Wajah Indonesia Dalam Film 'Lewat Djam Malam'

Atas saran dari DPE, maka saya mengisi Rabu malam kemarin dengan pergi ke bioskop untuk menonton film Lewat Djam Malam. Film yang diproduksi pada tahun 1954 ini meraih penghargaan sebagai Film Terbaik FFI pada tahun 1955. Sekalian bertemu kangen dengan Dian, saya pergi ke XXI Plasa Senayan dan memilih pemutaran pukul 21.25. Karena lapar, kami sempatkan makan fastfood dulu, 20 menit sebelum film dimulai.

Kami masuk studio 6, tepat saat film dimulai. Diawali dengan adengan lari-larian, saya masih belum fokus karena masih berjalan menuju seat. Setelah duduk tenang, baru saya mulai fokus dengan layar. Walau hitam putih, kualitas gambar film yang memang sudah direstorasi ini cukup bagus. Mengingat film ini dibuat 58 tahun yang lalu, tentunya teknologi tak sehebat sekarang.

Oya, saya ingatkan di awal, jika kalian berencana menonton film ini, saya sarankan kalian berhenti membaca sampai di sini saja. Karena saya nggak akan bisa mengerem nafsu bercerita saya yang selalu menggebu-gebu dalam tulisan. Tapi jika kalian tidak akan menonton, maka cerita berikut, sedikit banyak bisa menggantikan adegan demi adegan dalam film yang sempat ditayangkan di Cannes Film Festival di Paris, 17 Mei 2012 lalu.

Tampak seorang wanita dengan dandanan 50an mondar-mandir cemas di dalam rumahnya. Sesekali wanita yang bernama Norma itu menengok ke luar. Sementara sang ayah dan kakak laki-lakinya duduk di ruang makan seperti ikut cemas. Tak lama kemudian, laki-laki yang sedari tadi berlari-larian itu masuk ke dalam rumah tersebut. "Iskandar," ujar Norma penuh kelegaan. Rupanya, Iskandar adalah tunangan Norma yang baru saja turun gunung.

Iskandar, yang pernah menjadi salah satu mahasiswa sebuah universitas di Bandung, ikut turun ke medan perang untuk memperjuangkan kemerdekaan. Selama 5 tahun, Norma dengan setia menanti kembalinya pria kesayangannya ini. Di kota Bandung, Norma yang adalah putri seorang terpandang, tinggal di sebuah rumah mewah dan hidup berkecukupan. Sekembalinya Iskandar dari gunung, ia pun menumpang di rumah Norma.

Terengah-engah Iskandar masuk ke rumah itu. Mengapa ia berlari-lari seperti pencuri di tengah malam begitu? Jam malam. Ya, sebuah perintah dari pemerintah agar sekelompok orang atau masyarakat kembali ke tempat tinggal masing-masing sebelum waktu yang ditentukan. Jam malam diterapkan untuk menjaga keamanan umum, misalnya saat terjadi kerusuhan, atau untuk membatasi gerak-gerik kelompok tertentu.

Keesokan harinya, ayah Norma menyarankan agar Iskandar segera mendapat pekerjaan agar bisa segera mempersunting putrinya itu. Sementara kakak Norma menyarankan agar calon adik iparnya ini melanjutkan sekolah saja, seperti dirinya yang tak kunjung lulus kuliah. Iskandar pun menyetujui usul ayah Norma yang berjanji membantu dia agar bisa diterima bekerja di kantor gubernur. Saya cukup heboh sendiri saat mendengar dialog mereka yang sangat baku.

Sehabis sarapan, pergilah ayah dan calon mantu ini ke kantor gubernur. Setelah sedikit berbincang dengan kepala kantor, tanpa basa-basi panjang, Iskandar pun ditempatkan di bagian umum. See, nepotisme pun sudah ada sejak zaman kemerdekaan Indonesia. Di dalam kantor, Iskandar diberikan pekerjaan yang seharusnya diselesaikan jika ia ingin bekerja di kantor tersebut. Namun sayang, kebiasaannya memegang senapan membuat dia lupa cara memegang pena.

Iskandar kalut dan tak bisa berpikir. Tak satupun dari pekerjaan yang diberikan padanya terselesaikan. Alih-alih bekerja, ia malah menumpahkan tinta pena di sampingnya. Keributan pun terjadi di ruang kerja sederhana tersebut. Dan dengan sadar diri, Iskandar yang sempat memukul salah seorang pegawai kantor itu pun pergi meninggalkan ruangan. Ia yakin bahwa dirinya tak akan mampu bekerja kantoran.

Hari pertamanya di Bandung, ia sudah membuat masalah. Sementara sang kekasih, Norma pergi bersama sang kakak untuk berbelanja keperluan pesta di Braga, Iskandar pergi meninggalkan kantor guberbur dan melenggang menuju tempat kerja Gafar, sahabat seperjuangannya saat di medan perang. Gafar yang lebih dulu kembali ke kota, kini telah menjadi seorang pemborong. Ia membangun gedung sekolah dan perumahan rakyat.

Bercakap sejenak, Iskandar meminta pekerjaan yang sesuai dengan dirinya pada Gafar. Tapi memang tak ada yang bisa dilakukan seorang mantan tentara seperti Iskandar di lokasi proyek pembangunan itu. Iskandar pun lantas mendatangi kawannya yang lain. Mantan atasannya di medan perang, Gunawan yang kini telah memiliki sebuah perusahaan. Sebuah kebetulan Iskandar datang ke kantor itu. Gunawan meminta Iskandar membantunya menyingkirkan saingan bisnisnya.

Dengan iming-iming uang sebesar Rp. 2000,- Iskandar diminta untuk menghabisi pesaing bisnis itu atas nama tegaknya perekonomian Indonesia. Pesaing bisnis yang memang adalah orang asing itu dianggap menjajah perekonomian Indonesia, dan Gunawan memerintahkan Iskandar untuk melakukannya demi revolusi. Iskandar yang memang berjiwa nasionalisme tinggi itu hampir saja terbujuk oleh bualan mantan bos-nya ini.

Kecewa karena ternyata Gunawan meraup kekayaan dengan mengatasnamakan perjuangan, Iskandar pun meninggalkan gedung kantor itu dengan kalut. Melewati sebuah rumah biliar, Iskandar bertemu dengan bawahannya di medan perang, Puja. Hanya Puja yang tidak punya pekerjaan layak seperti dua kawannya yang lain. Sehari-harinya, Puja hanya bermain biliar, membeli lotere, berjudi, dan menjadi centeng sebuah rumah bordil.

Ingin mengungkapkan kekesalan yang sudah ia pendam selama ia kembali ke kota, Puja pun menggiring Iskandar ke rumahnya. Di sana, tinggallah Laila, seorang pelacur yang memimpikan kedamaian sebuah rumah tangga yang tak kunjung datang. Hobinya mengumpulkan guntingan-guntingan gambar peralatan rumah tangga dari majalah bermula sejak ia ditinggalkan oleh suaminya. Ia merasa perlu mengumpulkan gambar-gambar itu untuk contoh jika ada pria yang ingin membelikannya sesuatu.

Mengobrol dengan Puja, akhirnya Iskandar tahu banyak hal soal kecurangan Gunawan yang pernah memerintahkannya untuk membunuh sebuah keluarga pengungsi dari Jakarta. Masih lekat di benak Iskandar, bagaimana ia menghabisi keluarga kecil dengan dua orang anak itu dengan senjata di tangannya. Puja yang menggiring mereka ke ladang, dan memberi komando pada Iskandar untuk menembak keluarga yang dituduh mata-mata kompeni itu.

Kalut, menjelang senja Iskandar kembali ke tempat Gafar bekerja untuk mempertanyakan kebenarannya. Pada awalnyam Gafar tak mau memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan Iskandar. Ia bilang bahwa ISkandar akan sakit hati jika mengetahui cerita sebenarnya. Namun karena Iskandar memaksa, Gafar pun mengatakan bahwa keluarga itu mempunyai harta yang mereka bawa dari Jakarta untuk bertahan hidup di pengungsian. Setelah mereka terbunuh, harta itu jatuh ke tangan Gunawan.

Keserakahan manusia memang bisa timbul saat seseorang silau oleh harta benda yang berkilauan. Begitulah yang terjadi pada Gunawan. Demi berlian dan uang, ia tega memerintahkan Iskandar untuk membunuh suami istri dengan dua anak kecil itu. Iskandar pun naik darah. Ia berjanji akan menghabisi Gunawan dengan tangannya sendiri. Gafar angkat tangan. Ia sendiri sudah tidak mau berhubungan dengan Gunawan sejak ia menolak perintah Gunawan untuk membunuh itu.

Di rumah Norma, pesta yang digelar untuk merayakan kembalinya Iskandar sudah berlangsung. Norma pun gelisah mencari-cari kekasih hatinya ini. Sementara kawan-kawannya yang lain bergembira menikmati pesta yang sungguh-sungguh membuat saya takjub itu, Norma terlihat sedih. Namun tak lama, sang kekasih pun datang. Setelah sempat menikmati sedikit pesta itu, Iskandar masuk ke kamar dan mengambil pistol bekas perjuangannya.

Mendapati kekasihnya kembali hilang, Norma kalang kabut meminta kakaknya mengantar mencari Iskandar. Ke rumah Gafar ia pergi, namun tunangannya itu tidak ada di sana. Namun Gafar memberikan alamat Puja, dan akhirnya Norma pergi ke sana. Sementara itu, Iskandar yang sudah terlebih dahulu menjemput Puja, pergi mendatangi rumah Gunawan. Norma memutuskan untuk menunggu di rumah bordil itu, namun sang kakak mengajaknya untuk segera pulang.

Saat jeep yang ditumpangi Norma pergi, datanglah Iskandar dan Puja berlarian seperti diburu hantu. Ya, sama seperti saat ia menghabisi keluarga kecil itu, begitulah ia menghabisi Gunawan. Setelah memberondong mantan atasannya itu dengan berbagai pertanyaan, Iskandar yang merasa tak puas lantas menodongkan pistol. Peluru di dalamnya terlontar ke luar setelah aba-aba tembak dari Puja, persis seperti pembantaian keluarga tak berdosa atas perintah Gunawan dulu.

Menyadari perbuatan Iskandar, Puja pun kalut dan tak mau lagi berurusan dengan pembunuhan malam itu. Gunawan pun kecewa, karena ternyata Puja yang dikira masih berjiwa pejuang itu pun kini menjadi pengecut. Iskandar pergi meninggalkan rumah itu dan Laila yang sangat bersedih melihat kepergiannya. Laila sangat ingin disayangi oleh lelaki yang baik hati seperti Iskandar. Laila iri pada Norma.

Berlari-lari Iskandar pulang ke rumah Norma. Ia berusaha membaur dalam pesta yang belum juga usai. Suami salah seorang kawan Norma yang polisi, datang ke pesta itu untuk mengabarkan bahwa ia tak bisa ikut bergabung karena telah terjadi pembunuhan. Mendengar hal tersebut, Iskandar ketakutan dan lari lagi, kali ini menuju rumah Gafar. Setelah ia bercerita panjang lebar, ternyata Gafar pun tak bisa membantunya. Kembali ia kecewa karena kawannya ini juga jadi pengecut.

Ia lari dari rumah Gafar saat jam malam. Ia pun tertangkap oleh POlisi Militer. Beruntung bahwa ternyata polisi itu adalah kawannya. Ia digiring ke kantor PM untuk ngobrol sambil minum kopi. Kawannya pun berjanji akan mengantarnya malam itu. Namun saat kawannya menerima telepon, dan kembali menyinggung soal pembunuhan, Iskandar pun lari lagi. Ia lari sekencang-kencangnya. Ia hanya mau pulang ke pelukan Norma yang menjadi satu-satunya orang paling setia.

Di tengah kekecewaannya pada kawan yang menjadi koruptor macam Gunawan; pekerja yang memilih hidup tenang dengan pura-pura tidak tahu macam Gafar; dan juga jagoan yang berkoar-koar saat keadaan tenang, namun ternyata lebih memilih angkat tangan saat terjadi masalah, macam Puja, Iskandar hanya ingat Norma. Hanya gadis itu satu-satunya tujuan dalam hidupnya. Gadis yang telah menantinya dengan setia selama lima tahun, dan tidak pernah berpaling cinta.

Petugas patroli jam malam sedang berkeliling saat Iskandar membuat keributan dengan derap kakinya yang berlari. Mereka pun mengejar Iskandar. Pria itu terus berlari, dan pada alhirnya memaksa para petugas patroli untuk melepaskan tembakan. Rumah Norma sudah dekat. Semua orang di dalam pesta berhambur keluar saat mendengar suara tembakan. Iskandar yang sudah tak kuat lagi menahan sakit pun tergeletak di depan rumah Norma. Di pelukan tunangannya ini ajalnya berakhir.

Gambaran sifat-sifat manusia sungguh lengkap dalam film ini. Begitulah wajah Indonesia yang sebenarnya. Bahkan saat film ini dibuat sepuluh tahun setelah kemerdekaannya, Indonesia sudah kenal yang namanya korupsi, kolusi, dan nepotisme. Tiap-tiap orang berusaha memenuhi kepentingannya sendiri, tanpa lagi memikirkan orang lain yang ada di sekitarnya. Hingga kini pun, begitulah sifat manusia.

Terlepas dari isi ceritanya, saya benar-benar mengagumi vintage party itu. Gaun pesta yang cantik, serta serunya mereka berdansa dan bernyanyi bersama. Begitu rupanya cara remaja tahun 50an bersenang-senang. Saya sempat membayangkan, betapa cantiknya jika film ini berwarna. Balon karet, kertas hiasan, serta gaun-gaun indah itu pasti berpadu meriah dalam warna-warni. Tak hanya itu, tampilan kota Bandung zaman baheula, serta bangunan-bangunan rumahnya sungguh cantik.

Tolong, saya ingin menonton film ini sekali lagi!



Bagi yang belum menonton dan sudah membaca tulisan ini sampai habis, saya sarankan untuk segera mengatur jadwal pergi ke bioskop terdekat yang memutarnya. Kabarnya sih, film ini diputar sangat terbatas. Jadi jangan sampai nggak punya waktu untuk menontonnya. Strongly recomended!


Dewi Ratna

No comments:

Post a Comment