Untuk Morrissey Saya di Sini (1)


@Foto: loveindonesia.com
Perjalanan saya ke Jakarta dengan kereta api Gajayana kali ini adalah perjalanan 'liputan paksa' konser Morrissey yang digelar pada tanggal 10 Mei 2012. Kenapa 'liputan paksa'? Sesungguhnya, saya benar-benar ingin menonton secara langsung konser Om Moz ini. Namun sayang, harga tiket yang tak terjangkau kantong pun memaksa saya untuk pasrah. Dan beruntung, setelah saya berulang kali mengganggu Kania dengan pertanyaan seputar peliputan Om Moz, akhirnya saya dapat ID Pers mewakili kantor saya untuk berada di dalam Tennis Indoor Senayan pada malam itu!

Jujur saja, saya baru mengenal Morrissey lebih jauh, dalam jangka waktu 3 tahun ke belakang. Waktu itu saya sedang menggilai penyanyi wanita muda berbakat, Zee Avi. Banyak lagu dari Zee yang saya suka, termasuk First Of The Gang To Die, yang kala itu baru saya tahu kalau ternyata milik Om Moz. Lalu, dengan segera, saya mencari tahu siapa Om Moz ini, dan apa saja yang berhubungan dengan dia. Tak lupa juga, saya mendengarkan beberapa lagunya, selain First Of The Gang To Die tentunya. Dan rupanya, pria setengah abad ini cukup menarik untuk disimak.

Tahun 1982, saya saja belum lahir pada masa itu, Om Moz sudah menjadi vokalis dari grup band The Smiths yang hanya berumur 5 tahun. Selepas itu, sejak tahun 1987, dia akhirnya bersolo-karir. Disebutkan di berbagai media bahwa karya musik Morrissey membawa dampak positif bagi pergerakan musik di berbagai negara. Majalah musik NME bahkan menyebut ia sebagai salah satu seniman yang paling berpengaruh sepanjang masa. Di Indonesia sendiri, banyak sekali juga band yang terinspirasi dari karya musik The Smiths ataupun Morrissey.

Yang unik, yang juga perlu diketahui jika kamu penggemar pria yang satu ini, Om Moz adalah seorang vegetarian yang konsisten. Dalam konsernya di Indonesia ini, yang paling utama, ia meminta tak ada satu pun yang menjual makanan dengan bahan dasar daging di sekitarnya. Tak hanya itu, ia juga meminta konsernya bebas dari asap rokok. Tak hanya untuk penonton, hal tersebut berlaku juga untuk panitia. LO sampai sekuriti yang mendampinginya pun juga harus ikut menjadi vegetarian sesaat. Ya, dia memang sangat menghargai hak binatang untuk hidup.

Perjalanan karir seseorang tentunya tak selalu mulus. Perjalanan Morrissey bersolo-karir pun sempat hiatus sejak tahun 1998 hingga 2003. Namun kemudian ia kembali pada tahun 2004 dengan albumnya yang ketujuh You Are The Quarry. Bicara soal album dan lagu, saya jadi teringat bahwa lirik-lirik lagunya, disinyalir, kebanyakan berisi tentang gay. Tak heran jika orientasi seksual Morrissey pun diduga mengarah ke sana. Meski ia sendiri tidak pernah manjawab secara lugas dan cenderung ambigu, namun berita ini sudah menjadi rahasia publik.

Tak hanya bergelut dengan musik semata, Morrissey juga sempat menulis sebuah otobiografi setebal 660 halaman yang kemudian ditawarkan pada penerbit. Kemudian pada bulan Juli 2011, NME mengatakan bahwa buku tersebut akan dirilis pada bulan Desember 2012. Morrissey sendiri ingin buku tersebut diterbitkan oleh Penguin Books, namun ternyata Faber and Faber pun juga tertarik untuk menerbitkan buku tersebut. Belum bisa dipastikan soal buku ini, tapi saya yakin bahwa buku tersebut bakal sold out dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa di dunia nantinya.

Kembali soal konsernya. Usianya yang sudah tak muda lagi, tentunya akan sangat mempengaruhi staminanya. Bukan soal performanya di atas panggung bakal kurang greget, yang ditakutkan adalah jika terulang lagi kejadian di tahun 2009 di mana saat Om Moz ini sedang manggung di Inggris, pada lagu ketiga dia pingsan, dan konser pun selesai. Waktu itu, diagnosa dokter, ia mengalami sesak nafas. Dan hari ini, pada penguasa semesta yang selalu mendukung, saya meminta kekuatan untuk Om Moz, agar dua hari lagi ia bisa tampil maksimal dan dalam keadaan sehat.

Selain berharap kesehatan untuknya, saya juga berharap agar jangan sampai konsernya kali ini batal. Kenapa tiba-tiba takut batal? Karena Om Moz ternyata telah melayangkan surat atas nama Masyarakat untuk Perlakuan Etis terhadap Hewan (People for the Ethical Treatment of Animals - PETA) Asia kepada Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan. Surat tersebut berisi permintaan untuk kementerian agar segera menutup Kebun Binatang Surabaya, dan memindahkan binatang yang masih bertahan hidup ke fasilitas di mana mereka akan mendapatkan perhatian yang layak.

Kalau misalkan sampai tanggal 10 nanti permintaannya belum dipenuhi, saya berharap supaya hal ini bukan menjadi alasannya untuk kemudian membatalkan konser, yang tentunya bakal banyak ditonton oleh penggemarnya di seluruh Indonesia.

Well.. Be ready for the concert, Na? Yes i am!

PS: Me wanna thanks to Kania, Mbak Rere, @bazzeveritas @Boolixious and @MaePhoenix for sending me to do this hollyjob ;)

Dewi Ratna

No comments:

Post a Comment