Serigala Terakhir

 *FILM*

Saya tau, sudah terlambat banget kalau saya baru nonton film ini sekarang. Kemarin-kemarin memang sempet pengen banget nonton ini film, secara garapannya Upi dan bintangnya Vino, pasangan ini adalah favorit saya, loh ^^v

Nah, kenapa saya nggak juga nonton ini film? Ini lebih karena nggak ada duit buat ke bioskop; nggak bisa nonton DVD-nya: secara, di rumah nggak ada DVD player, apalagi komputer; dan yang paling penting adalah: nggak ada usaha buat memperjuangkan gimana supaya saya bisa nonton film ini apapun caranya.

Semalam, kebetulan saya lagi bongkar-bongkar notebook Faisal, eh nemu aja ini film. Rupanya si Isal juga baru donlot. Setau saya sih, kemarin-kemarin belum ada ini film di folder itu. Jadi lah saya mengisi dini hari yang sepi tanpa kekasih, dengan nonton Serigala Terakhir.

Wow. Oke juga ni film. Saya suka tempat-tempatnya, pemain-pemainnya, warnanya, juga ceritanya. Saya suka bagaimana Upi menggambarkan kehidupan pemuda kampung yang liar dan penuh kebebasan, seolah-olah (saya harap suatu saat jadi kenyataan :p hehehe..) di negara ini nggak ada itu yang namanya peraturan. Liar, bebas, penuh semangat, dan, ah... pokoknya nonton ni film jadi ikut ngos-ngosan dah.

Persahabatan digambarkan menjadi persaudaraan. Memang benar demikian adanya seperti yang saya rasakan di kehidupan nyata: sahabat lebih bisa jadi saudara, dan saudara lebih berpotensi jadi musuh (ah.. curcol!). Dan persaudaraan itu begitu merasuk dalam hati, tubuh, dan darah (lebai), sampai-sampai Jarot (Vino Bastian) merelakan dirinya dipenjara lantaran membunuh musuh mereka, untuk melindungi Ale (Fathir Muchtar) yang hampir terbunuh.

Tapi ya... namanya juga manusia, ya. Ada sisi berani dan ada sisi pengecut dalam dirinya. Entah apa alasannya, sehingga empat sahabat Jarot, termasuk Ale, sampai nggak pernah mengunjungi selama dia dipenjara. Oh.. poor Jarot! Di sini ada kejanggalan yang membuat saya jadi bertanya-tanya. Mohon dibantu menjawab, apabila ada yang tau jawabannya. Begini: ngapain coba Jarot duduk di ruang besuk tahanan, sendirian, ngeliatin tahanan lain yang lagi dibesuk teman-teman atau pacar mereka? Yang saya pengen tau, apakah ruang besuk itu bukan khusus untuk orang tahanan yang dibesuk aja ya? Maap, saya bener-bener nggak tau ini sih.

Dihasut Fatir (Reza Pahlevi), Jarot jadi dendam sama empat sahabatnya yang menurut dia sudah bukan sahabat, apalagi saudara. Kenapa begitu? Jarot rupanya kecewa, karena selama dia dipenjara, nggak ada seorangpun yang satang berkunjung. Nah, karena dendam itu tadi lah akhirnya Jarot memutuskan untuk bergabung dengan kelompok Naga Hitam, yang jelas-jelas adalah musuh bebuyutan pemuda-pemuda kampungnya.

Begitu banyak pertumpahan darah dalam film ini. Orang-orang terdekat, menjadi korban karena dendam yang berlarut-larut dan nggak kunjung diselesaikan. Satu per satu sanak saudara teraniaya, bahkan mati: bunuh diri dan terbunuh, termasuk mereka ber-lima. Jarot dan Ale adalah dua terakhir yang bertahan. Namun mereka mati juga saat sedang mengusahakan perdamaian.

Namun kematian mereka ternyata nggak juga menyelesaikan masalah. Dendam antara dua kubu itu masih akan terus berlanjut sampai entah generasi keberapa.
"Di dunia ini akan selalu ada kebaikan demikian juga kejahatan. Yang baik belum tentu menang dan yang jahat belum tentu kalah. Kita adalah serigala untuk diri kita sendiri. Selalu ada dendam yang harus dibalas, dan darah yang harus dibayar. Perang tidak akan pernah selesai"
Kalo kata Konfusius itu kira-kira begini: Jika kamu membalas luka dengan kebaikan, lalu dengan apa kamu membalas kebaikan? Kamu seharusnya membayar sebuah luka dengan keadilan, dan kebaikan dengan kebaikan.

Sekitar pukul 3 (WITA) dini hari, film ini baru kelar saya tonton. Tapi entah mengapa, saya belum juga mengantuk. Mungkin ini adalah efek rindu kekasih, ya? (curcol lagi!)

Dewi Ratna

No comments:

Post a Comment