Tour de Tumpang: Kenalan Dengan Candi Jago

Rasanya sudah lama saya nggak traveling, nggak mendekat pada alam, nggak bisa menikmati semesta. Sejak sibuk kerja, waktu dan pikiran saya jadi terampas hanya di situ. Sampai saat secara tiba-tiba tercetus ide untuk 'Tour de Tumpang' bersama keluarga Kedai Sinau.

Jalan-jalan ke Tumpang sebenarnya bukan mendekatkan diri pada alam dan menikmati semesta. Di sana, kami mampir ke kebun milik Papi Kedai di Tulus Besar, dan berkunjung ke Danyangan, sumber air yang dilindungi sebuah pohon besar yang dipercaya mengandung 'sesuatu'.



Menurut kakek yang kami temui di kebun, biasanya di sini digelar pertunjukan kuda lumping dan persembahan-persembahan untuk menghormati pohon besar tersebut. Menurut saya, ritual-ritual seperti itu adalah simbol dari rasa terima kasih kita pada semesta, selain dengan menjaga baik-baik apa yang sudah semesta beri untuk kita.

Dari kebun, kami lalu melanjutkan perjalanan ke Candi Jago, masih di daerah sekitar rumah Papi dan Mami kedai, sangat dekat malah. Candi Jago ini letaknya di tengah-tengah pemukiman penduduk. Bangunannya pun sangat dekat dengan rumah penduduk. Candi Jago ini adalah...


Candi yang secara administratif terletak di Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Propinsi Jawa Timur. Candi ini diperkirakan sama dengan Jajagu dalam kitab Negarakertagama, sebagai tempat pendharmaan Raja Wisnuwardhana dari kerajaan Singosari yang wafat pada tahun 1268M.

Candi ini berdenah empat persegi panjang yang menghadap ke Barat. Bangunannya didirikan di atas batur berteras tiga yang semakin kecil ke atas, sehingga di masing-masing teras terdapat selasar untuk mengelilingi candi. Teras ketiga agak bergeser ke belakang, merupakan teras tersuci. Susunan bangunannya yang berteras-teras dan bertitik sakral di belakang, mengingatkan pada bangunan 'punden berundak' zaman Megalithikum, sebagai tempat pemujaan arwah leluhur.

Sesuai dengan agama Wisnuwardhana, yaitu Siwa - Budha, di Candi Jago dipahatkan relief cerita Siwaistis dan Budhistis. Relief Budhistis yang dipahatkan adalah relief cerita Tantri: Pancatantra dan Kunjarakarna. Sedangkan relief Hinduistis yaitu relief cerita Partayajna dan Arjunawiwaha, serta relief tentang Khrisna.



Relief cerita Tantri dipahatkan pada bingkai atas teras pertama, berisi cerita-cerita binatang. Dilanjutkan relief Kunjarakarna, bersambung ke bingkai bawah teras kedua, menceritakan perjalanan Kunjarakarna, murid Budha Wairocana ke neraka tempat penyiksaan sahabatnya, Purnawijaya. Setelah kembali ke dunia, mengajak Purnawijaya bekajar agama Budha, sehingga dosa-dosanya diampuni. Mulai sudut tenggara sampai utara terdapat relief yang belum diketahui jalan ceritanya.

Sedangkan relief Partayajna dipapatkan pada tubuh teras II, berisi adegan Pandawa kalah bermain dadu dan diusir ke hutan selama 15 tahun. Lalu Arjuna memisahkan diri sampai Gunung Indrakila, relief Arjunawiwaha dipahatkan pada bingkai bawah teras III, merupakan kelanjutan cerita Partayajna, mulai dari adegan Arjuna bertapa digoda bidadari, sampai Arjuna memanah babi hutan bersama Dewa Siwa yang menyamar sebagai pemburu. Akhirnya Arjuna diminta untuk membunuh Niwatakawaca yang mengganggu khayangan, sampai Arjuna kawin dengan Batari Supraba.

Di bilik candi, tampaknya dulu pernah ada arca Budha Amoghapasa dan empat pengawalnya, yaitu Sudhanakuma, Cyamatara, Hayagriwa, dan Bhrekuti. Nama-nama itu dipahatkan dalam huruf Nagari pada masing-masing stellannya. Arca lain yang ditemukan di relung dan atap candi yaitu arca Dyani Budha Aksobya dan Ratnasambhawa, serta arca cakti/istri Dyani Budha, yaitu Locana dan Pandurawasini. Di halaman candi pernah ditemukan arca Bhairawa, salah satu aspek Dewa Siwa.




Maka berdasarkan relief, cerita, dan arca yang ditemukan, candi ini berlatar belakang agama Hindu - Budha.
Demikian seperti yang saya baca di sebuah papan di halaman Candi Jago. Sayangnya, waktu itu saya bingung harus mengambil gambar dari mana. Alhasil, jeprat-jepret menggunakan Galaxy Tab Mami Kedai pun kurang begitu bermakna. Berharap suatu saat nanti bisa ke sana lagi dan mengambil banyak gambar yang bermanfaat untuk pengetahuan kita semua.

Matahari begitu terik siang itu, saya dan Mami memilih pulang berjalan kaki sambil berpayung, sementara yang lain naik motor. Lalu kami pun kembali ke kota, ke Malang yang semakin padat dengan bangunan, dan semakin tidak bersahabat bagi kami para pemuja semesta.

Selamat kembali bekerja hai pekerja!!

Dewi Ratna

1 comment: