Senaputra! Icon Kota Malang Ini Sudah Tak Dihargai Keberadaanya

Masih ingat zaman sekolah di bangku Taman Kanak-Kanak nggak? Saya masih! Banyak sekali yang saya ingat dari tahun itu. Saya masuk TK saat usia saya hampir 4 tahun. Hari pertama, kakek saya harus menggendong di dalam kelas, karena saya nggak mau ditinggal.

Setelah beberapa bulan, akhirnya kakek atau nenek saya tak perlu lagi menunggui di sekolah. Salah satu dari mereka selalu mengantar saya dari rumah, jalan kaki lewat gang-gang yang menyenangkan, sampai sekolah. Setelah bel masuk kelas, mereka pulang.

Sekolah saya adalah TK paling keren. Setidaknya, ini menurut pengamatan seiring saya beranjak remaja sampai dewasa. Di sana saya memperdalam kemampuan saya membaca, yang tadinya sudah diajarkan mama dan papa tiap kami menjumpai tulisan-tulisan besar di jalan.

Tak hanya membaca, menulis, serta mengenal bentuk dan warna saja, di sana saya juga belajar mandiri. Acara makan bersama yang digelar seminggu sekali, membuat saya belajar makan sendiri. Cara memegang sendok-garpu yang benar, dan bagaimana sikap yang baik saat makan, semua diajarkan.

Gunting-tempel serta melipat, adalah pelajaran yang paling menyenangkan. Meronce, mengisi kolase, mencocok, menjahit, dan mewarnai gambar, juga selalu menjadi sesi yang saya tunggu-tunggu tiap minggunya. Begitu juga dengan pelajaran bermain angklung.

Mungkin karena anak kecil pada umumnya suka bermain air, saya pun selalu antusias saat pelajaran berenang. Baju renang saya ada banyak waktu itu. Mulai dari memakai bantuan ban warna-warni, sampai pelampung, semua saya rasakan untuk yang pertama kalinya di sekolah ini.

Di kelas B, saya mulai pergi sekolah sendiri. Diantar tukang becak langganan, saya begitu antusias tiap memasuki gerbang depan sekolah. Langkah kecil saya tentu merasa bahwa berjalan dari gerbang sampai kelas itu lumayan jauh. Tapi saya menikmatinya.

Saya suka sesi Senam Kesegaran Jasmani setiap Jumat pagi. Dan yang lebih menyenangkan lagi, sesi siaran di radio. Bersama teman sekelas dan guru, saya selalu ceria saat menyanyi, membaca puisi, dan mendengarkan dongeng di sana. Kakek dan nenek saya pasti mendengarkan dari rumah.

Kepala sekolah saya Ibu Endang. Waktu kelas A, saya diajar Ibu Tri. Di kelas B, wali kelas saya Ibu Ida. Mereka adalah orang-orang yang tidak akan pernah bisa saya lupakan, sampai kapanpun. Mereka adalah orang-orang yang sangat berjasa mengajarkan saya banyak hal, dari awal.

Ah ya, taman bermain di sekolah saya sangat luas. Berbagai permainan ada di sana. Prosotan, ayunan, jungkat-jungkit, komidi putar, dan masih banyak lagi. Ada kandang burung besar di sana. Ada berbagai patung binatang, dan juga spot-spot indah di dalamnya.

Tapi itu semua akan segera jadi kenangan semata. Apa yang ada di atas tanah itu, sebentar lagi akan rata. Kabarnya, mereka akan membangun hotel di atasnya. Siapapun kamu hai orang yang membangun di situ nantinya, saya sangat kecewa sama kamu! Bagi saya, kamu adalah orang paling bodoh yang tak punya perasaan!

Sekolah, taman rekreasi, sanggar tari, stasiun radio, dan apapun yang menyandang nama Senaputra, yang berdiri di atas tanah itu selama berpuluh-puluh tahun, seharusnya tetap berada di situ! Hanya orang-orang serakah yang tega menghancurkan salah satu icon kota Malang ini.

Siapaun kamu, orang yang berada di belakang penggusuran Senaputra dan pembangunan hotel baru itu, saya sangat membencimu!

Dewi Ratna

1 comment:

  1. saya kenal kebun binatang ya dari senaputra, tahu kolam renang ya dari senaputra, merasakan hiburan rakyat tanpa batas ya dari senaputra.

    sayang ikon ini segera tenggelam tanpa ada pembesar yg peduli. orang kecil hanya bisa membenci dan mengutuk.

    *puk2 org malang teraniaya =))*

    ReplyDelete