Sinta dan Burung Kertas

Bandara Soekarno Hatta, 16 Mei 2011, setelah subuh, dingin...

Saya tiba di bandara dua jam lebih awal dari jadwal keberangkatan pesawat yang saya tumpangi. Suasana lumayan lengang pagi ini, loket check in juga belum dibuka. Saya harus menunggu sekitar 30 menit di depan loket sebelum akhirnya jadi penumpang pertama yang check in pagi itu. Setelah membayar airport tax, saya langsung menuju ruang tunggu C1 yang belum dibuka. Saya duduk di kursi yang disediakan di sepanjang lorong menuju ruang tunggu.

Ada dua buku di dalam plastik biru yang dimasukkan Sinta ke dalam tas kain warna hitam yang juga miliknya. Saya mengambil salahsatu dari buku itu. Untuk Dandy, tertulis di situ. Saya menutupnya kembali, lalu mengambil buku yang lain. Saya baru sempat membuka buku Berteman Dengan Kematian yang diberikan oleh penulisnya, Sinta Ridwan, pagi ini.

Sinta membubuhkan pesan singkat di salahsatu halaman buku tersebut. Dan entah kenapa, darah saya berdesir cepat saat membacanya. Tiba-tiba saja saya rasakan mata saya panas dan mulai basah. Saya memang baru beberapa kali bertemu dengan Sinta, tapi rasanya seperti sudah lama berteman dekat. Dan saya benar-benar menitikkan air mata pagi ini.


Hei, Sinta, nanti saya pasti datang lagi ke 'rumah bukit', yang kamu sebut 'rumah senja' itu, dan kita akan melanjutkan proyek seribu burung kertas kita yang tertunda.

Hugs and loves,
morningdew

Dewi Ratna

No comments:

Post a Comment