Drunken Monster

*BUKU* 

Lagi-lagi saya telat. Setelah kemarin saya telat nonton film Serigala Terakhir, sekarang saya telat baca buku Drunken Monster. Telat banget.

Hari Jumat, 11 Februari, sore itu saya berkunjung ke toko buku (yang mungkin) satu-satunya di Bontang ini, toko buku Ensiklopedi namanya. Letaknya dekat kantor. Saya dan Faisal jalan kaki dari kantor ke sana. Awalnya kami hanya ingin lihat-lihat. Tapi, seperti kebiasaan saya kalau sudah masuk toko buku dan ngelirik buku yang sreg di hati, main comot aja dah.

Empat puluh ribu rupiah buat dapetin buku itu. Malam sebelumnya, seperti biasa juga, saya malakin bos-bos di kantor. Pak Imed selalu ngasih lima puluh ribu rupiah, tidak pernah kurang atau lebih. Itu duit sisa tiga puluh ribu karena sudah dipakai makan bareng Adi siangnya. Jadi sepuluh ribunya saya malakin Faisal (ahehehe :p).

Enough for the blablablarrr. Sekarang waktunya saya bercerita tentang bagaimana buku itu sangat membantu saya untuk sejenak mengalihkan pikiran dari kerinduan saya pada kekasih. Ya, biasanya saya menghabiskan dini hari sampai subuh untuk telponan sama dia. Tapi sejak 10 Februari kemarin, dia sedang mengemban tugas negara yang sangat penting untuk hajat hidup orang banyak (eh.. yang ini kidding loh! :D).

Pertama membaca ringkasan di cover belakang, saya pikir saya bakal dapet cerita-cerita serius diselingi komedi tentang negara kita yang nggak beres. Kok? Iya. Habisnya, Pidi Baiq membahas-bahas soal SBY di kutipan itu. Dan Prof. Dr. Bambang Sugihato - guru besar filsafat di Unpar dan ITB, menuliskan: Ini buku berbahaya! "Buku in iadalah perayaan ide, karnaval anarki wacana. Semacam jazz yang improvisasi kecerdasannya begitu nakal dan semena-mena. Tidak disarankan bagi para intelektual yang arif dan bijaksana," begitu tulis beliau dalam pengantar.

Saya mulai membaca lembar demi lembar buku itu. Bahasanya aneh, tapi asik dibaca. Saya mulai tertawa kecil. Tertawa ditahan. Sudah dini hari waktu itu, sekitar pukul tiga (WITA) pagi. Saya baca buku ini selepas nonton Serigala Terakhir. Semakin ke belakang, semakin nggak bisa nahan ketawa. Buku ini benar-benar sudah bikin saya segar. Sudah waktunya tidur seharusnya, tapi saya malah melek dan tertawa-tawa sendiri di kamar. Cerita-cerita tentang keseharian Om Pidi ini benar-benar mengocok perut. Mungkin karena saya membaca sambil mebayangkan adegan per adegan yang diceritakan di dalamnya, ya? Cerita-cerita nggak masuk di akal ini sangat baik dibaca orang yang lagi penat hati dan pikiran.

Ah, Om Pidi Baiq, makasih banget dah pokoknya. Saya jadi ngerasa fresh banget setelah menyelesaikan halaman terakhir buku ini. Saya tertawa lepas-lepas. Langit di luar sana sudah terang, sudah pagi. Saya membuka jendela kamar, menghirup pagi dalam-dalam, dan bilang pada dewa ubur-ubur: Oh, Dewa, saya harus bisa dapat seri lain dari Catatan Harian Pidi Baiq! Amin.

Dewi Ratna

No comments:

Post a Comment