Untuk Morrissey Saya di Sini (2): Morrissey Throwing His Arms Around Jakarta!

Kenapa akhirnya nama Morrissey jadi happening bukan hanya di kalangan orang tua, tapi juga di kalangan anak muda zaman sekarang? Bahkan dalam konsernya yang digelar pada hari Kamis, 10 Mei 2012 di Indonesia, tiket tribun dan festival terjual habis.

Pertanyaan tersebut mungkin bisa dijawab dalam kaitannya dengan film 500 DAYS OF SUMMER yang rilis pada tahun 2009 lalu. Kenapa film 500 DAYS OF SUMMER? Anda bisa mendapatkan jawabannya di sini. Yang jelas, boomingnya Morrissey di kalangan muda-mudi ini sedikit banyak merupakan peran seorang Zooey Deschanel.

Akhirnya hari itu tiba! Hari yang sudah pasti ditunggu-tunggu oleh para penggemar The Smiths dan Morrissey di seluruh Indonesia. Konser Morrissey yang digelar di Tennis Indoor Senayan, Jakarta ini berlangsung cukup meriah. Venue festival yang harga tiketnya berkisar antara Rp700 ribu - Rp800 ribu pun dipenuhi penggemar mantan vokalis The Smiths ini.

Sambil menunggu Moz naik ke atas pentas, penonton yang sudah masuk ke dalam gedung pun disuguhi lantunan tembang-tembang era 70an. Kemudian, ditampilkan juga video musik jadul milik The Sharks, New York Dolls, serta beberapa musisi lain yang juga dari era 70an. Sepertinya, merekalah yang jadi inspirasi bermusik Moz.

Saya sendiri lebih memilih untuk duduk, mengatur detak jantung saya yang rasanya tak karuan. Saya takut tidak bisa memenuhi tugas dari kantor untuk mengirimkan reportase atau hanya sekedar live tweet. Saya takut jika terbawa suasana dan tak lagi peduli untuk apa saya berada di dalam sana, selain fokus menonton, menikmati konser, sambil ikut bernyanyi.

Dimulai tepat pukul 21.00, Moz, sebutan akrabnya, naik ke atas panggung sambil mengucapkan selamat malam dalam bahasa Indonesia. Lagu pertama, How Soon Is Now? pun menjawab rasa penasaran mereka yang bertanya-tanya apakah Moz akan membawakan lagu-lagu The Smiths, dan seisi gedung pun benar-benar riuh ikut bernyanyi.


Video @ Upiel's Youtube

Tanpa opening act, bukan berarti konser ini tidak lengkap. Morrissey justru sangat memuaskan penonton dengan penampilan tunggalnya bersama band-nya. Usianya yang sudah lebih dari setengah abad, yang ditakutkan akan mempengaruhi performanya, ternyata tidak terbukti.

Disusul kemudian dengan lagu kedua dan selanjutnya, yang merupakan lagu Morrissey sendiri, You Have Killed Me, You're The One For Me Fatty, Alma Matters, Black Cloud, serta When Last I Spoke To Carol. Dan pria ini pun kembali membawakan lagu dari band-nya, I Know It's Over. Dan saya masih bisa tenang, meski sudah mulai berdiri dari tempat duduk dan maju ke bibir tribun.

Lagu kesepuluh, First Of The Gang To Die, kemudian semakin menggemparkan seisi gedung yang sedari tadi ikut bernyanyi dan bergoyang sambil mengangkat tangan. Paduan suara penonton sungguh membuat bulu kuduk berdiri. Lebai memang, tapi bohong kalau tidak ada yang menangis karena terpesona penampilan Moz pada malam itu. Suara Moz bahkan tenggelam, kalah, dan hanya terdengar samar.


Video @ Upiel's Youtube

Saya masih sempat berkirim pesan singkat dengan Mas Sammack, saya bilang bahwa saya tidak tahan untuk tidak menumpahkan air mata saya. Rasanya masih tidak percaya bisa berada di dalam gedung itu dan menonton secara langsung konser seorang living legend ini. Sangat menyesal, karena saya terlambat mengenal Moz lebih jauh.

Seperti yang sudah saya ceritakan di seri pertama tulisan Untuk Morrissey Saya di Sini, saya memang baru mendalami penyanyi asal Inggris ini dalam tiga tahun belakangan. Itu pun bukan karena seorang Zooey Deschanel, seperti yang saya sebut-sebut di atas tadi. Ya, bukan dari film 500 DAYS OF SUMMER atau The Smith saya kemudian suka pada Om yang satu ini, tapi justru dari Zee Avi.

Kembali ke konser spektakuler ini, dari The Smiths, Moz melantunkan lagu Meat Is Murder. Saya merasa seperti rela jatuh ke bawah situ, ke venue festival, dan lebih dekat dengan panggung, namun ternyata saya  tidak punya nyali. Kemudian dilanjut dengan lagunya Let Me Kiss You, dan tentu saja I'm Throwing My Arms Around Paris, sebelum akhirnya lagu Last Night I Dreamt That Somebody Loved Me dilantunkan.

Setelah Ouija Board, disusul kemudian dengan lagu To Give (The Reason I Live) yang di-cover dari Frankie Valli, penyanyi kondang dari Amerika yang merupakan frontman dari The Four Seasons yang tenar pada era 60an. Moz kemudian melantunkan I Will See You In Far-Off Places sebagai lagu ke-17. Dan Maria sempat bilang supaya saya lompat saja dari atas, dia bersedia menerima saya dari bawah.

Saya tak jadi melompat saat di penghujung acara, pada lagu ke-18, Speedway, Moz dan pemain band-nya sempat masuk ke balik panggung tanpa mengucapkan salam perpisahan. Penonton yang masih penasaran pun berteriak, "We want more! We want more!" Dan lalu, ia muncul dari balik panggung dengan kemeja ungu. Sebenarnya saya sudah menduga, tapi entah kenapa, rasanya masih seperti kejutan saat ia keluar lagi.

Satu lagu terakhir, Still Ill pun dimainkan. Dan di akhir penampilannya, ia berkali-kali mengucapkan terima kasih pada penonton. Penonton pun puas, dan berterima kasih kembali pada Morrissey. Dan selepas menghilangnya Moz ke balik panggung, penonton masih berdiri di sana, mengatur nafas seusai pesta.

Tampak juga di sana grup band Changcuters, Ringgo Agus Rahman, Vincent, dan Ronal Surapradja yang juga memilih untuk turun ke lantai dansa di bagian festival. Mereka berbaur dengan beribu-ribu penonton lain, ikut bernyanyi dan bergoyang seirama lantunan lagu Morrissey.

Dengan suara beningnya, pria ini berhasil menghipnotis penonton dengan 19 lagu, dalam waktu satu setengah jam. Ia juga sempat berkomunikasi dengan penonton, mengucapkan kata 'aku cinta kamu', meladeni pelukan beberapa penonton yang nekat loncat ke atas panggung, serta melempar kemejanya ke penonton. Kenapa bukan saya yang berada di situ?! :))

Setelah kemeja biru itu jatuh ke tangan penonton, Moz sempat bertelanjang dada beberapa saat, dan membuat histeris isi gedung, sebelum akhirnya berganti pakaian menjadi kemeja warna hitam. Selain kemeja Moz, sang gitaris juga sempat melempar pick gitar, yang akhirnya jatuh ke tangan personil Changcuters.




Puas rasanya berada dalam pesta Morrissey malam itu! Sangat puas! Meski saya dan beberapa kawan sudah sejak pukul 15.00 WIB berada di sekitar lokasi konser, dan kami jauh-jauh datang dari Malang dengan usaha keras mendapat tiket kereta dan bis, namun segalanya terbayar dengan penampilan memukau dari Steven Patrick Morrissey. Thanks Moz, for throwing your arms around Jakarta!

ADA APA SAJA PADA HARI H KONSER MORRISSEY?
BUAT YANG NGGAK SEMPAT NONTON, MAU TAHU SUASANA DI SANA?

Mission completed! ;)














To Mas Doni: Makasih ya Heineken dan Kebab 30ribuan-nya ;)
To Topan: Makasih ya udah tiba-tiba nongol di tengah kepanikan saya yang sendirian dan nggak tau harus ngapain di samping loket tiket.
To Maria: Kalau kakek-kakek ini datang lagi, kamu harus berdiri paling depan, siapa tahu kecipratan keringetnya dikit :)) Dan kamu harus pake sepatu yang nggak bakalan terbang saat kamu kalap!

Be ready for Radiohead, kids?! *harap-harap cemas*

Written by me, taken from here.

Dewi Ratna

2 comments:

  1. nice story.. i was there too

    ReplyDelete
  2. salahkan emma watson juga, the perks of being wallflower.

    ReplyDelete