Kalap di Awal, Gagal Punya Komik RA Kosasih

Foto: tempo.co
Setelah menggila dalam beberapa jam di Jakarta Book Fair 2012 bersama Eka, saya lihat persediaan uang saya menipis sekali. Padahal kami menemukan salah satu stand di sana, yang menjual beberapa karya dari almarhum RA Kosasih. Sambil menenteng plastik berisi empat buku tebal-tebal di tangan kiri, saya melihat-lihat komik itu dengan tangan kanan dan -saya yakin- muka melas.

Mahabharata dan Ramayana, hard cover maupun soft cover, tinggal pilih, semua ada di situ. Berharap masih bisa terkejar, saya melirik harganya. Tapi, enam digit itu pun menyiutkan harapan saya. Padahal kalau buku-buku komik itu berhasil berpindah tempat ke rak buku di kamar saya, pasti bukan hanya saya yang senang. Pasukan Jajaghu yang gemar cerita pewayangan pasti juga antusias.

Setahun yang lalu, waktu pasukan Jajaghu masih belum punya julukan dan belum berubah personil, kami pernah ingin belajar soal wayang. Saya yang ditunjuk sebagai penanggung jawab acara diskusi itu, karena saya yang pertama kali nyeletuk ide itu. Saya ingat sekali, waktu itu saya minta semua menggambar bentuk wayang favoritnya, boleh dalam versi sendiri.

Beberapa sudah siap untuk diskusi. Malahan, ada yang sudah mencari bahan dan membaca cerita pengantar wayang Ramayana dan Mahabharata. Kami antusias, sampai akhirnya acara itu batal karena datang berita duka dari salah seorang kawan. Dan selanjutnya, kami tak lagi meluangkan waktu untuk merealisasikan rencana tersebut. Wacana hanya wacana, hilang bersama kepulan asap rokok.

Di book fair, saya kembali teringat akan rencana setahun lalu ini. Dan saya sempat berpikir, kalau saya membeli buku komik RA Kosasih itu, maka akan lebih mudah bagi kami untuk mempelajari ceritanya. Tapi apa daya. Sambil melirik plastik di tangan kiri, saya mengembalikan komik-komik langka itu pada tempatnya. Kemudian berlalu pergi dan ingin cepat keluar dari Istora Senayan itu.

Selasa (24/7) kemarin, di tret email terpopuler, Mbak Ai sempat kasih kabar kalau RA Kosasih tutup usia. Dan pikiran saya langsung melayang pada kejadian sebulan yang lalu. Kejadian di mana saya gagal membeli komik-komik beliau. Timbul penyesalan, tapi mau apa? Mungkin kalau sekarang saya pengen beli komik-komik itu, harganya justru jadi beberapa kali lipat ya...

Ini mungkin ada yang nggak tau siapa itu RA Kosasih. Saya perkenalkan dulu. Beliau bernama lengkap Raden Ahmad Kosasih. Lahir di Bogor, Jawa Barat, 4 April 1919, beliau dikenal sebagai seorang penulis dan penggambar komik kenamaan asal Indonesia. Generasi komik masa kini, -mungkin Mas Aji adalah salah satunya, ya?-  menganggapnya sebagai Bapak Komik Indonesia.

Bapak ini mulai menggambar pada tahun 1953. Beliau menggambar sketsa-sketsa hitam-putih tanpa diwarnai, dan karya utamanya berhubungan dengan kesusastraan Hindu. Namun beliau juga punya karya sastra tradisional Indonesia, terutama Jawa dan Sunda. Selain itu beliau juga menggambar beberapa komik silat yang memiliki pengaruh Tionghoa.

Namanya dikenal baik sebagai komikus pertama yang menyajikan karyanya bukan dalam bentuk sisipan di majalah. Beliau mengemasnya dalam bentuk buku. Karirnya diawali di penerbit Melodi, Bandung. Tapi karya-karyanya yang terkenal, diterbitkan oleh Maranatha. Kemudian, sekitar tahun 1990an karya-karya itu diterbitkan ulang oleh Elex Media Komputindo dan penerbit Paramita di Surabaya.

Uhm.. jadi, kalau ada yang berniat memberi saya hadiah, komik-komik RA Kosasih boleh jadi alternatif pertama deh :D

Dewi Ratna

No comments:

Post a Comment