berjanji membuat tato singa itu bersama-sama, hingga sekarang.

Arema jangan dimarahin. Itu juga yang sering mereka suntikkan di benak saya, saat saya mulai meracau tak jelas tentang kebencian saya pada Bakrie. Ya, saya harus yakin, bukan Arema dan Aremania yang mau diperbudak pria jahat itu.

Apapun yang terjadi dalam tubuh pengurus Arema, saya sama sekali buta. Si Ini atau Si Itu, saya tak tahu siapa. Apa kepentingan mereka, saya pun tak mengerti. Saya bahkan sempat tak mau tahu lagi apa itu Arema, sampai saat saya berkunjung ke rumah sepupu saya, dan melihat tato di punggungnya. Saya berkaca-kaca, entah kenapa.

25 tahun usia Arema dirayakan dengan pesta kembang api. Sebelumnya, jalan-jalan di kota Malang dipenuhi atribut arema. Spanduk, bendera, slayer, bertebaran di jalan utama kota kami. Merinding! Itu yang saya rasakan saat berkeliling kota bersama sahabat saya di 11 Agustus 2012 itu.

Ini adalah video yang mengabadikan momen ulang tahun perak Arema.



Air mata saya menetes menonton video ini. Lagi-lagi saya tak tahu kenapa. Saya ikut sedih, meski saya tak paham ada apa dengan Arema. Sedih itu rasanya semakin menyayat saat saya buka kembali memori masa kecil saya. Nonton Arema, pakai kaos Arema, dan bernyanyi lantang untuk Arema di dalam stadion.

Waktunya BANGKIT. Saya pun tak tahu, bangkit yang seperti apa yang dimaksud sepupu saya itu. Tapi saya ikut berharap, semoga Arema diberi yang terbaik senantiasa. Dan kalau bisa, dijauhkan dari setan-setan gila harta dan haus kekuasaan. Amin.

Sawojajar, 30 Januari 2013

Dewi Ratna

No comments:

Post a Comment