Pulau Gusung

Pulau Gusung


Pulau yang kami -saya, Faisal, Isur, dan Sukma- tempuh dalam waktu 30 menit dengan menggunakan kapal ketinting. Dan, bau asin lah yang pertama kali tercium saat kami menginjakkan kaki di jembatan kayu tempat kapal bersandar. Tanahnya penuh cangkang kerang-kerang kecil. Hanya ada rumah dan pohon kelapa rendah di atas tanah itu. Menurut keterangan warga, jumlah kepala keluarga di sana mencapai 80, yang berarti: ada kurang lebih 80 bangunan rumah juga di sana. Kami berjalan menuju satu-satunya Sekolah Dasar di pulau itu, SDN 011 Bontang. Ya, Pulau Gusung masih termasuk bagian dari kota Bontang.
Tempat di mana kapal yang kami tumpangi bersandar


Sepanjang jalan dari sandaran kapal sampai ke sekolah itu sungguh lengang. Sepertinya penduduk sekitar sedang fokus di gedung sekolah yang hanya memiliki 9 ruang dan 11 guru tersebut. Ada apa di gedung sekolah itu? Selain 57 orang murid dari kelas 1 sampai kelas 6, terdapat beberapa remaja yang juga belajar di gedung itu. Remaja? Sekolah Dasar? Oh, bukan. Remaja-remaja itu bukan termasuk bagian dari siswa SDN 011. Mereka adalah remaja-remaja putus sekolah yang masih ingin menambah wawasan dengan mengikuti program paket.

Menurut bapak Ismail, salahseorang guru yang merangkap sebagai bendahara di sana, memang di Pulau Gusung banyak anak putus sekolah. Kebanyakan dari mereka hanya mengenyam pendidikan hingga bangku kelas 6 SD saja. Bahkan ada beberapa yang terpaksa putus sekolah sebelum lulus SD karena harus membantu orang tua mereka melaut. Sedangkan bagi mereka yang berasal dari keluarga mampu, dapat melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama yang berada di Kota Bontang, yang harus ditempuh dengan kapal selama 30 menit. Mengapa hanya mereka yang mampu? Karena untuk menyeberang dengan menggunakan kapal saja membutuhkan biaya yang tidak sedikit setiap harinya.

Remaja di pulau itu tidak terlalu banyak. Kurang lebih ada 30 pemuda dan 9 pemudi yang selalu mengisi malam minggu di teras rumah dengan berkumpul, bermain gitar atau mendengarkan lagu. Tidak ada listrik di sana. Kalau pun ada, itu hanya milik beberapa orang saja. Listrik mereka berasal dari genset atau panel surya.
Beberapa rumah punya panel surya


Selain terdapat satu-satunya PAUD, satu-satunya SD, di pulau itu juga terdapat satu-satunya tempat ibadah: masjid, yang berarti 100% penduduk Pulau Gusung adalah muslim.
Satu-satunya tempat ibadah yang ada


Mata pencaharian masyarakat rata-rata adalah sebagai nelayan dan petani rumput laut. Ikan hasil tangkapan mereka itu tidak dapat dijual begitu saja. Ada distributor yang nantinya akan menjual ikan-ikan tersebut di kota. Jika hasil tangkapan lebih, maka mereka akan memasaknya sendiri. Sedangkan untuk rumput laut, hampir di setiap tanah yang lapang terdapat rumput laut yang sedang dijemur.
Menjemur rumput laut

Beberapa rumah membuka toko kelontong yang menjual kebutuhan rumah sehari-hari. Mereka juga menjual minuman dingin. Tidak mungkin mereka memiliki kulkas, karena genset tidak akan mampu menyalakan kulkas seharian untuk membuat es batu, apalagi panel surya yang hanya menerima listrik yang voltasenya 110. Lalu, dari mana mereka mendapatkan es batu itu? Ternyata mereka harus menyeberang ke Guntung untuk membeli es-es itu.
Salahsatu rumah yang menjual minuman dingin

Pulau Gusung sangat tenang. Kalaupun ada keramaian, itu pasti berasal dari anak-anak kecil yang sedang bermain sepulang sekolah. Mereka berkumpul di bangunan kosong yang terletak di ujung pulau. Bangunan itu sepertinya difungsikan semacam balai desa. Mereka bermain bola, kejar-kejaran, cina boy, dan ada pula yang main pukul-pukulan.
Bermain sepulang sekolah

Panas. Di pulau itu sungguh panas, terik dan gerah. Karenanya saya memilih untuk duduk di bagian belakang balai desa sambil memandangi birumya langit dan tenangnya air laut yang masih bening.
Memandang alam dari atas Gusung

Ah, suatu saat saya harus kembali ke Pulau Gusung dan berbagi sukacita dengan bocah-bocah Gusung, dan si Gajah.


Sayonara, Gusung

All picture captured by Morningdew

Dewi Ratna

1 comment: